Sabtu, 09 Mei 2026
Metode mengajar
tahap umur 7-11 tahun (Tahap berpikir operasional konkrit) di tahap ini barulah anak bisa melakukan bermacam tugas. Tiga proses pengembangan tugas:
- nagasi: dia tahu ada perbedaan di akhir dan di awal dan apa yang terjadi ti antara kegiatan itu: contoh kita membereskan rumah, dia tau dimana letaknya sapu, buku, di tahap ini baru bisa dia menyapu dengan rapih dan bersih, bukan di bawah umur 7 tahun.
- Timbal balik: dimana anak tahu bertambah Panjang atau pendek. Contoh kemarin pada saat kemarin kami PA, bermain tepuk Pundak kirim ayat dan pasal. Mungkin untuk umur 11 tahun ke atas itu mudah, namun belum tentu untuk anak dibawah umur 11 tahun. Masih belajar adanya penambahan atau pengurangan. Makanya di sini juga anak-anak baru belajar pertambahan dan pengurangan. Kalau dibawah 6 tahun sudah tau penambahan pengurangan biasanya itu hanya BEO(mengulangi kata orang tua) bukan dengan kesadarannya sendiri. Jadi jangan kita marah terhadap anak jika tahap ini masih belum tau 8+9 atau yang lainnya. Bukan kita katakana anak kita bodoh, tapi dia masih tahap pembelajaran di umur ini.
- Identitas: anak belajar apa saja yang ada di rumahnya, apa yang hilang apa yang baru
Tahap berpikir operasional: 11-15 tahun
Tahap ini adalah tahp seorang anak berpikir abstrak dan hipotesis. Di sinilah dia berpikir kenapa 8+9=17hari sabat tidak boleh main bola dan memutuskan main bola atau tidak. Makanya di umur ini anak-anak baru belajar kimia fisika, dll karena sudah bisa berpikir abstrak. Di umur inilah seorang anak bisa menjelaskan. Bukan hanya sekedar membaca. Jadi misalnya andika, winner, Eveline, pratama, dapat bagian berita mission jangan membaca lagi. Karena pikirannya sudah bisa untuk menjelaskan. dan di umur inilah seorang anak sudah bisa dibaptis, karena dia sudah sadar kenapa harus dibaptis dan memutuskan untuk dibaptis.
Jadi kita sudah bisa tahu metode mengajar kepada anak dengan mengetahui umurnya.
Dan dalam tulisan membina anak yang bertanggung jawab dikatakan
1. Hadapi tugas dengan roh dan penuh kasih
2. Pengaruh Suatu Pembawaan yang Tenang dan Lemah Lembut. Sedikit saja orang yang menyadari pengaruh dari pembawaan hidup yang lemah lembut dan teguh, sekalipun di dalam hal memelihara seorang bayi. Ibu atau pengasuh yang tidak sabar dan pemarah dapat menimbulkan kegelisahan di dalam diri anak yang ada di atas pangkuannya, sedangkan suatu pembawaan yang lemah lembut cenderung untuk menenangkan saraf anak yang kecil itu.
Tapi ada pemahaman orang tua kita dulu, apa yang saya dapat dari orang tua saya itu yang kita perbuat, dan sebanarnya secara psikologi itu hal yang salah.
Contoh kalau orang tua dulu anaknya tidak bisa mengurangi atau menambah, udah siap di sbelah kanan kayu, kalau ngk bisa dipukul. Atau dibanting kepalanya ke meja, di rotan, Namanya juga belajar bukan secara kasar. Harus pembawaan yang lemah lembut.
3. Belajar dari pengalaman orang lain. Biarlah ibu mempelajari dengan saksama pengalaman orang lain, perhatian perbedaan antara metode mereka dengan metodenya sendiri, dan dengan teliti menguji cara-cara yang nampaknya amat berguna.
Dalam hal ini harus kita juga tidak sungkan untuk bertanya cara mendidik dari orang tua lainnya. Contoh kenapa anak orang lain pintar di bidang tertentu, kita bisa tanyakan harus dileskan contohnya. Kalau anak mau dileskan, jika kita mampu leskan. Jika si anak tidak mau y akita harus cari cara lain, jangan memaksakan juga si anaknya.
4. Ambil waktu bertukar pikiran. Setiap ibu harus mengambil waktu untuk bertukar pikiran dengan anak-anaknya, untuk memperbaiki kesalahan mereka, dan dengan sabar mengajarkan kepada mereka jalan yang benar.
Nah jangan sampai kita rasa, jaman saya dulu cara ajarnya begini, Sekaran sudah genz, bahkan gen alpha, yang metodenya berbeda, jadi ajak anak kita juga untuk bertukar pikiran
5. Lakukan cara yang berbeda dalam mendidik.
Kalau anak kita dididik secara keras, ternyata mentah, coba pikirkan cara yang lain, apa yang harus kita perbuat, memang kita sibuk bekerja, tapi jangan sampai kita sebagai ibu tidak mau belajar cara mendidik yang benar.
6. Jadikan singkat dan menarik.Bilamana para orangtua dengan tekun melaksanakan tugas mereka, sambil memberikannya dengan terinci, dan keterangan demi keterangan, dan menjadikan pelajaran-pelajaran itu singkat dan menarik, dan mengajar mereka bukan hanya oleh pengajaran tetapi juga dengan suri teladan, maka Tuhan akan bekerja sama dengan usaha mereka dan menjadikan mereka sebagai guru-guru yang efisien
Jadi bukan karena Panjang kita mengajar anak maka menempel, tapi singkat dan menarik, jangan membosankan yang akan membuat anak bisa memahami dnegan jelas.
7. Katakan Itu dengan Sederhana; Katakan itu Berulangkali.”
Dan walaupun tidak Panjang, tapi harus diingatkan berulang, karna kalau hanya sekali saja tidak akan menempel
8. Berikan untuk dorongan berpikir sendiri. Tanyakan mereka apa pendapat kamu, apa menurutpikiranmu, kenapa bisa begini. Jadi harus diajak berpikir juga jangan jadikan anak kita BEO tadi ya, hanya mengulang apa yang dikatakan, tapi tidak memahami maksudnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
WAHYU 11:3,4
makalah kejadian 4:5 Pemahaman Tuhan mengindahkan Persembahan Habel dan tidak mengindahkan persembahan Kain
BAB I PENDAHULUAN Latar belakang masalah Dalam kejadian 1:1-31; 2:1-20 Tuhan menciptakan Bumi dengan keadaan ...
-
BAB I PENDAHULUAN Latar belakang masalah Saksi adalah orang yang dapat bersaksi tentang fakta-fakta yang ada pada pert...
-
BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Shinto , secara harfiah bermakna "jalan/jalur dewa" adalah sebuah agama yang berasal dari ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar