Karya: Auster
Apul Tiroy Situmorang
Terserah
Suatu
hari, dua orang pendaki melewati wilayah yang sangat dingin, dimana
hujan salju sedang turun. Tentu saja sebuah wilayah yang tidak nyaman dan
sangat berbahaya, tapi mereka terus mencoba untuk melalui wilayah itu. Pada
saat mereka berjalan, mereka terjegal oleh sebuah benda yang membuat mereka
jatuh. Mereka terkejut, karena yang membuat mereka terjegal adalah seorang pria
yang tidak sadarkan diri. Lalu yang satu katakan, “mari kita tolong dia, dan
selamatkan dia.” Tetapi temannya menolak dia dan mengatakan “Buat apa kita
selamatkan dia, sedangkan kita sendiri dalam keadaan yang tidak aman.” Tapi
pria yang satu tetap menolong pria yang tidak sadarkan diri itu dan
menggendongnya. Maka mereka mengambil jalan yang berbeda, pria yang satu ke
kanan dan yang satu lagi ke kiri.
Pria yang
menggendong pria yang tidak sadarkan diri itu terus berjalan, agar dirinyadan
yang dia gendong bisa selamat. Dia terus berjalan menahan beban berat dari pria
yang dia gendong. Kemudian, oleh karena hangat dari badannya, membuat pria yang
dia gendong sadarkan diri. Maka mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk
pulang dan mendapatkan keselamatan. Mereka berjalan dan terus berjalan,
tiba-tiba mereka kaget karena terjegal sebuah benda. Ternyata mereka tercegal
oleh seorang pria yang tidak sadarkan diri, ketika mereka lihat, ternyata pria
yang tidak sadarkan diri itu adalah temannya yang tidak mau menolong pria yang
tidak sadarkan diri tadi.
Seringkali di
dalam kehidupan kita, kita hanya mementingkan diri sendiri, tidak perduli akan
kesulitan yang dialami oleh orang lain. Tapi yang lebih berbahaya daripada itu
adalah, sifat yang senang bila orang lain jatuh. Atau sikap yang tidak memperdulikan kesusahan
orang lain, itu adalah sifat yang sangat jahat.
Di dalam buku
Markus 15:31 dikatakan bahwa: “Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli
Taurat mengolok-olokkan Dia di antara mereka sendiri dan mereka berkata:
"Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia
selamatkan!.” Kata yang saya ambil di sini adalah kata “selamatkan” yang dalam
bahasa Yunani nya adalah ȅσωσεν yang
memiliki kata dasar σωσω yang
artinya “menyelamatkan.” Kita dapat lihat di sini, pada saat itu Yesus
mendapatkan olok-olok dari ahli-ahli Taurat yang mengatakan bahwa Yesus
selamatkan orang lain, tetapi Dia tidak bisa selamatkan diri-Nya sendiri. Yesus
tolong orang lain tetapi diri-Nya sendiri Dia tidak bisa tolong. Yesus lepaskan
orang lain, tetapi diri-Nya sendiri Dia tidak bisa lepaskan dari kayu salib.
Kita bisa lihat bahwa ahli-ahli Taurat menganggap Yesus adalah sangat
bodoh. Tapi di sini juga kita bisa
lihat, betapa murah hatinya Yesus, betapa sayangnya Yesus Kristus kepada kita
manusia.
Ada tiga
kesimpulan yang hendak saya bagikan. Pertama” Kita bisa lihat betapa Dia
mengasihi umat manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Sehingga, Dia selamatkan
umat manusia, sehingga, Dia menyelamatkan orang-orang yang sudah melukai
hati-Nya, melanggar hukum-hukum-Nya, menduakan Dia. Yohanes juga tuliskan,
begitu besar kasih-Nya sehingga Ia merelakan diri-Nya mati di kayu salib
menebus dosa kita.”
Kedua, “Kita harus bersyukur, karena kita
memiliki Allah yang tidak egois, Allah yang tidak pernah mengatakan “terserah”
atau dalam bahasa lebih kasarnya “bodo amat, emang gua pikirin” Allah sangat
peduli kepada kita, sekalipun kita sudah jatuh ke dalam dosa, berkhianat kepada
Dia, tetapi Dia tinggalkan surga, demi menebus kita manusia, dan menyatakan,
bahwa Allah bukanlah Allah yang egois.”
Ketiga,
“sebagai anak Allah, marilah kita, mengikuti teladan-Nya, mengikuti sikap-Nya,
yang penuh dengan kasih, suka menolong, peduli dan tidak egois. Sehingga,
ketika orang lain membutuhkan pertolongan, kita tidak pernah katakan “terserah”
kita tidak akan katakan “bodo amat, emang gua pikirin.” Tetapi katakan “mari,
aku akan membantumu.”
Inilah Firman
Tuhan yang boleh saya sampaikan, Tuhan memberkati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar