BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Injil
Markus adalah Injil kedua di bagian Perjanjian Baru dalam Alkitab. Meskipun ini merupakan kitab kedua, banyak
pakar menganggap kitab ini sebagai kitab yang ditulis paling awal di antara kitab-kitab
di Perjanjian Baru. Menurut catatan
gereja mula-mula, Markus menulis Injilnya berdasarkan penuturan Petrus. Dua tema besar dalam Injil Markus adalah
tentang kerahasiaan Yesus sebagai Mesias dan kelambanan murid-muridnya untuk
memahaminya. Markus menulis Injil ini
terutama untuk orang-orang Yunani atau Grika dan bangsa-bangsa lainnya yang
berbicara bahasa Yunani di kekaisaran Romawi.[1]
Berdasarkan tradisi awal, dia bertindak
sebagai juru tulis atau sekretaris Petrus. Oleh karena itu, Injil yang
ditulisnya tidaklah salah kalau disebut juga sebagai catatan dari pengajaran
Petrus tentang Injil.[2]
Ciri utama menandai Injil Markus: Injil
ini penuh kegiatan, yang lebih menekankan apa yang dilakukan Yesus daripada apa
yang diajarkan oleh-Nya. Injil ini
khususnya untuk orang Romawi, serta menjelaskan adat-istiadat Yahudi,
meniadakan semua daftar keturunan Yahudi dan kisah kelahiran, penggunaan
istilah Latin dan menerjemahkan kata-kata dalam bahasa Aram. Injil ini bernada mendesak dimulai dengan
tiba-tiba dan bergerak dengan cepat dari episode yang satu kepada episode yang
lain, dengan menggunakan 42 kali kata keterangan Yunani yang diterjemahkan
dengan "seketika itu juga".
Injil ini ditulis dengan hidup, seraya menggambarkan peristiwa-peristiwa
dalam kehidupan Yesus dengan ringkas dan tepat, dengan gamblang dan dengan
keahlian dari seorang pujangga.[3]
Ketika Paulus dan Barnabas menyelesaikan
pelayanan di kota Pafos dan ingin melanjutkan ke kota Perga, Markus
meninggalkan mereka. (Kisah Rasul 13:13. "Lalu Paulus dan kawan-kawannya
meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia; tetapi Yohanes
meninggalkan mereka lalu kembali ke Yerusalem."). Markus mundur dari
pelayanan. Apa yang dilakukan Markus
telah mengecewakan Paulus. Hal ini
diungkapkan Paulus kepada Barnabas , sehingga membuat perselisihan diantara
mereka.[4]
Kemudian timbul sebuah permasalahan yang
dihadapi penulis, mengenai Markus 9:49, ayat itu berbunyi “Karena setiap orang
akan digarami dengan api. ” yang menjadi ketertarikan penulis adalah pada kata
“digarami dengan api”, yang maknanya tidak dapat dimengerti secara langsung.
Apabila kata digarami maka seharusnya dengan garam, dibakar dengan api,
dimaniskan dengan gula, diasamkan dengan asam.
Ini adalah sebuah kata yang aneh atau
tidak seperti yang biasa kita lihat dengar dan sebagainya.[5] Ini
adalah sebuah frasa yang merupakan bagian kalimat yang terbentuk dari dua kata
atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi atau jabatan.[6]
Identifikasi Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah yang di uraikan diatas, maka penulis mengindentifikasi
beberapa permasalahan yaitu:
- Apa makna kata “digarami dengan api”
dalam Markus 9:49?
- Apakah makna Teologi dari kata
“digarami dengan api?”
- Apakah ada aplikasi yang dapat
diambil dari kata “digarami dengan api”?
Tujuan Penelitian
Dalam penulisan makalah ini, penulis
mempunyai beberapa tujuan yang ingin didapatkan dari penelitian ini.
- Mencari tahu makna kata “digarami
dengan api” dalam Markus 9:49
- Mencari tahu makna Teologi kata
“digarami dengan api” dalam Markus 9:49
- Mencari tahu aplikasi yang dapat
diambil dari kata “digarami dengan api”
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
Kata “Digarami dengan Api” dalam Bahasa
Yunani
Dalam
bahasa Yunani, ayat Markus 9:49 adalah “πᾶς
γὰρ πυρὶ ἁλισθήσεται” apabila dibaca dalam latin, “Pas gar puri alisthēsetai.” Dan dalam bahasa aslinya, “digarami
dengan api” adalah “πυρὶ ἁλισθήσεται.”
πυρὶ yang artinya “api” dan “ἁλισθήσεται” artinya digarami. Kata
dasar dari ”πυρὶ” adalah “πυρ
” yang dibaca “pur” dan “ἁλισθήσεται” adalah “ἁλίζω” yang dibaca “alizo.”
Apabila kata “πυρ”
diterjemahkan ke dalam bahasa inggris adalah:
burning, fiery, fire. Dan apabila
kata “ἁλίζω” diterjemahkan ke dalam bahasa inggris adalah: made salty, salted. Maka apabila diterjemahkan secara serentak adalah “Salted with Fire.”
Demikian
adalah terjemahan dari kata “puri
alisthēsetai” yang memiliki beberapa pengertian dalam bahasa Inggris,
tetapi bagaimana dalam terjemahan Alkitab yang lain, yang
memiliki kata dalam bahasa Inggris.
Terjemahan Alkitab Lain
Seperti ayat-ayat lainnya, ayat Markus
9:49 tentunya memiliki banyak terjemahan, yang dapat menolong penulis, dalam
mendapatkan tujuan dari penulisan makalah, diantaranya:
For everyone will be salted with fire. ( New American Standard Bible)
For every one shall be salted with fire,
and every sacrifice shall be salted with salt. (King James Bible).
For everyone will be salted with fire. ( Holman Christian Standard Bible)
Because everyone will be salted with
fire, and every sacrifice will be salted with salt. (International Standard Version)
Everyone will be salted with fire. (NET Bible)
For everything will be seasoned with
fire and every sacrifice will be seasoned with salt. (Aramaic Bible in Plain English)
Everyone will be salted with fire. (GOD'S WORD Translation)
For every one shall be salted with fire,
and every sacrifice shall be salted with salt.
(King James 2000 Bible).
Unggal jelema bakal disucikeun ku
seuneu, saperti kurban disucikeun ku uyah.
(Alkitab Basa Sunda).
Setiap orang akan dimurnikan dengan api, seperti kurban disucikan
dengan garam. (Bahasa Indonesia Sehari-hari).
Dari kebanyakan terjemahan, banyak yang
menggunakan kata “salted with fire,”
yaitu New American Standard Bible, King
James Bible, Holman Christian Standard Bible, International Standard Version,
NET Bible, GOD'S WORD Translation, King James 2000 Bible. Hanya satu
terjemahan yang memberikan perbedaan, karena menerjemahkannya dengan
kata dalam bahasa inggris “seasoned with
fire” yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah “dibumbui
dengan api.” Alkitab bahasa sunda juga memberikan perbedaan dengan
menerjemahkannya “disucikeun ku seuneu”
yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “disucikan oleh api.”[7]
Kata “Puri
Alisthēsetai” dalam Ayat Lain
Penulis
mencari kata “puri alisthēsetai”
dalam ayat lain juga, agar supaya mendapatkan perbandingan dari ayat-ayat yang
ditemukan. Tetapi hasilnya tidak
ditemukan penggunaan kata “puri
alisthēsetai” dalam ayat lain dalam kitab perjanjian baru lainnya. Dengan kata lain, hanya Markus yang
menggunakan dan menulis “puri
alisthēsetai” dalam bukunya.
Fungsi Garam dalam Kehidupan Sehari-hari
Penggunaan
garam tidak pada tempatnya dapat merusak lingkungan dan menjadikan lahan kering
dengan kandungan kadar garam tinggi, atau pencemaran pada persediaan air.
Tetapi garam juga dapat menjadi zat yang sangat berguna, sebab sesungguhnya,
tubuh kita mengandalkan garam dari sumber eksternal untuk kelangsungan
hidup. Menurut Institut Salt, garam
memiliki lebih dari 14.000 kegunaan yang sudah diketahui.
Berikut sedikit penggunaan dari garam:
sebagai bahan poles, sebagai pembersih pipa saluran, membersihkan jendela kaca
dan kaca mobil dari embun, menggosok periuk dan panci, menghilangkan noda teh
dan noda kopi, mensterilkan spons, penakluk serangga, cara paling bersahabat
untuk membasmi gulma, pencuci mulut dan obat kumur, membersihkan papan potong
yang berbau tidak sedap, pembersih setrika, mencegah terbentuknya noda pada
cerobong, pemadam kebakaran, mengenakkan makanan, mengusir ular, mengawetkan.
Demikian hanya beberapa masalah yang umum dari berbagai kegunaan garam, akan
tetapi sesungguhnya masih banyak manfaat lainnya.[8]
Komentar Beberapa Pihak
Ellicot’s
Commentary
Mengenai hal ini dapat diartikan (a) bahwa
kata"setiap orang" digunakan untuk mereka yang akhirnya
menyesatkan; (b) bahwa dapat digunakan kata yang sama, yaitu "mengasinkan," harus digunakan
dalam indra kontras seperti dalam ayat
yang sama; (c) bahwa terdapat simbolisme:
Garam
Garam mewakili elemen spiritual yang Yesus
ingin agar dimiliki murid-murid-
Nya,
dapat dilihat dalam Matius 5:13;
Lukas 14:34; Kolose 4: 6.
Api
Api Muncul sebagai simbol Kuasa atau
Kebenaran Allah, beberapa ayat
diantaranya adalah Matius 3:11, Lukas 12: 49,
1 Korintus 3:13, 1 Petrus 1:
7. Dalam ayat-ayat ini tidak ada
keraguan bahwa "api" merupakan kebenaran Allah dinyatakan sebagai
penguji atau
hukuman atau bisa dikatakan juga
pencobaan.[9]
Mathew
Henry Concise Commentary
Masalah ini menganggap bahwa tangan, mata,
atau kaki kita, menyesatkan kita; bahwa
kejahatan kotor yang kita lakukan sangatlah dekat dengan kita bagaikan mata
atau tangan kita, atau dengan kata lain, perbuatan jahat yang bagaikan mata
atau tangan kita sendiri itu, sudah menjadi godaan atau kesempatan untuk
berbuat dosa yang tidak tampak. Biarkan
berhala yang sangat menggiurkan itu diusir sebagai sesuatu yang sangat dibenci; jauhilah pencobaan, walaupun tampaknya sangat
menyenangkan. Sangatlah penting untuk melepaskan bagian yang rusak, supaya
keseluruhan bisa dipelihara. Bagian yang lukanya tidak dapat disembuhkan harus
dipotong, supaya bagian yang sehat tidak ikut rusak. Kita harus merelakan diri
kita mengalami rasa sakit, supaya kita tidak membawa diri kita kepada
kehancuran; diri harus disangkal, supaya tidak bisa dihancurkan. Dengan memberikan ancaman yang menakutkan,
perkataan ini diulang tiga kali di sini, Di tempat itu ulatnya tidak
akan mati, dan apinya tidak akan padam!
Yesaya 66:24.[10]
Pulpit
Commentary
Klausa kedua dari ayat ini harus
dihilangkan, meskipun jelas bahwa ada dalam kata-kata dalam Imamat. "Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa
korban sajian haruslah kaububuhi garam." Setiap orang akan digarami dengan
api. "Setiap orang." Pernyataan itu adalah umum dalam penerapannya.
Tidak ada batasan. Yang baik dan yang jahat sama akan "digarami dengan
api." Tapi harus diingat bahwa baik garam dan api yang digunakan di sini
dalam arti kiasan; dan ada api yang pidana, dan ada api yang memurnikan. Dalam
kasus orang fasik api adalah pidana; dan pengasinan dengan api dalam kasus
mereka hanya dapat berarti penderitaan hati nurani tersiksa, yang harus sepadan
dengan keberadaannya dalam kondisi moral yang sama. Tapi ada api yang
memurnikan. Rasul Petrus, menyikapi Kristen dari (1 Petrus 4:12), tawaran
mereka untuk tidak berpikir itu aneh mengenai "nyala api siksaan"
yang berada di antara mereka. Ini adalah"pengasinan dengan api."
Penganiayaan yang mereka derita adalah disiplin mereka dari penderitaan,
melalui mana Allah memurnikan dan menjaga mereka. Disiplin ini diperlukan untuk
semua orang Kristen. Mereka harus mempersenjatai diri dengan pikiran yang sama,
meskipun mereka mungkin tidak hidup dalam
masa penganiayaan luar.[11]
Garam Menjadi Tawar
Di
dalam Markus 9:50 dikatakan “ Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi
hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya.” Yang menjadi pemikiran banyak orang
adalah: “Mungkinkah garam menjadi tawar?”.
Konon di Sidon, Lebanon Selatan, ada seorang pedagang yang mengimpor
garam dari Siprus. Ia dipercaya pemerintah memasok garam di wilayah itu untuk
jangka panjang, dan tentu dalam jumlah yang besar. Lalu ia menyewa 65 rumah
penduduk di daerah pegunungan untuk digunakan sebagai gudang garam. Stok garam
itu ditimbun di lantai tanah setiap rumah tanpa alas apa pun, dan setelah
beberapa tahun semua garam itu rusak. Garam menjadi tawar, mubazir dan merusak
kesuburan tanah di sekitarnya. Tidak ada tempat bagi garam yang rusak, tidak di
rumah, pekarangan, ataupun ladang. Tidak seorang pemilik rumah pun yang
mengizinkan garam itu disimpan atau
dibuang di pekarangan mereka, dan
satu-satunya tempat adalah membuangnya di jalan.[12]
Kisah di Alkitab Yang Berhubungan dengan
Garam dan Api
Di dalam Alkitab terdapat kisah yang
berhubungan dengan garam dan api, yang dapat dijadikan menjadi perbandingan
dengan Markus 9:49. Adalah sebuah kisah dari Lot, yang dituliskan oleh Musa
dalam Kejadian 19:1-29. Di ayat yang ke-24 “Kemudian Tuhan menurunkan hujan
belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari Tuhan dari langit;
dikatakan mengenai belerang atau api yang berasal dari Tuhan yang menghujani
sodom dan Gomora.” Dan di ayat yang
ke-26 “Tetapi Isteri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu
menjadi tiang garam. Kemudian dalam buku Sejarah Para Nabi dikatakan “Tetapi
rasa segan serta sikap yang berlambatan telah menyebabkan isterinya meremehkan
amaran Ilahi. Sekalipun tubuhnya berada di atas padang itu tetapi hatinya
terpaut erat ke Sodom dan ia pun binasa besertanya. Ia memberontak terhadap
Allah oleh sebab pehukuman-Nya mencakup kebinasaan harta benda dan
anak-anaknya. Sekalipun Allah telah berkenan untuk memanggil dia ke luar dari
kota yang jahat itu, ia telah merasa diperlakukan dengan kejam, oleh karena
kekayaannya yang telah ia kumpulkan bertahun-tahun lamanya itu harus
dibinasakan.”[13] Isteri
Lot yang mengikatkan hatinya dengan Sodom, telah mendapatkan hukuman yaitu
menjadi tiang garam. Dia “digarami” dan orang-orang di kota Sodom,
dihujani dengan api.
BAB
III
KESIMPULAN
Terjemahan dan Komentar yang Diikuti
Dari 10 terjemahan yang telah didapatkan
penulis tetap memakai terjemahan “salted
with fire”, atau dalam bahasa Indonesia “digarami dengan api”. Dan dari komentar-komentar para ahli, penulis
mendapatkan pengertian bahwa kata “digarami dengan api. ” Biarkan berhala yang
sangat menggiurkan itu diusir sebagai sesuatu yang sangat dibenci; jauhilah pencobaan, walaupun tampaknya sangat
menyenangkan. Sangatlah penting untuk melepaskan bagian yang rusak, supaya
keseluruhan bisa dipelihara. Bagian yang lukanya tidak dapat disembuhkan harus
dipotong, supaya bagian yang sehat tidak ikut rusak. Kita harus merelakan diri
kita mengalami rasa sakit, supaya kita tidak membawa diri kita kepada
kehancuran; diri harus disangkal, supaya tidak bisa dihancurkan. Diawetkan oleh
kemurnian
supaya tidak mengalami kematian kekal.
Pandangan Penulis
Kata “digarami dengan api” digunakan untuk
menjelaskan kejadian saat seseorang masih hidup. Pengikut Kristus harus
menunjukan “garamnya” kepada setiap orang, seperti Yesus sendiri katakan bahwa
“kamu adalah garam dunia.” Dan apabila pengikut-pengikut Kristus sebagai garam
menjadi tawar, atau menyatu dengan dunia maka ia harus “digarami dengan api.”
Daripada ia harus mengalami penyiksaan atau hukuman oleh api neraka, lebih baik
ia mengalami “digarami dengan api” saat masih hidup. Garam yang dalam kegunaannya
adalah mengawetkan dan api memurnikan, maka setiap pengikut Kristus harus
diawetkan dengan pemurnian yang berasal dari Tuhan . Dimana fungsi dari api
yang berasal dari Tuhan sendiri mempunyai dua fungsi: menghukum dan menguji,
apabila pengikut-pengikut Kristus tidak menyatakan garamnya, maka ia harus
dihukum dengan cara-cara ilahi supaya bertobat, dan apabila pengikut-pengikut
Kristus menyatakan garamnya, maka ia akan menerima ujian
yang menghasilkan pertumbuhan.
Makna Teologi dari Kata “Digarami dengan
Api”
Markus 9:49 juga menyimbolkan persembahan korban,
dimana terdapat garam dan api. Imamat
2:13 katakan “Dan tiap-tiap
persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah
kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala
persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam.” Kita sudah mendapatkan apa yang
disimbolkan oleh garam dan api, dimana garam adalah kemurnian dan api adalah
Kuasa Allah. Tetapi mengenai persembahannya kita dapat lihat di dalam, Roma
12:1” Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu,
supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus
dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Kita dapat
lihat di sini, bahwa diri kita lah korban tersebut. Kita harus mempersembahkan
diri kita kepada Tuhan, yang sudah diawetkan dengan kemurnian, memiliki sifat
kasih, sukacita, pendamai, sabar, murah hati,
setia, baik, lemah lembut, menguasai diri
sehingga Tuhan menerima kita.
Aplikasi dari Kata “Digarami dengan Api”
Garam
haruslah menjadi sifat orang Kristen, yang mengenakkan keadaan di sekitarnya,
yang mengobati sakit hati sesamanya. Menjadi orang yang menjauhkan hal-hal yang
jahat kepada orang lain, menjadi pembersih suasana. Menjadi orang yang mampu
memadamkan amarah orang lain, yang mampu mengawetkan kebaikan. Orang Kristen
jangan sampai menjadi hambar karena menjadi terikat dengan dunia, sehingga
tidak dapat lagi memberikan pengaruh yang baik kepada lingkungannya. Dan orang
Kristen harus memilih memikul penderitaan dan rasa sakit karena menolak dosa,
menahan diri supaya dia tidak mendapatkan penyiksaan yang kekal, oleh api
neraka.
[1]Wikimedia,
“Injil Markus”, Wikipedia: 1[Journal
on-line]; available from https://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Markus; Internet;
accessed 30 September 2015.
[2]Yayasan
Lembaga SABDA (YLSA), “Sejarah Alkitab Indonseia”, Sabda: [Journal on-line] available from
http://www.sabda.org/sejarah/artikel/mengapa_ada_4_injil.htm; Internet;
accessed 20 Oktober 2015.
[3]F.X. Agis
Triatmo O. Carm, “Yesus Menurut Injil Markus”, Iman Katolik: 1[Journal on-line]; available from
http://www.imankatolik.or.id/yesus_menurut_injil_markus.html; Internet;
accessed 20 Oktober 2015.
[4]Advendy
Hasibuan, “Belajar Kegagalan Markus”, Yesus
Jalan Keluar: 1[Journal on-line]; available from
http://yesusjalankeluar.blogspot.co.id/2014/08/belajar-kegagalan-markus.html;
Internet; accessed 20 Oktober 2015.
[5]Ebta
Setiawan, “Kamus Besar Bahasa Indonesia”,KBBI:
1[Journal on-line]; available from http://kbbi.web.id/aneh ; Internet; accessed
20 Oktober 2015.
[6]Khiki Hapsha,
“Frasa dan Macamnya”, KhikihapshaBlogspot: 1[Journal on-line]; available from
http://khikihapsha.blogspot.co.id/ ; Internet; accessed 20 Oktober 2015.
[7]Kamus
Bahasa Sunda.Com , “Disucikeun ku seuneu”, Kamusbahasasunda.com:
1[Journal on-line]; available from http://kamus-sunda.com/ ; Internet; accessed
25 Oktober 2015.
[8]Dukut
Wahyu Nugroho, “Berbagai Manfaat Unik Garam di Sekitar Kita”, Duocode Portal: 1[Journal on-line];
available from
http://duocode.blog.uns.ac.id/2012/10/18/berbagai-manfaat-unik-garam-di-sekitar-kita/;
Internet; accessed 20 Oktober 2015.
[9]Charles J.
Ellicot’s, Ellicot’s Commentary (
United Kingdom: Cassel Publisher, 1897), 167.
[10]Biblo.com, “Mark 9:49”, Bible Hub: [Journal on-line]; available
fromhttp://biblehub.com/commentaries/mark/9-49.htm; Internet; accessed 20
Oktober 2015.
[11]Spence and
Joseph S. Exell, The Pulpit Commentary (Newyork:
H.D.M. Funk and Wagnalis Company, 1995), 24.
[12]WordPress,
“Garam Takkan Tawar”, KristusHidup.Org:
[Journal on-line] available from
http://kristushidup.org/wphidup/garam-takkan-tawar/; Internet; accessed 25
Oktober 2015.
[13]Ellen G.
White, Sejarah Para Nabi (Bandung:
Indonesia Publishing House, 1999), 183-184.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar