Kamis, 12 September 2024

Khotbah "TERSERAH"

 

Karya: Auster Apul Tiroy Situmorang         

 

 

Terserah

            Suatu hari,  dua orang pendaki  melewati wilayah yang sangat dingin, dimana hujan salju sedang turun. Tentu saja sebuah wilayah yang tidak nyaman dan sangat berbahaya, tapi mereka terus mencoba untuk melalui wilayah itu. Pada saat mereka berjalan, mereka terjegal oleh sebuah benda yang membuat mereka jatuh. Mereka terkejut, karena yang membuat mereka terjegal adalah seorang pria yang tidak sadarkan diri. Lalu yang satu katakan, “mari kita tolong dia, dan selamatkan dia.” Tetapi temannya menolak dia dan mengatakan “Buat apa kita selamatkan dia, sedangkan kita sendiri dalam keadaan yang tidak aman.” Tapi pria yang satu tetap menolong pria yang tidak sadarkan diri itu dan menggendongnya. Maka mereka mengambil jalan yang berbeda, pria yang satu ke kanan dan yang satu lagi ke kiri.

Pria yang menggendong pria yang tidak sadarkan diri itu terus berjalan, agar dirinyadan yang dia gendong bisa selamat. Dia terus berjalan menahan beban berat dari pria yang dia gendong. Kemudian, oleh karena hangat dari badannya, membuat pria yang dia gendong sadarkan diri. Maka mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang dan mendapatkan keselamatan. Mereka berjalan dan terus berjalan, tiba-tiba mereka kaget karena terjegal sebuah benda. Ternyata mereka tercegal oleh seorang pria yang tidak sadarkan diri, ketika mereka lihat, ternyata pria yang tidak sadarkan diri itu adalah temannya yang tidak mau menolong pria yang tidak sadarkan diri tadi.

Seringkali di dalam kehidupan kita, kita hanya mementingkan diri sendiri, tidak perduli akan kesulitan yang dialami oleh orang lain. Tapi yang lebih berbahaya daripada itu adalah, sifat yang senang bila orang lain jatuh.  Atau sikap yang tidak memperdulikan kesusahan orang lain, itu adalah sifat yang sangat jahat.

Di dalam buku Markus 15:31 dikatakan bahwa: “Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli Taurat mengolok-olokkan Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata: "Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan!.” Kata yang saya ambil di sini adalah kata “selamatkan” yang dalam bahasa Yunani nya adalah ȅσωσεν yang memiliki kata dasar σωσω yang artinya “menyelamatkan.” Kita dapat lihat di sini, pada saat itu Yesus mendapatkan olok-olok dari ahli-ahli Taurat yang mengatakan bahwa Yesus selamatkan orang lain, tetapi Dia tidak bisa selamatkan diri-Nya sendiri. Yesus tolong orang lain tetapi diri-Nya sendiri Dia tidak bisa tolong. Yesus lepaskan orang lain, tetapi diri-Nya sendiri Dia tidak bisa lepaskan dari kayu salib. Kita bisa lihat bahwa ahli-ahli Taurat menganggap Yesus adalah sangat bodoh.  Tapi di sini juga kita bisa lihat, betapa murah hatinya Yesus, betapa sayangnya Yesus Kristus kepada kita manusia.

Ada tiga kesimpulan yang hendak saya bagikan. Pertama” Kita bisa lihat betapa Dia mengasihi umat manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Sehingga, Dia selamatkan umat manusia, sehingga, Dia menyelamatkan orang-orang yang sudah melukai hati-Nya, melanggar hukum-hukum-Nya, menduakan Dia. Yohanes juga tuliskan, begitu besar kasih-Nya sehingga Ia merelakan diri-Nya mati di kayu salib menebus dosa kita.”

 Kedua, “Kita harus bersyukur, karena kita memiliki Allah yang tidak egois, Allah yang tidak pernah mengatakan “terserah” atau dalam bahasa lebih kasarnya “bodo amat, emang gua pikirin” Allah sangat peduli kepada kita, sekalipun kita sudah jatuh ke dalam dosa, berkhianat kepada Dia, tetapi Dia tinggalkan surga, demi menebus kita manusia, dan menyatakan, bahwa Allah bukanlah Allah yang egois.”

Ketiga, “sebagai anak Allah, marilah kita, mengikuti teladan-Nya, mengikuti sikap-Nya, yang penuh dengan kasih, suka menolong, peduli dan tidak egois. Sehingga, ketika orang lain membutuhkan pertolongan, kita tidak pernah katakan “terserah” kita tidak akan katakan “bodo amat, emang gua pikirin.” Tetapi katakan “mari, aku akan membantumu.”

Inilah Firman Tuhan yang boleh saya sampaikan, Tuhan memberkati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WAHYU 11:3,4

makalah kejadian 4:5 Pemahaman Tuhan mengindahkan Persembahan Habel dan tidak mengindahkan persembahan Kain

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang masalah      Dalam   kejadian 1:1-31; 2:1-20 Tuhan menciptakan Bumi dengan keadaan ...