GOD is our ANSWER
Sabtu, 09 Mei 2026
Metode mengajar
Kamis, 12 September 2024
Pemahaman "Penyunat-penyunat" dalam filipi 3:2
BAB
I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang Masalah
Surat
Paulus kepada Jemaat di Filipi (disingkat Surat Filipi) adalah salah satu kitab
dalam Alkitab Kristen bagian Perjanjian Baru yang merupakan surat kiriman Rasul
Paulus untuk jemaat Kristen yang ada di kota Filipi. Surat ini dikelompokkan
sebagai surat-surat dari penjara bersama-sama dengan surat Paulus kepada jemaat
di Efesus, Kolose, dan Filemon. Bagian
pengantarnya menyebutkan bahwa Paulus dibantu oleh rekan sekerjanya yaitu
Timotius dalam pengiriman surat kepada jemaat Filipi. [1]
Filipi
(Yunani: Φίλιπποι - PHILIPPOI, harf: pecinta kuda) adalah kota di timur laut
Yunani yang diberi nama menurut Filipus II dari Makedonia. Kota ini dikukuhkan
kembali oleh Markus Antonius sebagai perkampungan veteran tentara Roma yang
berjaya (41 sM), dan diperluas dengan perkampungan tambahan pada 31 sM den dikelola
sebagai kotapraja Romawi.[2]
Apakah
kauingat kota Filipi dan Efesus dalam Cerita 110? Paulus membantu mendirikan
sidang Kristen di kota-kota itu. Sekarang, pada waktu di penjara, Paulus
menulis surat kepada orang-orang Kristen di sana. Surat-surat itu ada dalam
Alkitab, dan disebut dengan nama Efesus dan Filipi. Kini Paulus mengatakan
kepada Timotius apa yang akan ditulis kepada rekan-rekan Kristen .[3]
Lima
ciri utama menandai surat ini. Sifatnya sangat pribadi dan penuh kasih sayang,
serta mencerminkan hubungan akrab Paulus dan orang percaya di Filipi. Sangat memusatkan perhatian kepada Kristus,
serta mencerminkan hubungan dekat Paulus dengan Kristus. Memberikan salah satu
pernyataan yang paling mendalam mengenai Kristologi dalam Alkitab. Merupakan terutama suatu "surat sukacita"
PB. Menyajikan standar kehidupan Kristen yang sangat kuat, termasuk hidup
dengan rendah hati dan sebagai seorang hamba, berusaha dengan sungguh-sungguh
untuk mencapai tujuan, bersukacita selalu di dalam Tuhan, mengalami kebebasan
dari kecemasan, merasa senang dalam segala keadaan, dan melakukan segala hal
karena kasih karunia Kristus yang memberi kekuatan.[4]
Kemudian
timbul sebuah permasalahan yang dihadapi penulis, mengenai Filipi 3:2, ayat itu
berbunyi “hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap
pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu.
“ Yang menjadi ketertarikan penulis adalah pada kata “penyunat-penyunat” yang
maknanya tidak dapat dimengerti secara langsung. Apabila dicari dalam kamus
besar bahasa Indonesia maka kata “penyunatpenyunat” tidak dapat ditemukan.[5]
Kemungkinan ini adalah sebuah kata yang merupakan frasa yang merupakan bagian
kalimat yang terbentuk dari dua kata atau lebih yang
hanya menduduki satu fungsi atau jabatan.[6]
Identifikasi
Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka penulis mengidentifikasi
beberapa permasalahan yaitu:
1.
Apa
makna kata “Penyunat-penyunat” dalam Filipi 3:2?
2.
Apakah
makna Teologi kata “Penyunat-penyunat” dalam Filipi 3:2?
3.
Apakah
aplikasi yang dapat diambil dari kata “Penyunat-penyunat” dalam Filipi 3:2?
Tujuan Penelitian
Dalam
penulisan makalah ini, penulis mempunyai beberapa tujuan yang ingin didapatkan
dari penelitian ini.
1.
Mencari
tahu makna kata “Penyunat-penyunat” dalam Filipi 3:2.
2.
Mencari
tahu makna Teologi kata “Penyunat-penyunat” dalam Filipi 3:2.
3.
Mencari
tahu aplikasi yang dapat diambil dari kata “Penyunat-penyunat” dalam Filipi 3:2.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kata “Penyunat-penyunat” Dalam Bahasa Yunani
Dalam bahasa Yunani, ayat Filipi 3:2 adalah “Βλέπετε
τοὺς κύνας, βλέπετε τοὺς κακοὺς ἐργάτας, βλέπετε τὴν κατατομήν” apabila dibaca
dalam latin, “Blepete tous kunas, blepete tous kakous ergatas, blepete tēn katatomēn.” Dan dalam bahasa
aslinya “Penyunat-penyunat adalah “katatomēn“
yang di terjemahkan oleh Alkitab Terjemahan baru sebagai “penyunat-penyunat.”
Apabila kata “katatomēn”
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris adalah: “The False Circumcision.” Demikian adalah terjemahan dari kata “katatomēn” yang hanya memiliki satu arti
dalam bahasa Inggris yaitu “The False
Circumcision” atau apabila diterjemahkan ke dalam
bahasa Indonesia adalah “Sunat Palsu.”
Terjemahan Alkitab lain
Seperti
ayat lainnya, ayat Filipi 3:2 tentunya memiliki banyak terjemahan yang dapat
menolong penulis, dalam mendapatkan tujuan dari penulisan makalah, diantaranya:
1.
New
International Version “Watch out for those dogs, those evildoers, those mutilators
of the flesh.”
2.
New
Living Translation “Watch out for those dogs, those people who do evil, those mutilators
who say you must be circumcised to be saved.”
3.
English
Standard Version “Look out for the dogs, look out for the evildoers, look out
for those who mutilate the flesh.”
4.
King
James Bible “Beware of dogs, beware of evil workers, beware of the concision.”
5.
International
Standard Version “Beware of the dogs! Beware of the evil workers! Beware of the
mutilators!”
6.
Aramaic
Bible in Plain English “Beware of dogs; beware of evildoers; beware of the circumcisers.”
7.
GOD'S
WORD® Translation “Beware of dogs! Beware of those who do evil things. Beware
of those who insist on circumcision.”
8.
Weymouth
New Testament “Beware of 'the dogs,' the bad workmen, the self-mutilators.”
9.
Alkitab
Bahasa Indonesia Sehari-hari “Berhati-hatilah terhadap orang-orang yang
melakukan hal-hal yang jahat, orang-orang yang pantas disebut 'anjing'. Mereka
mendesak supaya orang-orang disunat.”
10. Alkitab Bahasa Toba “Bereng hamu angka
biang; bereng hamu angka pangula na jahat; bereng hamu parsunaton na torbang!”
Di atas
adalah beberapa terjemahan Alkitab yang sengaja diambil untuk mewakili
terjemahan lain yang sama. Diantaranya menggunakan kata “mutilators of the
flesh” yang artinya “penyunat daging”, “to be saved mutilators who say you must
be circumcised” yang artinya “penyunat yang mengatakan harus disunat untuk
selamat “, “mutilate the flesh” yang artinya “sunat daging”, “concision” yang
artinya “amputasi’, “the mutilators” yang artinya “penyunat”, “the circumcisers”
yang artinya penyunatan, “circumcision” yang artinya penyunatan, “the
self-mutilators” yang artinya “penyunat diri”[7], “mendesak supaya orang-orang
disunat”, “parsunaton na torbang” yang artinya
“persunatan yang berlebihan.”[8]
Kata “katatomēn“
dalam Ayat Lain
Penulis
mencari kata “katatomēn“ dalam ayat
lain juga, agar supaya mendapatkan perbandingan dari ayat-ayat yang ditemukan.
Tetapi hasilnya tidak ditemukan penggunaan kata
“katatomēn“ dalam ayat lain
dalam kitab perjanjian baru lainnya. Dengan kata lain hanya Filipi
yang menggunakan dan ditulis “katatomēn“ dalam bukunya.
Fungsi Sunat dalam Budaya
Orang Yahudi dan dalam Kesehatan
Tentunya
sunat ada bukan karena sembarang ada, pasti ada asal usul mengapa ada istilah
sunat sampai saat ini, mengenai siapa yang memulai dan berfungsi untuk apa
dalam kehidupan sehari-hari.
Fungsi Sunat dalam
Budaya Orang Yahudi
Sunat
sangat penting untuk Yahudi, dengan lebih dari 90% penganut sudah disunat
sebagai kewajiban agama. Dasar dari kewajiban ini ditemukan di dalam Taurat,
dalam Kejadian pasal 17, di mana perjanjian sunat dibuat untuk Abraham dan
keturunannya. Sunat Yahudi adalah bagian dari ritual brit milah, yang dilakukan
oleh pesunat spesialis (seorang mohel) pada hari kedelapan dari kehidupan anak
laki-laki yang baru lahir (dengan pengecualian tertentu seperti sakit).
Konversi ke Yahudi juga harus disunat, mereka yang sudah disunat menjalani .
ritual sunat secara simbolis.[9]
Fungsi Sunat bagi
Kesehatan
Untuk
menjaga kebersihan. Dengan sunat, akan membuat pria lebih mudah membersihkan
penisnya. Sunat dapat menghindari penumpukan kotoran. Sebab setelah kencing,
biasanya masih ada tersisa di kulit (kulup penis) yang akhirnya dapat
menyebabkan iritasi kronis. Untuk menghindari kanker prostat. Penelitian di
Universiy of Quebec’s INRS-Institut Armand-Frappier di Montreal, Kanada
menyebutkan bahwa sunat akan mengurangi risiko terinfeksi penyakit kelamin
menular yang menjadi salah satu penyebab kanker prostat. Untuk menghindari HIV.
Pria yang sudah dikhitan memiliki risiko rendah untuk terkena penyakit menular
seksual, salah satunya adalah HIV. Menurut penelitian Dr. Lance Price dan
rekan-rekannya dari George Washington University, AS, sunat dapat mengurangi
resiko terinfeksi HIV hingga 50 persen. Untuk menghindari infeksi ginjal &
kandung kemih. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Brian Morris, profesor
ilmu kedokteran molekular dari Sydney Medical School, University of Sydney,
disebutkan bahwa anak laki-laki yang tidak dikhitan sepuluh kali lebih rentan
terserang infeksi ginjal, kandung kemih, dan uretra daripada bocah yang
dikhitan. Sebagai penyumbang Bakteri Baik. Menurut penelitian yang dilakukan
oleh ilmuwan dari Indiana University, populasi
bakteri baik secara signifikan dipengaruhi oleh sunat.
[10]
Komentar Beberapa Pihak
Ellicot’s
Commentary
Dengan kat-kata yang keras Santo Paulus menyatakan
penolakannya untuk membanggakan sunat, di mana Yahudi membanggakan diri. untuk
"kami," katanya, "adalah sunat yang benar," Israel sejati
dari perjanjian baru. Dalam Efesus 2:11 ia menyatakannya sebagai "yang
disebut sunat dalam daging yang dibuat oleh tangan manusia." Di sini ia
berbicara lebih keras, dan menyebutnya sebagai "amputasi," karena
merupakan “materai” atau lambang(Roma 4:11). Ada serangan yang masih lebih
mengejutkan kepada orang yang bersikeras untuk “sunat” dalam
Galatia 5:12, agar setiap orang yang memaksakan sunat
agar dikebirikan saja.[11]
Mathew Henry
Concise Commentary
Waspadalah
terhadap amputasi tersebut; oleh kiasan elegan untuk nama sunat, ritual yang orang Yahudi lakukan untuk
membanggakannya, juga beberapa guru palsu Kristen. Setelah waktu reformasi,
mendesak untuk dilakukan karena diperlukan bagi keselamatan, dan memaksa itu
dari orang lain, Kisah 15: 1, Galatia 5: 2,4 Galatia 6:12. Di sini Paulus, di sarkasme suci menyatakan
bahwa sama sekali membuat penyunatan hanya dari kulit, dikutuk oleh Allah
sebagai kafir, Imamat 19:28, 21: 5, di mana LXX menggunakan preposisi yang sama
dalam kata majemuk. Rasul Paulus di sini
menghina hal yang kini tidak membawa keuntungan apa-apa, tidak ada kekudusan,
tidak ada kehormatan untuk setiap orang Kristen apabila hanya disunat kulitnya
saja.[12]
Pulpit Commentary
Amputasi
(κατατομή, cutting, mutilasi); kata untuk menghina "sunat"
(περιτομή). Bandingkan penggunaan menghina Yahudi Isbosheth, pria malu, untuk
Eshbaal, pria Baal, dll sunat mereka tidak lebih baik dari “memotong kulit”.
Amati paronomasia(kata yang terdengar sama tetapi maknanya berbeda)[13], kombinasi
kata-kata, yang umum di surat-surat St. Paulus.
Winer memberikan banyak contoh di sekte.[14]
Sunat Rohani
Paulus
memberikan pandangan yang berbeda dibandingkan apa yang dipikirkan oleh orang
yahudi yang menganggap sunat itu harus dilakukan secara fisik, mengingat yang
dilakukan oleh Abraham. Dalam kitab Filipi 3:3 “Karena kitalah orang-orang
bersunat, yang beribadah oleh Roh
Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal
lahiriah.” Kolose 2:11 “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia,
tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang
berdosa.”[15]
Dengan kata lain, sunat yang dimaksud oleh Paulus adalah bukan hanya sekedar
sunat
lahiriah
atau fisik, melainkan kerohanian yang menanggalkan dosa.
BAB III
KESIMPULAN
Terjemahan dan Komentar yang Diikuti
Dari 10
terjemahan yang telah didapatkan penulis mengikuti terjemahan dari: New Living
Translation “Watch out for those dogs,
those people who do evil, those mutilators who say you must be circumcised to
be saved.” Yang menggunakan kata “mutilators
who say you must be circumcised to be saved” atau didalam bahasa Indonesia
“Orang yang memaksakan sunat agar selamat.” Sunat bukanlah hanya sekedar sunat
yang memotong kulit khatan seorang pria, bukan hanya sebagai bentuk fisik yang
diwariskan tanpa mengetahui maknanya, karena apabila hanya sekedar sunat, maka
artinya tidak lebih dari sekedar memotong kulit. Setiap orang harus waspada kepada anggapan
bahwa setiap orang harus disunat untuk mendapatkan keselamatan, yang artinya
bahwa tidak disunat maka tidak akan selamat. Paulus mencba untuk
menegur orang-orang yang beranggapan seperti itu.
Pandangan Penulis
Kata
“Penyunat-penyunat Palsu” dapat diganti menjadi “Orang yang memaksakan sunat agar
selamat.” Yang berarti bahwa orang-orang Yahudi yang membanggakan diri sebagai
keturunan Abraham yang lahiriah. Yang membanggakan sunat sebagai tanda
perjanjian Allah kepada nenek moyang mereka dan memastikan keselamatan mereka.
Yang menganggap bahwa untuk mendapatkan keselamatan harus melakukan sunat
lahiriah, dan orang yang tidak disunat maka tidak akan selamat. Dalam arti kata
lain, mereka menganggap diri mereka paling benar.
Padahal keselamatan itu adalah karunia Allah bagi umat
manusia.
Makna Teologi dari Kata “Penyunat-Penyunat”
Filipi
3:2 yang menggunakan kata sunat dalam ayatnya memiliki hubungan dengan Filipi
3:3 “Karena kitalah orang-orang bersunat,
yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal
lahiriah.” Kolose 2:11 “Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh
manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh
yang berdosa.” Dengan kata lain, sunat
yang dimaksud oleh Paulus adalah bukan hanya sekedar sunat lahiriah atau fisik,
melainkan kerohanian yang menanggalkan dosa. Maka makna Teologi yang ada dalam
ayat ini adalah, Kristus akan “menyunat” kita dalam arti kata, Kristus yang
adalah Tuhan yang akan membersihkan kita dan
memotong tubuh berdosa kita.
Aplikasi dari kata
“Penyunat-penyunat Palsu”
Umat-umat Kristen memang bukanlah keturunan Abraham secara lahiriah ,
bukan keturunan Yakub dan bahkan bukan orang Israel. Dimana Tuhan telah
bersumpah kepada Abraham untuk memeberikan berkat melalui keturunanya
menyatakan keselamatan melalui keturunanya. Dengan simbol “sunat” yang harus
dilakukan oleh keturunannya sebagai bukti bahwa dia adalah keturuna Abraham.
Tetapi umat-umat Kristen dapat melakukan “sunat rohani” yang meninggalkan
“tubuh berdosa” atau melepaskan dosa-dosa mereka, sehingga Kristus akan
melayakkan mereka melalui karakter mereka yang bersedia membuang dosa mereka,
meskipun merasakan sakit, layaknya sunat.
[1]Wikimedia, “Surat Paulus kepada
Jemaat di Filipi”, Wikipedia: [Journal on-line]; available from
https://id.wikipedia.org/wiki/Surat_Paulus_kepada_Jemaat_di_Filipi;
Internet; accessed 30 September 2015.
[2]Inventia, “Filipi”,Sarapan pagi
Biblika: [Journal on-line]; available from
http://www.sarapanpagi.org/filipi-vt7257.html; Internet; accessed 30 September
2015.
[3]Jehovah’s Witnesses,”Paulus di
Roma”, JW.ORG : [Journal on-line]; available from
https://login.unai.edu/login?dst=http%3A%2F%2Fwww.jw.org%; Internet ;
accessed 20 Oktober 2015.
[4]Yayasan Lembaga Sabda, ”Filipi”
Alkitab Sabda, : [Journal on-line]; available from http://alkitab.sabda.org/commentary.php?book=50&chapter=2&verse=12;
Internet ; accessed 20 Oktober 2015.
[5]Ebta Setiawan, “Kamus Besar
Bahasa Indonesia” , KBBI, : [Journal on-line]; available from http://kbbi.web.id/; Internet ; accessed 20
Oktober 2015.
[6]Khiki Hapsa, “Frasa dan
Macamnya”, KhikihapsaBlogspot: [Journal on-line]; available from http://khikihapsha.blogspot.co.id/;
Internet ; accessed 29 Oktober 2015.
[7]Google, “Terjemahan”, Google
Translate: [Journal on-line]; available from https://translate.google.com/;
Internet ; accessed 18 November 2015.
[8]Arthur MS, “Kamus Bahasa Daerah
Indonesia”, Kamus Daerah: [Journal on-line]; available from
http://www.kamusdaerah.com/?bhs=b&bhs2=a&q=parsunaton+na+torbang+;
Internet ; accessed 18 November 2015.
[9]Wikimedia, “Sunat”, Wikipedia:
[Journal on-line]; available from https://id.wikipedia.org/wiki/Sunat#Yahudi;
Internet ; accessed 18 November 2015.
[10]Angelina Windy, “5 Manfaat
Sunat Untuk Kesehatan Pria”, InfoKecantikan.Com: [Journal on-line]; available
from
http://info-kecantikan.com/tips-kesehatan/tips-kesehatan-umum/5-manfaat-sunat-untuk-kesehatan-pria/;
Internet ; accessed 18 November 2015.
[12]Biblo.com, “Philipians 3:2”,
Bible Hub; [Journal on-line]; available http://biblehub.com/commentaries/philippians/3-2.htm;
accessed 18 November 2015.
[13]Abidayah Alamin, “Tugas Bahasa
Indonesia”, AbidayahAlaminBlogspot: [Journal on-line] available from
http://abidayah.blogspot.co.id/2010/08/macam-macam-majas.html; Internet;
accessed 18 November 2015.
Khotbah "TERSERAH"
Karya: Auster
Apul Tiroy Situmorang
Terserah
Suatu
hari, dua orang pendaki melewati wilayah yang sangat dingin, dimana
hujan salju sedang turun. Tentu saja sebuah wilayah yang tidak nyaman dan
sangat berbahaya, tapi mereka terus mencoba untuk melalui wilayah itu. Pada
saat mereka berjalan, mereka terjegal oleh sebuah benda yang membuat mereka
jatuh. Mereka terkejut, karena yang membuat mereka terjegal adalah seorang pria
yang tidak sadarkan diri. Lalu yang satu katakan, “mari kita tolong dia, dan
selamatkan dia.” Tetapi temannya menolak dia dan mengatakan “Buat apa kita
selamatkan dia, sedangkan kita sendiri dalam keadaan yang tidak aman.” Tapi
pria yang satu tetap menolong pria yang tidak sadarkan diri itu dan
menggendongnya. Maka mereka mengambil jalan yang berbeda, pria yang satu ke
kanan dan yang satu lagi ke kiri.
Pria yang
menggendong pria yang tidak sadarkan diri itu terus berjalan, agar dirinyadan
yang dia gendong bisa selamat. Dia terus berjalan menahan beban berat dari pria
yang dia gendong. Kemudian, oleh karena hangat dari badannya, membuat pria yang
dia gendong sadarkan diri. Maka mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk
pulang dan mendapatkan keselamatan. Mereka berjalan dan terus berjalan,
tiba-tiba mereka kaget karena terjegal sebuah benda. Ternyata mereka tercegal
oleh seorang pria yang tidak sadarkan diri, ketika mereka lihat, ternyata pria
yang tidak sadarkan diri itu adalah temannya yang tidak mau menolong pria yang
tidak sadarkan diri tadi.
Seringkali di
dalam kehidupan kita, kita hanya mementingkan diri sendiri, tidak perduli akan
kesulitan yang dialami oleh orang lain. Tapi yang lebih berbahaya daripada itu
adalah, sifat yang senang bila orang lain jatuh. Atau sikap yang tidak memperdulikan kesusahan
orang lain, itu adalah sifat yang sangat jahat.
Di dalam buku
Markus 15:31 dikatakan bahwa: “Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli
Taurat mengolok-olokkan Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata:
"Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia
selamatkan!.” Kata yang saya ambil di sini adalah kata “selamatkan” yang dalam
bahasa Yunani nya adalah ȅσωσεν yang
memiliki kata dasar σωσω yang
artinya “menyelamatkan.” Kita dapat lihat di sini, pada saat itu Yesus
mendapatkan olok-olok dari ahli-ahli Taurat yang mengatakan bahwa Yesus
selamatkan orang lain, tetapi Dia tidak bisa selamatkan diri-Nya sendiri. Yesus
tolong orang lain tetapi diri-Nya sendiri Dia tidak bisa tolong. Yesus lepaskan
orang lain, tetapi diri-Nya sendiri Dia tidak bisa lepaskan dari kayu salib.
Kita bisa lihat bahwa ahli-ahli Taurat menganggap Yesus adalah sangat
bodoh. Tapi di sini juga kita bisa
lihat, betapa murah hatinya Yesus, betapa sayangnya Yesus Kristus kepada kita
manusia.
Ada tiga
kesimpulan yang hendak saya bagikan. Pertama” Kita bisa lihat betapa Dia
mengasihi umat manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Sehingga, Dia selamatkan
umat manusia, sehingga, Dia menyelamatkan orang-orang yang sudah melukai
hati-Nya, melanggar hukum-hukum-Nya, menduakan Dia. Yohanes juga tuliskan,
begitu besar kasih-Nya sehingga Ia merelakan diri-Nya mati di kayu salib
menebus dosa kita.”
Kedua, “Kita harus bersyukur, karena kita
memiliki Allah yang tidak egois, Allah yang tidak pernah mengatakan “terserah”
atau dalam bahasa lebih kasarnya “bodo amat, emang gua pikirin” Allah sangat
peduli kepada kita, sekalipun kita sudah jatuh ke dalam dosa, berkhianat kepada
Dia, tetapi Dia tinggalkan surga, demi menebus kita manusia, dan menyatakan,
bahwa Allah bukanlah Allah yang egois.”
Ketiga,
“sebagai anak Allah, marilah kita, mengikuti teladan-Nya, mengikuti sikap-Nya,
yang penuh dengan kasih, suka menolong, peduli dan tidak egois. Sehingga,
ketika orang lain membutuhkan pertolongan, kita tidak pernah katakan “terserah”
kita tidak akan katakan “bodo amat, emang gua pikirin.” Tetapi katakan “mari,
aku akan membantumu.”
Inilah Firman
Tuhan yang boleh saya sampaikan, Tuhan memberkati.
Pemahaman Digarami dengan Api dalam Markus 9:49
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Injil
Markus adalah Injil kedua di bagian Perjanjian Baru dalam Alkitab. Meskipun ini merupakan kitab kedua, banyak
pakar menganggap kitab ini sebagai kitab yang ditulis paling awal di antara kitab-kitab
di Perjanjian Baru. Menurut catatan
gereja mula-mula, Markus menulis Injilnya berdasarkan penuturan Petrus. Dua tema besar dalam Injil Markus adalah
tentang kerahasiaan Yesus sebagai Mesias dan kelambanan murid-muridnya untuk
memahaminya. Markus menulis Injil ini
terutama untuk orang-orang Yunani atau Grika dan bangsa-bangsa lainnya yang
berbicara bahasa Yunani di kekaisaran Romawi.[1]
Berdasarkan tradisi awal, dia bertindak
sebagai juru tulis atau sekretaris Petrus. Oleh karena itu, Injil yang
ditulisnya tidaklah salah kalau disebut juga sebagai catatan dari pengajaran
Petrus tentang Injil.[2]
Ciri utama menandai Injil Markus: Injil
ini penuh kegiatan, yang lebih menekankan apa yang dilakukan Yesus daripada apa
yang diajarkan oleh-Nya. Injil ini
khususnya untuk orang Romawi, serta menjelaskan adat-istiadat Yahudi,
meniadakan semua daftar keturunan Yahudi dan kisah kelahiran, penggunaan
istilah Latin dan menerjemahkan kata-kata dalam bahasa Aram. Injil ini bernada mendesak dimulai dengan
tiba-tiba dan bergerak dengan cepat dari episode yang satu kepada episode yang
lain, dengan menggunakan 42 kali kata keterangan Yunani yang diterjemahkan
dengan "seketika itu juga".
Injil ini ditulis dengan hidup, seraya menggambarkan peristiwa-peristiwa
dalam kehidupan Yesus dengan ringkas dan tepat, dengan gamblang dan dengan
keahlian dari seorang pujangga.[3]
Ketika Paulus dan Barnabas menyelesaikan
pelayanan di kota Pafos dan ingin melanjutkan ke kota Perga, Markus
meninggalkan mereka. (Kisah Rasul 13:13. "Lalu Paulus dan kawan-kawannya
meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia; tetapi Yohanes
meninggalkan mereka lalu kembali ke Yerusalem."). Markus mundur dari
pelayanan. Apa yang dilakukan Markus
telah mengecewakan Paulus. Hal ini
diungkapkan Paulus kepada Barnabas , sehingga membuat perselisihan diantara
mereka.[4]
Kemudian timbul sebuah permasalahan yang
dihadapi penulis, mengenai Markus 9:49, ayat itu berbunyi “Karena setiap orang
akan digarami dengan api. ” yang menjadi ketertarikan penulis adalah pada kata
“digarami dengan api”, yang maknanya tidak dapat dimengerti secara langsung.
Apabila kata digarami maka seharusnya dengan garam, dibakar dengan api,
dimaniskan dengan gula, diasamkan dengan asam.
Ini adalah sebuah kata yang aneh atau
tidak seperti yang biasa kita lihat dengar dan sebagainya.[5] Ini
adalah sebuah frasa yang merupakan bagian kalimat yang terbentuk dari dua kata
atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi atau jabatan.[6]
Identifikasi Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah yang di uraikan diatas, maka penulis mengindentifikasi
beberapa permasalahan yaitu:
- Apa makna kata “digarami dengan api”
dalam Markus 9:49?
- Apakah makna Teologi dari kata
“digarami dengan api?”
- Apakah ada aplikasi yang dapat
diambil dari kata “digarami dengan api”?
Tujuan Penelitian
Dalam penulisan makalah ini, penulis
mempunyai beberapa tujuan yang ingin didapatkan dari penelitian ini.
- Mencari tahu makna kata “digarami
dengan api” dalam Markus 9:49
- Mencari tahu makna Teologi kata
“digarami dengan api” dalam Markus 9:49
- Mencari tahu aplikasi yang dapat
diambil dari kata “digarami dengan api”
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
Kata “Digarami dengan Api” dalam Bahasa
Yunani
Dalam
bahasa Yunani, ayat Markus 9:49 adalah “πᾶς
γὰρ πυρὶ ἁλισθήσεται” apabila dibaca dalam latin, “Pas gar puri alisthēsetai.” Dan dalam bahasa aslinya, “digarami
dengan api” adalah “πυρὶ ἁλισθήσεται.”
πυρὶ yang artinya “api” dan “ἁλισθήσεται” artinya digarami. Kata
dasar dari ”πυρὶ” adalah “πυρ
” yang dibaca “pur” dan “ἁλισθήσεται” adalah “ἁλίζω” yang dibaca “alizo.”
Apabila kata “πυρ”
diterjemahkan ke dalam bahasa inggris adalah:
burning, fiery, fire. Dan apabila
kata “ἁλίζω” diterjemahkan ke dalam bahasa inggris adalah: made salty, salted. Maka apabila diterjemahkan secara serentak adalah “Salted with Fire.”
Demikian
adalah terjemahan dari kata “puri
alisthēsetai” yang memiliki beberapa pengertian dalam bahasa Inggris,
tetapi bagaimana dalam terjemahan Alkitab yang lain, yang
memiliki kata dalam bahasa Inggris.
Terjemahan Alkitab Lain
Seperti ayat-ayat lainnya, ayat Markus
9:49 tentunya memiliki banyak terjemahan, yang dapat menolong penulis, dalam
mendapatkan tujuan dari penulisan makalah, diantaranya:
For everyone will be salted with fire. ( New American Standard Bible)
For every one shall be salted with fire,
and every sacrifice shall be salted with salt. (King James Bible).
For everyone will be salted with fire. ( Holman Christian Standard Bible)
Because everyone will be salted with
fire, and every sacrifice will be salted with salt. (International Standard Version)
Everyone will be salted with fire. (NET Bible)
For everything will be seasoned with
fire and every sacrifice will be seasoned with salt. (Aramaic Bible in Plain English)
Everyone will be salted with fire. (GOD'S WORD Translation)
For every one shall be salted with fire,
and every sacrifice shall be salted with salt.
(King James 2000 Bible).
Unggal jelema bakal disucikeun ku
seuneu, saperti kurban disucikeun ku uyah.
(Alkitab Basa Sunda).
Setiap orang akan dimurnikan dengan api, seperti kurban disucikan
dengan garam. (Bahasa Indonesia Sehari-hari).
Dari kebanyakan terjemahan, banyak yang
menggunakan kata “salted with fire,”
yaitu New American Standard Bible, King
James Bible, Holman Christian Standard Bible, International Standard Version,
NET Bible, GOD'S WORD Translation, King James 2000 Bible. Hanya satu
terjemahan yang memberikan perbedaan, karena menerjemahkannya dengan
kata dalam bahasa inggris “seasoned with
fire” yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah “dibumbui
dengan api.” Alkitab bahasa sunda juga memberikan perbedaan dengan
menerjemahkannya “disucikeun ku seuneu”
yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “disucikan oleh api.”[7]
Kata “Puri
Alisthēsetai” dalam Ayat Lain
Penulis
mencari kata “puri alisthēsetai”
dalam ayat lain juga, agar supaya mendapatkan perbandingan dari ayat-ayat yang
ditemukan. Tetapi hasilnya tidak
ditemukan penggunaan kata “puri
alisthēsetai” dalam ayat lain dalam kitab perjanjian baru lainnya. Dengan kata lain, hanya Markus yang
menggunakan dan menulis “puri
alisthēsetai” dalam bukunya.
Fungsi Garam dalam Kehidupan Sehari-hari
Penggunaan
garam tidak pada tempatnya dapat merusak lingkungan dan menjadikan lahan kering
dengan kandungan kadar garam tinggi, atau pencemaran pada persediaan air.
Tetapi garam juga dapat menjadi zat yang sangat berguna, sebab sesungguhnya,
tubuh kita mengandalkan garam dari sumber eksternal untuk kelangsungan
hidup. Menurut Institut Salt, garam
memiliki lebih dari 14.000 kegunaan yang sudah diketahui.
Berikut sedikit penggunaan dari garam:
sebagai bahan poles, sebagai pembersih pipa saluran, membersihkan jendela kaca
dan kaca mobil dari embun, menggosok periuk dan panci, menghilangkan noda teh
dan noda kopi, mensterilkan spons, penakluk serangga, cara paling bersahabat
untuk membasmi gulma, pencuci mulut dan obat kumur, membersihkan papan potong
yang berbau tidak sedap, pembersih setrika, mencegah terbentuknya noda pada
cerobong, pemadam kebakaran, mengenakkan makanan, mengusir ular, mengawetkan.
Demikian hanya beberapa masalah yang umum dari berbagai kegunaan garam, akan
tetapi sesungguhnya masih banyak manfaat lainnya.[8]
Komentar Beberapa Pihak
Ellicot’s
Commentary
Mengenai hal ini dapat diartikan (a) bahwa
kata"setiap orang" digunakan untuk mereka yang akhirnya
menyesatkan; (b) bahwa dapat digunakan kata yang sama, yaitu "mengasinkan," harus digunakan
dalam indra kontras seperti dalam ayat
yang sama; (c) bahwa terdapat simbolisme:
Garam
Garam mewakili elemen spiritual yang Yesus
ingin agar dimiliki murid-murid-
Nya,
dapat dilihat dalam Matius 5:13;
Lukas 14:34; Kolose 4: 6.
Api
Api Muncul sebagai simbol Kuasa atau
Kebenaran Allah, beberapa ayat
diantaranya adalah Matius 3:11, Lukas 12: 49,
1 Korintus 3:13, 1 Petrus 1:
7. Dalam ayat-ayat ini tidak ada
keraguan bahwa "api" merupakan kebenaran Allah dinyatakan sebagai
penguji atau
hukuman atau bisa dikatakan juga
pencobaan.[9]
Mathew
Henry Concise Commentary
Masalah ini menganggap bahwa tangan, mata,
atau kaki kita, menyesatkan kita; bahwa
kejahatan kotor yang kita lakukan sangatlah dekat dengan kita bagaikan mata
atau tangan kita, atau dengan kata lain, perbuatan jahat yang bagaikan mata
atau tangan kita sendiri itu, sudah menjadi godaan atau kesempatan untuk
berbuat dosa yang tidak tampak. Biarkan
berhala yang sangat menggiurkan itu diusir sebagai sesuatu yang sangat dibenci; jauhilah pencobaan, walaupun tampaknya sangat
menyenangkan. Sangatlah penting untuk melepaskan bagian yang rusak, supaya
keseluruhan bisa dipelihara. Bagian yang lukanya tidak dapat disembuhkan harus
dipotong, supaya bagian yang sehat tidak ikut rusak. Kita harus merelakan diri
kita mengalami rasa sakit, supaya kita tidak membawa diri kita kepada
kehancuran; diri harus disangkal, supaya tidak bisa dihancurkan. Dengan memberikan ancaman yang menakutkan,
perkataan ini diulang tiga kali di sini, Di tempat itu ulatnya tidak
akan mati, dan apinya tidak akan padam!
Yesaya 66:24.[10]
Pulpit
Commentary
Klausa kedua dari ayat ini harus
dihilangkan, meskipun jelas bahwa ada dalam kata-kata dalam Imamat. "Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa
korban sajian haruslah kaububuhi garam." Setiap orang akan digarami dengan
api. "Setiap orang." Pernyataan itu adalah umum dalam penerapannya.
Tidak ada batasan. Yang baik dan yang jahat sama akan "digarami dengan
api." Tapi harus diingat bahwa baik garam dan api yang digunakan di sini
dalam arti kiasan; dan ada api yang pidana, dan ada api yang memurnikan. Dalam
kasus orang fasik api adalah pidana; dan pengasinan dengan api dalam kasus
mereka hanya dapat berarti penderitaan hati nurani tersiksa, yang harus sepadan
dengan keberadaannya dalam kondisi moral yang sama. Tapi ada api yang
memurnikan. Rasul Petrus, menyikapi Kristen dari (1 Petrus 4:12), tawaran
mereka untuk tidak berpikir itu aneh mengenai "nyala api siksaan"
yang berada di antara mereka. Ini adalah"pengasinan dengan api."
Penganiayaan yang mereka derita adalah disiplin mereka dari penderitaan,
melalui mana Allah memurnikan dan menjaga mereka. Disiplin ini diperlukan untuk
semua orang Kristen. Mereka harus mempersenjatai diri dengan pikiran yang sama,
meskipun mereka mungkin tidak hidup dalam
masa penganiayaan luar.[11]
Garam Menjadi Tawar
Di
dalam Markus 9:50 dikatakan “ Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi
hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya.” Yang menjadi pemikiran banyak orang
adalah: “Mungkinkah garam menjadi tawar?”.
Konon di Sidon, Lebanon Selatan, ada seorang pedagang yang mengimpor
garam dari Siprus. Ia dipercaya pemerintah memasok garam di wilayah itu untuk
jangka panjang, dan tentu dalam jumlah yang besar. Lalu ia menyewa 65 rumah
penduduk di daerah pegunungan untuk digunakan sebagai gudang garam. Stok garam
itu ditimbun di lantai tanah setiap rumah tanpa alas apa pun, dan setelah
beberapa tahun semua garam itu rusak. Garam menjadi tawar, mubazir dan merusak
kesuburan tanah di sekitarnya. Tidak ada tempat bagi garam yang rusak, tidak di
rumah, pekarangan, ataupun ladang. Tidak seorang pemilik rumah pun yang
mengizinkan garam itu disimpan atau
dibuang di pekarangan mereka, dan
satu-satunya tempat adalah membuangnya di jalan.[12]
Kisah di Alkitab Yang Berhubungan dengan
Garam dan Api
Di dalam Alkitab terdapat kisah yang
berhubungan dengan garam dan api, yang dapat dijadikan menjadi perbandingan
dengan Markus 9:49. Adalah sebuah kisah dari Lot, yang dituliskan oleh Musa
dalam Kejadian 19:1-29. Di ayat yang ke-24 “Kemudian Tuhan menurunkan hujan
belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari Tuhan dari langit;
dikatakan mengenai belerang atau api yang berasal dari Tuhan yang menghujani
sodom dan Gomora.” Dan di ayat yang
ke-26 “Tetapi Isteri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu
menjadi tiang garam. Kemudian dalam buku Sejarah Para Nabi dikatakan “Tetapi
rasa segan serta sikap yang berlambatan telah menyebabkan isterinya meremehkan
amaran Ilahi. Sekalipun tubuhnya berada di atas padang itu tetapi hatinya
terpaut erat ke Sodom dan ia pun binasa besertanya. Ia memberontak terhadap
Allah oleh sebab pehukuman-Nya mencakup kebinasaan harta benda dan
anak-anaknya. Sekalipun Allah telah berkenan untuk memanggil dia ke luar dari
kota yang jahat itu, ia telah merasa diperlakukan dengan kejam, oleh karena
kekayaannya yang telah ia kumpulkan bertahun-tahun lamanya itu harus
dibinasakan.”[13] Isteri
Lot yang mengikatkan hatinya dengan Sodom, telah mendapatkan hukuman yaitu
menjadi tiang garam. Dia “digarami” dan orang-orang di kota Sodom,
dihujani dengan api.
BAB
III
KESIMPULAN
Terjemahan dan Komentar yang Diikuti
Dari 10 terjemahan yang telah didapatkan
penulis tetap memakai terjemahan “salted
with fire”, atau dalam bahasa Indonesia “digarami dengan api”. Dan dari komentar-komentar para ahli, penulis
mendapatkan pengertian bahwa kata “digarami dengan api. ” Biarkan berhala yang
sangat menggiurkan itu diusir sebagai sesuatu yang sangat dibenci; jauhilah pencobaan, walaupun tampaknya sangat
menyenangkan. Sangatlah penting untuk melepaskan bagian yang rusak, supaya
keseluruhan bisa dipelihara. Bagian yang lukanya tidak dapat disembuhkan harus
dipotong, supaya bagian yang sehat tidak ikut rusak. Kita harus merelakan diri
kita mengalami rasa sakit, supaya kita tidak membawa diri kita kepada
kehancuran; diri harus disangkal, supaya tidak bisa dihancurkan. Diawetkan oleh
kemurnian
supaya tidak mengalami kematian kekal.
Pandangan Penulis
Kata “digarami dengan api” digunakan untuk
menjelaskan kejadian saat seseorang masih hidup. Pengikut Kristus harus
menunjukan “garamnya” kepada setiap orang, seperti Yesus sendiri katakan bahwa
“kamu adalah garam dunia.” Dan apabila pengikut-pengikut Kristus sebagai garam
menjadi tawar, atau menyatu dengan dunia maka ia harus “digarami dengan api.”
Daripada ia harus mengalami penyiksaan atau hukuman oleh api neraka, lebih baik
ia mengalami “digarami dengan api” saat masih hidup. Garam yang dalam kegunaannya
adalah mengawetkan dan api memurnikan, maka setiap pengikut Kristus harus
diawetkan dengan pemurnian yang berasal dari Tuhan . Dimana fungsi dari api
yang berasal dari Tuhan sendiri mempunyai dua fungsi: menghukum dan menguji,
apabila pengikut-pengikut Kristus tidak menyatakan garamnya, maka ia harus
dihukum dengan cara-cara ilahi supaya bertobat, dan apabila pengikut-pengikut
Kristus menyatakan garamnya, maka ia akan menerima ujian
yang menghasilkan pertumbuhan.
Makna Teologi dari Kata “Digarami dengan
Api”
Markus 9:49 juga menyimbolkan persembahan korban,
dimana terdapat garam dan api. Imamat
2:13 katakan “Dan tiap-tiap
persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah
kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala
persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam.” Kita sudah mendapatkan apa yang
disimbolkan oleh garam dan api, dimana garam adalah kemurnian dan api adalah
Kuasa Allah. Tetapi mengenai persembahannya kita dapat lihat di dalam, Roma
12:1” Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu,
supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus
dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Kita dapat
lihat di sini, bahwa diri kita lah korban tersebut. Kita harus mempersembahkan
diri kita kepada Tuhan, yang sudah diawetkan dengan kemurnian, memiliki sifat
kasih, sukacita, pendamai, sabar, murah hati,
setia, baik, lemah lembut, menguasai diri
sehingga Tuhan menerima kita.
Aplikasi dari Kata “Digarami dengan Api”
Garam
haruslah menjadi sifat orang Kristen, yang mengenakkan keadaan di sekitarnya,
yang mengobati sakit hati sesamanya. Menjadi orang yang menjauhkan hal-hal yang
jahat kepada orang lain, menjadi pembersih suasana. Menjadi orang yang mampu
memadamkan amarah orang lain, yang mampu mengawetkan kebaikan. Orang Kristen
jangan sampai menjadi hambar karena menjadi terikat dengan dunia, sehingga
tidak dapat lagi memberikan pengaruh yang baik kepada lingkungannya. Dan orang
Kristen harus memilih memikul penderitaan dan rasa sakit karena menolak dosa,
menahan diri supaya dia tidak mendapatkan penyiksaan yang kekal, oleh api
neraka.
[1]Wikimedia,
“Injil Markus”, Wikipedia: 1[Journal
on-line]; available from https://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Markus; Internet;
accessed 30 September 2015.
[2]Yayasan
Lembaga SABDA (YLSA), “Sejarah Alkitab Indonseia”, Sabda: [Journal on-line] available from
http://www.sabda.org/sejarah/artikel/mengapa_ada_4_injil.htm; Internet;
accessed 20 Oktober 2015.
[3]F.X. Agis
Triatmo O. Carm, “Yesus Menurut Injil Markus”, Iman Katolik: 1[Journal on-line]; available from
http://www.imankatolik.or.id/yesus_menurut_injil_markus.html; Internet;
accessed 20 Oktober 2015.
[4]Advendy
Hasibuan, “Belajar Kegagalan Markus”, Yesus
Jalan Keluar: 1[Journal on-line]; available from
http://yesusjalankeluar.blogspot.co.id/2014/08/belajar-kegagalan-markus.html;
Internet; accessed 20 Oktober 2015.
[5]Ebta
Setiawan, “Kamus Besar Bahasa Indonesia”,KBBI:
1[Journal on-line]; available from http://kbbi.web.id/aneh ; Internet; accessed
20 Oktober 2015.
[6]Khiki Hapsha,
“Frasa dan Macamnya”, KhikihapshaBlogspot: 1[Journal on-line]; available from
http://khikihapsha.blogspot.co.id/ ; Internet; accessed 20 Oktober 2015.
[7]Kamus
Bahasa Sunda.Com , “Disucikeun ku seuneu”, Kamusbahasasunda.com:
1[Journal on-line]; available from http://kamus-sunda.com/ ; Internet; accessed
25 Oktober 2015.
[8]Dukut
Wahyu Nugroho, “Berbagai Manfaat Unik Garam di Sekitar Kita”, Duocode Portal: 1[Journal on-line];
available from
http://duocode.blog.uns.ac.id/2012/10/18/berbagai-manfaat-unik-garam-di-sekitar-kita/;
Internet; accessed 20 Oktober 2015.
[9]Charles J.
Ellicot’s, Ellicot’s Commentary (
United Kingdom: Cassel Publisher, 1897), 167.
[10]Biblo.com, “Mark 9:49”, Bible Hub: [Journal on-line]; available
fromhttp://biblehub.com/commentaries/mark/9-49.htm; Internet; accessed 20
Oktober 2015.
[11]Spence and
Joseph S. Exell, The Pulpit Commentary (Newyork:
H.D.M. Funk and Wagnalis Company, 1995), 24.
[12]WordPress,
“Garam Takkan Tawar”, KristusHidup.Org:
[Journal on-line] available from
http://kristushidup.org/wphidup/garam-takkan-tawar/; Internet; accessed 25
Oktober 2015.
[13]Ellen G.
White, Sejarah Para Nabi (Bandung:
Indonesia Publishing House, 1999), 183-184.
WAHYU 11:3,4
makalah kejadian 4:5 Pemahaman Tuhan mengindahkan Persembahan Habel dan tidak mengindahkan persembahan Kain
BAB I PENDAHULUAN Latar belakang masalah Dalam kejadian 1:1-31; 2:1-20 Tuhan menciptakan Bumi dengan keadaan ...
-
BAB I PENDAHULUAN Latar belakang masalah Saksi adalah orang yang dapat bersaksi tentang fakta-fakta yang ada pada pert...
-
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Shinto , secara harfiah bermakna "jalan/jalur dewa" adalah sebuah agama yang berasal dari ...