Kamis, 12 September 2024

Pemahaman Digarami dengan Api dalam Markus 9:49

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

            Injil Markus adalah Injil kedua di bagian Perjanjian Baru dalam Alkitab.  Meskipun ini merupakan kitab kedua, banyak pakar menganggap kitab ini sebagai kitab yang ditulis paling awal di antara kitab-kitab di Perjanjian Baru.  Menurut catatan gereja mula-mula, Markus menulis Injilnya berdasarkan penuturan Petrus.  Dua tema besar dalam Injil Markus adalah tentang kerahasiaan Yesus sebagai Mesias dan kelambanan murid-muridnya untuk memahaminya.  Markus menulis Injil ini terutama untuk orang-orang Yunani atau Grika dan bangsa-bangsa lainnya yang berbicara bahasa Yunani di kekaisaran Romawi.[1]

Berdasarkan tradisi awal, dia bertindak sebagai juru tulis atau sekretaris Petrus. Oleh karena itu, Injil yang ditulisnya tidaklah salah kalau disebut juga sebagai catatan dari pengajaran Petrus tentang Injil.[2]

Ciri utama menandai Injil Markus: Injil ini penuh kegiatan, yang lebih menekankan apa yang dilakukan Yesus daripada apa yang diajarkan oleh-Nya.  Injil ini khususnya untuk orang Romawi, serta menjelaskan adat-istiadat Yahudi, meniadakan semua daftar keturunan Yahudi dan kisah kelahiran, penggunaan istilah Latin dan menerjemahkan kata-kata dalam bahasa Aram.  Injil ini bernada mendesak dimulai dengan tiba-tiba dan bergerak dengan cepat dari episode yang satu kepada episode yang lain, dengan menggunakan 42 kali kata keterangan Yunani yang diterjemahkan dengan "seketika itu juga".  Injil ini ditulis dengan hidup, seraya menggambarkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus dengan ringkas dan tepat, dengan gamblang dan dengan keahlian dari seorang pujangga.[3]

Ketika Paulus dan Barnabas menyelesaikan pelayanan di kota Pafos dan ingin melanjutkan ke kota Perga, Markus meninggalkan mereka. (Kisah Rasul 13:13. "Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia; tetapi Yohanes meninggalkan mereka lalu kembali ke Yerusalem."). Markus mundur dari pelayanan.  Apa yang dilakukan Markus telah mengecewakan Paulus.  Hal ini diungkapkan Paulus kepada Barnabas , sehingga membuat perselisihan diantara mereka.[4]

Kemudian timbul sebuah permasalahan yang dihadapi penulis, mengenai Markus 9:49, ayat itu berbunyi “Karena setiap orang akan digarami dengan api. ” yang menjadi ketertarikan penulis adalah pada kata “digarami dengan api”, yang maknanya tidak dapat dimengerti secara langsung. Apabila kata digarami maka seharusnya dengan garam, dibakar dengan api, dimaniskan dengan gula, diasamkan dengan asam.  Ini adalah sebuah kata yang aneh atau  tidak seperti yang biasa kita lihat dengar dan sebagainya.[5] Ini adalah sebuah frasa yang merupakan bagian kalimat yang terbentuk dari dua kata atau lebih yang hanya menduduki satu fungsi atau jabatan.[6]

 

Identifikasi Masalah

            Berdasarkan latar belakang masalah yang di uraikan diatas, maka penulis mengindentifikasi beberapa permasalahan yaitu:

  1. Apa makna kata “digarami dengan api” dalam Markus 9:49?
  2. Apakah makna Teologi dari kata “digarami dengan api?”
  3. Apakah ada aplikasi yang dapat diambil dari kata “digarami dengan api”?

Tujuan Penelitian

Dalam penulisan makalah ini, penulis mempunyai beberapa tujuan yang ingin didapatkan dari penelitian ini.

  1. Mencari tahu makna kata “digarami dengan api” dalam Markus 9:49
  2. Mencari tahu makna Teologi kata “digarami dengan api” dalam Markus 9:49
  3. Mencari tahu aplikasi yang dapat diambil dari kata “digarami dengan api”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Kata “Digarami dengan Api” dalam Bahasa Yunani

            Dalam bahasa Yunani, ayat Markus 9:49 adalah “πᾶς γὰρ πυρὶ ἁλισθήσεται” apabila dibaca dalam latin, “Pas gar puri alisthēsetai.” Dan dalam bahasa aslinya, “digarami dengan api” adalah “πυρὶ ἁλισθήσεται.” πυρὶ yang artinya “api” dan “ἁλισθήσεται” artinya digarami. Kata dasar dari ”πυρὶ” adalah πυρ ” yang dibaca “pur” dan “ἁλισθήσεται adalah “ἁλίζω” yang dibaca “alizo.”

            Apabila kata “πυρ” diterjemahkan ke dalam bahasa inggris adalah:  burning, fiery, fire. Dan apabila kata “ἁλίζω” diterjemahkan ke dalam bahasa inggris adalah: made salty, salted. Maka apabila diterjemahkan secara serentak adalah “Salted with Fire.”

            Demikian adalah terjemahan dari kata “puri alisthēsetai” yang memiliki beberapa pengertian dalam bahasa Inggris, tetapi bagaimana dalam terjemahan Alkitab yang lain, yang

memiliki kata dalam bahasa Inggris.

Terjemahan Alkitab Lain

            Seperti ayat-ayat lainnya, ayat Markus 9:49 tentunya memiliki banyak terjemahan, yang dapat menolong penulis, dalam mendapatkan tujuan dari penulisan makalah, diantaranya:

For everyone will be salted with fire.  ( New American Standard Bible)

For every one shall be salted with fire, and every sacrifice shall be salted with salt.   (King James Bible).

For everyone will be salted with fire.  ( Holman Christian Standard Bible)

Because everyone will be salted with fire, and every sacrifice will be salted with salt.  (International Standard Version)

Everyone will be salted with fire.  (NET Bible)

For everything will be seasoned with fire and every sacrifice will be seasoned with salt. (Aramaic Bible in Plain English)

Everyone will be salted with fire.  (GOD'S WORD Translation)

For every one shall be salted with fire, and every sacrifice shall be salted with salt.  (King James 2000 Bible).

Unggal jelema bakal disucikeun ku seuneu, saperti kurban disucikeun ku uyah.  (Alkitab Basa Sunda).

  Setiap orang akan dimurnikan dengan api, seperti kurban disucikan dengan garam. (Bahasa Indonesia Sehari-hari).

Dari kebanyakan terjemahan, banyak yang menggunakan kata “salted with fire,” yaitu  New American Standard Bible, King James Bible, Holman Christian Standard Bible, International Standard Version, NET Bible, GOD'S WORD Translation, King James 2000 Bible.  Hanya satu  terjemahan yang memberikan perbedaan, karena menerjemahkannya dengan kata dalam bahasa inggris “seasoned with fire” yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah “dibumbui dengan api.” Alkitab bahasa sunda juga memberikan perbedaan dengan menerjemahkannya “disucikeun ku seuneu” yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “disucikan oleh api.”[7]

 

 

Kata “Puri Alisthēsetai” dalam Ayat Lain

            Penulis mencari kata “puri alisthēsetai” dalam ayat lain juga, agar supaya mendapatkan perbandingan dari ayat-ayat yang ditemukan.  Tetapi hasilnya tidak ditemukan penggunaan kata “puri alisthēsetai” dalam ayat lain dalam kitab perjanjian baru lainnya.  Dengan kata lain, hanya Markus yang menggunakan dan menulis “puri

alisthēsetai” dalam bukunya.

Fungsi Garam dalam Kehidupan Sehari-hari

            Penggunaan garam tidak pada tempatnya dapat merusak lingkungan dan menjadikan lahan kering dengan kandungan kadar garam tinggi, atau pencemaran pada persediaan air. Tetapi garam juga dapat menjadi zat yang sangat berguna, sebab sesungguhnya, tubuh kita mengandalkan garam dari sumber eksternal untuk kelangsungan hidup.  Menurut Institut Salt, garam memiliki lebih dari 14.000 kegunaan yang sudah diketahui. 

Berikut sedikit penggunaan dari garam: sebagai bahan poles, sebagai pembersih pipa saluran, membersihkan jendela kaca dan kaca mobil dari embun, menggosok periuk dan panci, menghilangkan noda teh dan noda kopi, mensterilkan spons, penakluk serangga, cara paling bersahabat untuk membasmi gulma, pencuci mulut dan obat kumur, membersihkan papan potong yang berbau tidak sedap, pembersih setrika, mencegah terbentuknya noda pada cerobong, pemadam kebakaran, mengenakkan makanan, mengusir ular, mengawetkan. Demikian hanya beberapa masalah yang umum dari berbagai kegunaan garam, akan tetapi sesungguhnya masih banyak manfaat lainnya.[8]

 

 

 

Komentar Beberapa Pihak

Ellicot’s Commentary

Mengenai hal ini dapat diartikan  (a) bahwa  kata"setiap orang" digunakan untuk mereka yang akhirnya menyesatkan; (b) bahwa dapat digunakan kata yang sama, yaitu  "mengasinkan," harus digunakan dalam indra kontras seperti dalam ayat

yang sama; (c) bahwa terdapat simbolisme:

Garam

Garam mewakili elemen spiritual yang Yesus ingin agar dimiliki murid-murid-

Nya,  dapat dilihat  dalam Matius 5:13; Lukas 14:34; Kolose 4: 6.

Api     

Api Muncul sebagai simbol Kuasa atau Kebenaran Allah,  beberapa ayat diantaranya adalah Matius 3:11, Lukas 12: 49,  1 Korintus 3:13,  1 Petrus 1: 7.  Dalam ayat-ayat ini tidak ada keraguan bahwa "api" merupakan kebenaran Allah dinyatakan sebagai penguji atau

hukuman atau bisa dikatakan juga pencobaan.[9]

Mathew Henry Concise Commentary

Masalah ini menganggap bahwa tangan, mata, atau kaki kita, menyesatkan kita;  bahwa kejahatan kotor yang kita lakukan sangatlah dekat dengan kita bagaikan mata atau tangan kita, atau dengan kata lain, perbuatan jahat yang bagaikan mata atau tangan kita sendiri itu, sudah menjadi godaan atau kesempatan untuk berbuat dosa yang tidak tampak.  Biarkan berhala yang sangat menggiurkan itu diusir sebagai sesuatu yang sangat dibenci;  jauhilah pencobaan, walaupun tampaknya sangat menyenangkan. Sangatlah penting untuk melepaskan bagian yang rusak, supaya keseluruhan bisa dipelihara. Bagian yang lukanya tidak dapat disembuhkan harus dipotong, supaya bagian yang sehat tidak ikut rusak. Kita harus merelakan diri kita mengalami rasa sakit, supaya kita tidak membawa diri kita kepada kehancuran; diri harus disangkal, supaya tidak bisa dihancurkan.  Dengan memberikan ancaman yang menakutkan, perkataan ini diulang tiga kali di sini, Di tempat itu ulatnya tidak

akan mati, dan apinya tidak akan padam! Yesaya 66:24.[10]

Pulpit Commentary

Klausa kedua dari ayat ini harus dihilangkan, meskipun jelas bahwa ada dalam kata-kata dalam Imamat.  "Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam." Setiap orang akan digarami dengan api. "Setiap orang." Pernyataan itu adalah umum dalam penerapannya. Tidak ada batasan. Yang baik dan yang jahat sama akan "digarami dengan api." Tapi harus diingat bahwa baik garam dan api yang digunakan di sini dalam arti kiasan; dan ada api yang pidana, dan ada api yang memurnikan. Dalam kasus orang fasik api adalah pidana; dan pengasinan dengan api dalam kasus mereka hanya dapat berarti penderitaan hati nurani tersiksa, yang harus sepadan dengan keberadaannya dalam kondisi moral yang sama. Tapi ada api yang memurnikan. Rasul Petrus, menyikapi Kristen dari (1 Petrus 4:12), tawaran mereka untuk tidak berpikir itu aneh mengenai "nyala api siksaan" yang berada di antara mereka. Ini adalah"pengasinan dengan api." Penganiayaan yang mereka derita adalah disiplin mereka dari penderitaan, melalui mana Allah memurnikan dan menjaga mereka. Disiplin ini diperlukan untuk semua orang Kristen. Mereka harus mempersenjatai diri dengan pikiran yang sama, meskipun mereka mungkin tidak hidup dalam

masa penganiayaan luar.[11]

 

Garam Menjadi Tawar

            Di dalam Markus 9:50 dikatakan “ Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya.” Yang menjadi pemikiran banyak orang adalah: “Mungkinkah garam menjadi tawar?”.  Konon di Sidon, Lebanon Selatan, ada seorang pedagang yang mengimpor garam dari Siprus. Ia dipercaya pemerintah memasok garam di wilayah itu untuk jangka panjang, dan tentu dalam jumlah yang besar. Lalu ia menyewa 65 rumah penduduk di daerah pegunungan untuk digunakan sebagai gudang garam. Stok garam itu ditimbun di lantai tanah setiap rumah tanpa alas apa pun, dan setelah beberapa tahun semua garam itu rusak. Garam menjadi tawar, mubazir dan merusak kesuburan tanah di sekitarnya. Tidak ada tempat bagi garam yang rusak, tidak di rumah, pekarangan, ataupun ladang. Tidak seorang pemilik rumah pun yang mengizinkan garam itu disimpan atau

dibuang di pekarangan mereka, dan satu-satunya tempat adalah membuangnya di jalan.[12]

Kisah di Alkitab Yang Berhubungan dengan Garam dan Api

            Di dalam Alkitab terdapat kisah yang berhubungan dengan garam dan api, yang dapat dijadikan menjadi perbandingan dengan Markus 9:49. Adalah sebuah kisah dari Lot, yang dituliskan oleh Musa dalam Kejadian 19:1-29. Di ayat yang ke-24 “Kemudian Tuhan menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora, berasal dari Tuhan dari langit; dikatakan mengenai belerang atau api yang berasal dari Tuhan yang menghujani sodom dan Gomora.”  Dan di ayat yang ke-26 “Tetapi Isteri Lot, yang berjalan mengikutinya, menoleh ke belakang, lalu menjadi tiang garam. Kemudian dalam buku Sejarah Para Nabi dikatakan “Tetapi rasa segan serta sikap yang berlambatan telah menyebabkan isterinya meremehkan amaran Ilahi. Sekalipun tubuhnya berada di atas padang itu tetapi hatinya terpaut erat ke Sodom dan ia pun binasa besertanya. Ia memberontak terhadap Allah oleh sebab pehukuman-Nya mencakup kebinasaan harta benda dan anak-anaknya. Sekalipun Allah telah berkenan untuk memanggil dia ke luar dari kota yang jahat itu, ia telah merasa diperlakukan dengan kejam, oleh karena kekayaannya yang telah ia kumpulkan bertahun-tahun lamanya itu harus dibinasakan.”[13] Isteri Lot yang mengikatkan hatinya dengan Sodom, telah mendapatkan hukuman yaitu menjadi tiang garam. Dia “digarami” dan orang-orang di kota Sodom,

dihujani dengan api.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Terjemahan dan Komentar yang Diikuti

Dari 10 terjemahan yang telah didapatkan penulis tetap memakai terjemahan “salted with fire”, atau dalam bahasa Indonesia “digarami dengan api”.  Dan dari komentar-komentar para ahli, penulis mendapatkan pengertian bahwa kata “digarami dengan api. ” Biarkan berhala yang sangat menggiurkan itu diusir sebagai sesuatu yang sangat dibenci;  jauhilah pencobaan, walaupun tampaknya sangat menyenangkan. Sangatlah penting untuk melepaskan bagian yang rusak, supaya keseluruhan bisa dipelihara. Bagian yang lukanya tidak dapat disembuhkan harus dipotong, supaya bagian yang sehat tidak ikut rusak. Kita harus merelakan diri kita mengalami rasa sakit, supaya kita tidak membawa diri kita kepada kehancuran; diri harus disangkal, supaya tidak bisa dihancurkan. Diawetkan oleh kemurnian

supaya tidak mengalami kematian kekal.

Pandangan Penulis

Kata “digarami dengan api” digunakan untuk menjelaskan kejadian saat seseorang masih hidup. Pengikut Kristus harus menunjukan “garamnya” kepada setiap orang, seperti Yesus sendiri katakan bahwa “kamu adalah garam dunia.” Dan apabila pengikut-pengikut Kristus sebagai garam menjadi tawar, atau menyatu dengan dunia maka ia harus “digarami dengan api.” Daripada ia harus mengalami penyiksaan atau hukuman oleh api neraka, lebih baik ia mengalami “digarami dengan api” saat masih hidup. Garam yang dalam kegunaannya adalah mengawetkan dan api memurnikan, maka setiap pengikut Kristus harus diawetkan dengan pemurnian yang berasal dari Tuhan . Dimana fungsi dari api yang berasal dari Tuhan sendiri mempunyai dua fungsi: menghukum dan menguji, apabila pengikut-pengikut Kristus tidak menyatakan garamnya, maka ia harus dihukum dengan cara-cara ilahi supaya bertobat, dan apabila pengikut-pengikut Kristus menyatakan garamnya, maka ia akan menerima ujian

yang menghasilkan pertumbuhan.

Makna Teologi dari Kata “Digarami dengan Api”

            Markus 9:49  juga menyimbolkan persembahan korban, dimana  terdapat garam dan api. Imamat 2:13 katakan  “Dan tiap-tiap persembahanmu yang berupa korban sajian haruslah kaububuhi garam, janganlah kaulalaikan garam perjanjian Allahmu dari korban sajianmu; beserta segala persembahanmu haruslah kaupersembahkan garam.” Kita sudah mendapatkan apa yang disimbolkan oleh garam dan api, dimana garam adalah kemurnian dan api adalah Kuasa Allah. Tetapi mengenai persembahannya kita dapat lihat di dalam, Roma 12:1” Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Kita dapat lihat di sini, bahwa diri kita lah korban tersebut. Kita harus mempersembahkan diri kita kepada Tuhan, yang sudah diawetkan dengan kemurnian, memiliki sifat kasih, sukacita, pendamai, sabar, murah hati,

setia, baik, lemah lembut, menguasai diri sehingga Tuhan menerima kita.

Aplikasi dari Kata “Digarami dengan Api”

            Garam haruslah menjadi sifat orang Kristen, yang mengenakkan keadaan di sekitarnya, yang mengobati sakit hati sesamanya. Menjadi orang yang menjauhkan hal-hal yang jahat kepada orang lain, menjadi pembersih suasana. Menjadi orang yang mampu memadamkan amarah orang lain, yang mampu mengawetkan kebaikan. Orang Kristen jangan sampai menjadi hambar karena menjadi terikat dengan dunia, sehingga tidak dapat lagi memberikan pengaruh yang baik kepada lingkungannya. Dan orang Kristen harus memilih memikul penderitaan dan rasa sakit karena menolak dosa, menahan diri supaya dia tidak mendapatkan penyiksaan yang kekal, oleh api neraka.

 

 

 

 

 



[1]Wikimedia, “Injil Markus”, Wikipedia: 1[Journal on-line]; available from https://id.wikipedia.org/wiki/Injil_Markus; Internet; accessed 30 September 2015.

 

[2]Yayasan Lembaga SABDA (YLSA), “Sejarah Alkitab Indonseia”, Sabda: [Journal on-line] available from http://www.sabda.org/sejarah/artikel/mengapa_ada_4_injil.htm; Internet; accessed 20 Oktober 2015.

[3]F.X. Agis Triatmo O. Carm, “Yesus Menurut Injil Markus”, Iman Katolik: 1[Journal on-line]; available from http://www.imankatolik.or.id/yesus_menurut_injil_markus.html; Internet; accessed 20 Oktober 2015.

 

[4]Advendy Hasibuan, “Belajar Kegagalan Markus”, Yesus Jalan Keluar: 1[Journal on-line]; available from http://yesusjalankeluar.blogspot.co.id/2014/08/belajar-kegagalan-markus.html; Internet; accessed 20 Oktober 2015.

 

[5]Ebta Setiawan, “Kamus Besar Bahasa Indonesia”,KBBI: 1[Journal on-line]; available from http://kbbi.web.id/aneh ; Internet; accessed 20 Oktober 2015.

 

[6]Khiki Hapsha, “Frasa dan Macamnya”, KhikihapshaBlogspot: 1[Journal on-line]; available from http://khikihapsha.blogspot.co.id/ ; Internet; accessed 20 Oktober 2015.

[7]Kamus Bahasa Sunda.Com , “Disucikeun ku seuneu”, Kamusbahasasunda.com: 1[Journal on-line]; available from http://kamus-sunda.com/ ; Internet; accessed 25 Oktober 2015.

[8]Dukut Wahyu Nugroho, “Berbagai Manfaat Unik Garam di Sekitar Kita”, Duocode Portal: 1[Journal on-line]; available from http://duocode.blog.uns.ac.id/2012/10/18/berbagai-manfaat-unik-garam-di-sekitar-kita/; Internet; accessed 20 Oktober 2015.

[9]Charles J. Ellicot’s, Ellicot’s Commentary ( United Kingdom: Cassel Publisher, 1897), 167.

[10]Biblo.com, “Mark 9:49”, Bible Hub: [Journal on-line]; available fromhttp://biblehub.com/commentaries/mark/9-49.htm; Internet; accessed 20 Oktober 2015.

[11]Spence and Joseph S. Exell, The Pulpit Commentary (Newyork: H.D.M. Funk and Wagnalis Company, 1995), 24.

[12]WordPress, “Garam Takkan Tawar”, KristusHidup.Org: [Journal on-line] available from http://kristushidup.org/wphidup/garam-takkan-tawar/; Internet; accessed 25 Oktober 2015.

[13]Ellen G. White, Sejarah Para Nabi (Bandung: Indonesia Publishing House, 1999), 183-184.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WAHYU 11:3,4

makalah kejadian 4:5 Pemahaman Tuhan mengindahkan Persembahan Habel dan tidak mengindahkan persembahan Kain

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang masalah      Dalam   kejadian 1:1-31; 2:1-20 Tuhan menciptakan Bumi dengan keadaan ...