BAB I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang
Shinto
, secara harfiah bermakna "jalan/jalur dewa" adalah sebuah agama yang
berasal dari Jepang. Dari masa Restorasi
Meiji hingga akhir Perang Dunia II, Shinto adalah agama resmi di Jepang.
Shinto
sebagai agama asli bangsa Jepang, agama tersebut memiliki sifat yang cukup
unik. Proses terbentuknya, bentuk-bentuk
upacara keagamaannya maupun ajaran-ajarannya memperlihatkan perkembangan yang
sangat ruwet. Banyak istilah-istilah
dalam agama Shinto yang sukar dialih bahasakan dengan tepat ke dalam bahasa
lainnya. Kata-kata Shinto sendiri
sebenarnya berasal dari bahasa China yang berarti “jalan para dewa”, “pemujaan
para dewa”, “pengajaran para dewa”, atau “agama para dewa”. Dan nama Shinto itu sendiri baru dipergunakan
untuk pertama kalinya untuk menyebut agama asli bangsa Jepang itu ketika agama
Buddha dan agama konfusius (Tiongkok) sudah memasuki Jepang pada abad keenam
masehi.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Pertumbuhan
dan Perkembangan
Agama
Shinto
Pertumbuhan
dan perkembagan agama serta kebudayaan Jepang memang memperlihatkan
kecenderungan yang asimilatif. Sejarah
Jepang memperlihatkan bahwa negeri itu telah menerima berbagai macam pengaruh,
baik kultural maupun spiritual dari luar. Semua pengaruh itu tidak
menghilangkan tradisi asli, dengan pengaruh-pengaruh dari luar tersebut justru
memperkaya kehidupan spiritual bangsa Jepang. Antara tradisi-tradisi asli dengan
pengaruh-pengaruh dari luar senantiasa dipadukan menjadi suatu bentuk tradisi
baru yang jenisnya hampir sama. Dan dalam proses perpaduan itu yang terjadi
bukanlah pertentangan atau kekacauan nilai, melainkan suatu kelangsungan dan
kelanjutan. Dalam bidang spiritual,
pertemuan antara tradisi asli Jepang dengan pengaruh-pengaruh dari luar itu
telah membawa kelahiran suatu agama baru yaitu agama Shinto, agama asli Jepang.
Shinto
adalah kata majemuk daripada “Shin” dan “To”. Arti kata “Shin” adalah “roh” dan “To” adalah
“jalan”. Jadi “Shinto” mempunyai arti
lafdziah “jalannya roh”, baik roh-roh orang yang telah meninggal maupun roh-roh
langit dan bumi. Kata “To” berdekatan dengan kata “Tao” dalam taoisme yang
berarti “jalannya Dewa” atau “jalannya bumi dan langit”. Sedang kata “Shin”
atau “Shen” identik dengan kata “Yin” dalam taoisme yang berarti gelap, basah,
negatif dan sebagainya ; lawan dari kata “Yang”. Dengan melihat hubungan nama “Shinto” ini,
maka kemungkinan besar Shintoisme dipengaruhi faham keagamaan dari Tiongkok. Sedangkan Shintoisme adalah faham yang berbau
keagamaan yang khusus dianut oleh bangsa Jepang sampai sekarang. Shintoisme merupakan filsafat religius yang
bersifat tradisional sebagai warisan nenek moyang bangsa Jepang yang dijadikan
pegangan hidup. Tidak hanya rakyat Jepang yang harus menaati ajaran Shintoisme
melainkan juga pemerintahnya juga harus menjadi pewaris serta pelaksana agama
dari ajaran ini.
· Sumber
luar (asing) yang banyak ditemukan pada sejumlah buku atau site seperti
wikipedia misalnya, menjelaskan dengan cukup detail tentang agama ini.
· Ajaran
Shinto menurut versi negara terutama saat agama ini ditetapkan sebagai agama
resmi zaman Meiji dahulu. Doktrin dan ajaran mulai ditulis yang sepertinya
lebih difokuskan pada ajaran kesetiaan pada negara dan kaisar.
· Sumber
dari lembaga pendidikan seperti Encyclopedia Shinto.
· Dan
yang terakhir adalah sumber dari masyarakat itu sendiri.
Sejarah.
Shintoisme
(agama Shinto) pada mulanya adalah merupakan perpaduan antara faham serba jiwa
(animisme) dengan pemujaan terhadap gejala-gejala alam. Shintoisme dipandang oleh bangsa Jepang
sebagai suatu agama tradisional warisan nenek moyang yang telah berabad-abad
hidup di Jepang, bahkan faham ini timbul daripada mitos-mitos yang berhubungan
dengan terjadinya negara Jepang. Latar
belakang historis timbulnya Shintoisme adalah sama-sama dengan latar belakang
historis tentang asal usul timbulnya negara dan bangsa Jepang. Karena yang menyebabkan timbulnya faham ini
adalah budidaya manusia dalam bentuk cerita-cerita pahlawan (mitologi) yang
dilandasi kepercayaan animisme, maka faham ini dapat digolongkan dalam
klasifikasi agama alamiah. Nama Shinto
muncul setelah masuknya agama Buddha ke Jepang pada abad keenam masehi yang
dimaksudkan untuk menyebut kepercayaan asli bangsa Jepang. Selama berabad-abad
antara agama Shinto dan agama Buddha telah terjadi percampuran yang sedemikian
rupa (bahkan boleh dikatakan agama Shinto berada di bawah pengaruh kekuasaan
agama Buddha) sehingga agama Shinto senantiasa disibukkan oleh usaha-usaha
untuk mempertahankan kelangsungan “hidupnya” sendiri. Pada perkembangan selanjutnya, dihadapkan
pertemuan antara agama Budha dengan kepercayaan asli bangsa Jepang (Shinto)
yang akhienya mengakibatkan munculnya persaingan yang cukup hebat antara
pendeta bangsa Jepang (Shinto) dengan para pendeta agama Buddha, maka untuk
mempertahankan kelangsungan hidup agama Shinto para pendetanya menerima dan
memasukkan unsur-unsur Buddha ke dalam sistem keagamaan mereka. Akibatnya agama
Shinto justru hampir kehilangan sebagian besar sifat aslinya. Misalnya, aneka
ragam upacara agama bahkan bentuk-bentuk bangunan tempat suci agama Shinto
banyak dipengaruhi oleh agama Buddha. Patung-patang dewa yang semula tidak
dikenal dalam agama Shinto mulai diadakan dan ciri kesederhanaan tempat-tempat
suci agama Shinto lambat laun menjadi lenyap digantikan dengan gaya yang penuh
hiasan warna-warni yang mencolok.
Tentang
pengaruh agama Buddha yang lain nampak pada hal-hal seperti anggapan bahwa
dewa-dewa Shintoisme merupakan Awatara Buddha (penjelmaan dari Buddha dan
Bodhisatwa), Dainichi Nyorai (cahaya besar) merupakan figur yang disamakan
dengan Waicana (salah satu dari dewa-dewa penjuru angin dalam Budhisme
Mahayana), hal im berlangsung sampai abad ketujuh belas masehi. Setelah abad
ketujuh belas timbul lagi gerakan untuk menghidupkan kembali ajaran Shinto
murni di bawah pelopor Kamamobuchi, Motoori, Hirata, Narinaga dan lain-lain
dengan tujuan bangsa Jepang ingin membedakan “Badsudo” (jalannya Buddha) dengan
“Kami” (roh-roh yang dianggap dewa oleh bangsa Jepang) untuk mempertahankan
kelangsungan kepercayaannya. Pada abad kesembilan belas tepatnya tahun 1868 agama
Shinto diproklamirkan menjadi agama negara yang pada saat itu agama Shinto
mempunyai 10 sekte dan 21 juta pemeluknya. Sejak saat itu dapat dikatakan bahwa
paham Shintoisme merupakan ajaran yang mengandung politik religius bagi Jepang,
sebab saat itu taat kepada ajaran Shinto berarti taat kepada kaisar dan berarti
pula berbakti kepada negara dan
politik
negara.
Kepercayaan
dan Peribadatan Agama Shinto
Kepercayaan agama Shinto
Dalam
agama Shinto yang merupakan perpaduan antara faham serba jiwa (animisme) dengan
pemujaan terhadap gejala-gejala alam mempercayai bahwasanya semua benda baik
yang hidup maupun yang mati dianggap memiliki ruh atau spirit, bahkan
kadang-kadang dianggap pula berkemampuan untuk bicara, semua ruh atau spirit
itu dianggap memiliki daya kekuasaan yang berpengaruh terhadap kehidupan mereka
(penganut Shinto), daya-daya kekuasaan tersebut mereka puja dan disebut dengan
“Kami”. Istilah “Kami” dalam agama
Shinto dapat diartikan dengan “di atas” atau “unggul”, sehingga apabila
dimaksudkan untuk menunjukkan suatu kekuatan spiritual, maka kata “Kami” dapat
dialih bahasakan (diartikan) dengan “Dewa” (Tuhan, God dan sebagainya). Jadi
bagi bangsa Jepang kata “Kami” tersebut berarti suatu objek pemujaan yang
berbeda pengertiannya dengan pengertian objek-objek pemujaan yang ada dalam
agama lain.
Dewa-dewa
dalam agama Shinto jumlahnya tidak terbatas, bahkan senantiasa bertambah, hal
ini diungkapkan dalam istilah “Yao-Yarozuno Kami” yang berarti “delapan miliun
dewa”. Menurut agama Shinto kepercayaan terhadap berbilangnya tersebut justru
dianggap mempunyai pengertian yang positif. Sebuah angka yang besar berarti
menunjukkan bahwa para dewa itu memiliki sifat yang agung, maha sempurna, maha
suci dan maha murah. Oleh sebab itu angka-angka seperti 8, 80, 180, 5, 100, 10,
50, 100, 500 dan seterusnya dianggap sebagai angka-angka suci karena
menunjukkan bahwa jumlah para dewa itu tidak terbatas jumlahnya. Dan seperti
halnya jumlah angka dengan bilangannya yang besar maka bilangan itu juga
menunjukkan sifat kebesaran dan keagungan “Kami”. Pengikut-pengikut agama
Shinto mempunyai semboyan yang berbunyi “Kami negara – no – mishi” yang artinya
: tetap mencari jalan dewa. Kepercayaan kepada “Kami” daripada benda-benda dan
seseorang, keluarga, suku, raja-raja sampai kepada “Kami” alam raya menimbulkan
kepercayaan kepada dewa-dewa. Orang Jepang (Shinto) mengakui adanya dewa bumi
dan dewa langit (dewa surgawi) dan dewa yang tertinggi adalah Dewi Matahari
(Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan pemberi kamakmuran dan kesejahteraan
serta kemajuan dalam bidang pertanian.
Disamping
mempercayai adanya dewa-dewa yang memberi kesejahteraan hidup, mereka juga
mempercayai adanya kekuatan gaib yang mencelakakan, yakni hantu roh-roh jahat
yang disebut dengan Aragami yang berarti roh yang ganas dan jahat. Jadi dalam
Shintoisme ada pengertian kekuatan gaib yang dualistis yang satu sama lain
saling berlawanan yakni “Kami” versus Aragami (Dewi melawan roh jahat)
sebagaimana kepercayaan dualisme dalam agama Zarathustra.
Dari
kutipan di atas dapat dilihat adanya tiga hal yang terdapat dalam konsepsi
kedewaan agama Shinto, yaitu :
· Dewa-dewa
yang pada umumnya merupakan personifikasi dari gejala-gejala alam itu dianggap
dapat mendengar, melihat dan sebagainya sehingga harus dipuja secara langsung.
· Dewa-dewa
tersebut dapat terjadi (penjelmaan) dari roh manusia yang sudah meninggal.
· Dewa-dewa
tersebut dianggap mempunyai spirit (mitama) yang beremanasi dan berdiam di
tempat-tempat suci di bumi
dan mempengaruhi kehidupan manusia.
Peribadatan agama Shinto.
Agama
Shinto sangat mementingkan ritus-ritus dan memberikan nilai sangat tinggi
terhadap ritus yang sangat mistis. Menurut agama Shinto watak manusia pada
dasarnya adalah baik dan bersih. Adapun jelek dan kotor adalah pertumbuhan
kedua, dan merupakan keadaan negatif yang harus dihilangkan melalui upacara
pensucian (Harae). Karena itu agama Shinto sering dikatakan sebagai agama yang
dimulai dengan dengan pensucian dan diakhiri dengan pensucian. Upacara
pensucian (Harae) senantiasa dilakukan mendahului pelaksanaan upacara-upacara
yang lain dalam agama Shinto.
Ritus-ritus
yang dilakukan dalam agama Shinto terutama adalah untuk memuja dewi Matahari
(Ameterasu Omikami) yang dikaitkan dengan kemakmuran dan kesejahteraan serta
kemajuan dalam bidang pertanian (beras), yang dilakukan rakyat Jepang
pada Bulan
Juli dan Agustus di atas gunung Fujiyama.
Ritual Shintoisme
Matsuri
adalah kata dalam bahasa Jepang yang menurut pengertian agama Shinto berarti
ritual yang dipersembahkan untuk Kami, sedangkan menurut pengertian sekularisme
berarti festival, perayaan atau hari libur perayaan. Matsuri diadakan di banyak
tempat di Jepang dan pada umumnya diselenggarakan jinja atau kuil, walaupun ada
juga matsuri yang diselenggarakan gereja dan matsuri yang tidak berkaitan
dengan institusi keagamaan. Di daerah Kyushu, matsuri yang dilangsungkan pada
musim gugur disebut Kunchi. Sebagian besar matsuri diselenggarakan dengan
maksud untuk mendoakan keberhasilan tangkapan ikan dan keberhasilan panen
(beras, gandum, kacang, jawawut, jagung), kesuksesan dalam bisnis, kesembuhan
dan kekebalan terhadap penyakit, keselamatan dari bencana, dan sebagai ucapan
terima kasih setelah berhasil dalam menyelesaikan suatu tugas berat. Matsuri
juga diadakan untuk merayakan tradisi yang berkaitan dengan pergantian musim
atau mendoakan arwah tokoh terkenal. Makna upacara yang dilakukan dan waktu
pelaksanaan matsuri beraneka ragam seusai dengan tujuan penyelenggaraan
matsuri. Matsuri yang mempunyai tujuan dan maksud yang sama dapat mempunyai
makna ritual yang berbeda tergantung pada daerahnya. Pada penyelenggaraan
matsuri hampir selalu bisa ditemui prosesi atau arak-arakan Mikoshi, Dashi
(Danjiri) dan Yatai yang semuanya merupakan nama-nama kendaraan berisi Kami
atau objek pemujaan. Pada matsuri juga bisa dijumpai Chigo (anak kecil dalam
prosesi), Miko (anak gadis pelaksana ritual), Tekomai (laki-laki berpakaian
wanita), Hayashi (musik khas matsuri), penari, peserta dan penonton yang
berdandan dan berpakaian bagus, dan
pasar kaget
beraneka macam makanan dan permainan
Matsuri
Matsuri
berasal dari kata matsuru (matsuru? menyembah, memuja) yang berarti pemujaan
terhadap Kami atau ritual yang terkait. Dalam teologi agama Shinto dikenal
empat unsur dalam matsuri: penyucian (harai), persembahan, pembacaan doa
(norito), dan pesta makan. Matsuri yang paling tua yang dikenal dalam mitologi
Jepang adalah ritual yang dilakukan di depan Amano Iwato. Matsuri dalam bentuk
pembacaan doa masih tersisa seperti dalam bentuk Kigansai (permohonan secara
individu kepada jinja atau kuil untuk didoakan dan Jichinsai (upacara sebelum
pendirian bangunan atau konstruksi). Pembacaan doa yang dilakukan pendeta
Shinto untuk individu atau kelompok orang di tempat yang tidak terlihat orang
lain merupakan bentuk awal dari matsuri. Pada saat ini, Ise Jingū merupakan
salah satu contoh kuil agama Shinto yang masih menyelenggarakan matsuri dalam
bentuk pembacaan doa yang eksklusif bagi kalangan terbatas dan peserta umum
tidak dibolehkan ikut serta. Sesuai dengan perkembangan zaman, tujuan
penyelenggaraan matsuri sering melenceng jauh dari maksud matsuri yang
sebenarnya. Penyelenggaraan matsuri sering menjadi satu-satunya tujuan
dilangsungkannya matsuri, sedangkan matsuri hanya tinggal sebagai wacana dan
tanpa makna
religius.
Dewa Dewi
Dewi
matahari Shinto disebut Tensho Daijin yang juga dikenal dengan Amaterasu
Omikami. Amaterasu adalah Ratu dari seluruh “Kami”, ia adalah anak dari Izanagi
dan Izanami (Dewa Pencipta dari mitologi Jepang). Keluarga Kekaisaran Jepang
mengatakan bahwa mereka adalah keturunan langsung dari garis keturunan Dewi
Amaterasu. Oleh karena itu maka para Kaisar Jepang dianggap sebagai keturunan
para dewa. Kamus Istilah dan Konsep Buddhis menyertakan informasi berikut
berkaitan dengannya: “Dewi Matahari yang terdapat dalam mitologi Jepang, yang
belakangan diadopsi menjadi seorang dewa pelindung dalam Buddhisme. Menurut
catatan sejarah tertua, Kojiki (Catatan tentang Hal-hal Kuno) dan Nihon Shoki
(Sejarah Negeri Jepang), ia adalah pemimpin mahkluk gaib dan juga leluhur dari
keluarga kerajaan. Dalam banyak tulisannya, Nichiren Daishonin memandang Tensho
Daijin sebagai personifikasi dari perbuatan-perbuatan yang melindungi
kemakmuran orang-orang yang memiliki hati kepercayaan dalam Hukum Sejati.”
BAB III
KESIMPULAN
Tujuan dan
Prinsip Keselamatan
Tujuan
utama dari Shinto adalah mencapai keabadian di antara mahluk-mahluk rohani,
Kami. Kami dipahami oleh penganut Shinto sebagai satu kekuasaan supernatural
yang suci hidup di atau terhubung dengan dunia roh. Agama Shinto sangat
animistik, sebagaimana kebanyakan keyakinan timur, percaya bahwa semua mahluk
hidup memiliki satu Kami dalam hakikatnya. Hakikat manusia adalah yang paling
tinggi, karena mereka memiliki Kami yang paling banyak. Keselamatan adalah
hidup dalam jiwa dunia dengan mahluk-mahluk suci ini, Kami. Jalan Untuk
Mencapai Tujuan Dalam Shinto keselamatan dicapai melalui pentaatan terhadap
semua larangan dan penghindaran terhadap orang atau obyek yang mungkin
menyebabkan ketidak sucian atau polusi. Persembahyangan dilakukan dan
persembahan dibawa ke kuil untuk para Dewa yang dikatakan ada sejumlah 800
miliar di alam semesta. Manusia tidak mempunyai Tuhan tertinggi untuk ditaati,
tapi hanya perlu mengetahui bagaimana menyesuaikan diri dengan Kami dalam
berbagai manifestasinya. Kami seseorang tetap hidup setelah kematian, dan
manusia biasanya menginginkan untuk berharga dan dikenang dengan baik oleh
keturunannya. Oleh karena itu, pemenuhan kewajiban adalah unsur yang paling
penting dari Shinto.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar