BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ketuhananmerupakan aspek esensial dalam setiap agama. Oleh karena itu,
ilmu tentang tuhan menjadi tema menarik dalam studi agama-agama, baik
klasik maupun kontemporer. apalagi studi agama menempatkan agama menjadi inti
dari kebudayaan yang dipraktikkan dalam dunia sosial. Tuhan merupakan fenomena
sosial kultural sebagai ekspresi religius masyarakat beragama. Sehinga prinsip
ketuhanan sering kali menjadi pro-kontra di dalam beragama dan di kalangan kaum
intelektual.
Berbicara ketuhanan adalah berbicara tentang pencipta
alam semesta. Namun prinsip ketuhanan menjadi kontraversi dikarenakan berbagai
definisi ketuhanan dari berbagai kalangan mengalami perbedaan bahkan agama satu
dengan yang lainnya mempunyai perbedaan terhadap definisi ketuhanan. prinsip
ketuhanan didalam suatu agama kadang menjadi masalah yang dapat
memicu terjadinya kesalah pahaman tentang cara pandang suatu agama, menurut
bangsa Indonesia suatu agama harus mempunyai tuhan sebagaimana di atur dalam
PANCASILA ayat pertama yang berbunyi Ketuhananan Yang Maha Esa, Jadi dapat di
simpulkan bahwa suatu agama harus memiliki tuhan apabila ingin diakui
sebagai salah satu agama di nusantara.
Agama
yang ada di nusantara ini mempunyai cara pandang yang bermacam-macam
tentang konsep ketuhanan, salah satu contohnya adalah Hindu dan Buddha
walaupun secara sekilas kedua agama mempunyai doktrin yang hampir mirip dan
mampu bersingkrestisme dengan baik, akan tetapi dalam konsep ketuhanan kedua
agama ini mempunyai perbedaan yang sangat signifikan sehinga dapat membedakan
kedua agama ini secara jelas.
Sebagai kaum intelek kita tidak akan dengan mudah
menerima begitu saja akan konsep ketuhanan yang telah ada pada agama
kepercayaaan masing-masing, akan tetapi kita harus mampu menganalisis,
menelaah, bahkan mengkritisi sehingga dapat menambah pengetahuan akan konsep
Ketuhanan, sehingga mampu meningkatkan kepercayaan dalam beragama.
Dalam makalah ini penulis akan melakukan perbandingan
tengtang konsep Ketuhanaan dalam agama Buddha dan Agama Hinddu, Sehingga dapat
memperjelas perbedaan akan konsep ketuhanan dalam kedua agama ini supaya mampu
mengetahui perbedaan konsep ketuhanan dalam agama Hinddu dan Buddha dengan
lebih jelas.
B. identifikasi Masalah
1. Seperti apakah konsep ketuhanan
dalam agama Buddha ?
2. Bagaimanakah Tuhan
menurut agama Buddha ?
C. Tujuan
1. Mengetahui konsep
ketuhanan dalam agama Buddha.
2. Mengetahui sejarah
pemikiran agama Buddha tentang konsep ketuhanan.
3. Mengetahui perbandingan
konsep ketuhanan dalam agama Hindu dan Buddha.
BAB II
PEMBAHASAN
AGAMA BUDDHA
Sejarah Agama Buddha
Sejarah agama
Buddha,
sebuah agama yang diasaskan oleh Siddharta
Gautama, mulai dari abad ke-6 SM dan oleh itu, adalah salah satu agama tertua yang masih dianut di dunia. Sepanjang masa ini,
unsur kebudayaan India ditambah dengan unsur-unsur kebudayaan Yunani, Asia Tengah, Asia Timur, dan Asia Tenggara. Dalam proses perkembangannya ini,
agama ini praktis telah menyentuh hampir seluruh benua Asia. Sejarah agama
Buddha juga ditandai dengan perkembangan banyak aliran dan mazhab, serta perpecahan-perpecahan. Yang utama di antaranya
adalah aliran tradisional Theravada , Mahayana, dan Vajrayana (Bajrayana)
yang sejarahnya ditandai dengan masa pasang dan surut.
Menurut tradisi Buddha, Siddharta
Gautama dilahirkan di India pada awal masa Magadha (546–324 SM), di sebuah kota, selatan pergunungan Himalaya yang bernama Lumbini. Sekarang kota ini terletak di Nepal sebelah
selatan. Beliau juga dikenali dengan nama Sakyamuni.Setelah kehidupan awalnya
yang penuh kemewahan di bawah perlindungan ayahnya, Raja Kapilavastu (kemudian hari
digabungkan dengan kerajaan Magadha), Siddharta
melihat kenyataan kehidupan sehari-hari dan menyimpul bahawa kehidupan nyata,
pada hakikatnya adalah kesengsaraan yang tak dapat dihindari. Siddharta
kemudian meninggalkan kehidupan mewahnya yang tak berertinya lalu menjadi
seorang pertapa. Kemudian ia berpendapat bahawa bertapa juga tak ada artinya,
lalu mencari jalan tengah antara kehidupan berfoya-foya yang terlalu memuaskan
hawa nafsu dan kehidupan pertapa yang terlalu menyeksa diri.
Di bawah sebuah pokok ara suci (Ficus religiosa), sekarang dikenali sebagai pokok
Bodhi, ia berikrar tidak akan meninggalkan tempat duduknya sehingga ia menemukan
Kebenaran. pada usia 35
tahun, ia mencapaipenerangan sempurna. Pada saat itu, ia dikenali sebagai
Buddha Gautama , sebuah perkataan Sanskerta yang bererti "ia yang sadar" (dari kata
budhha).
Kitab Suci Agama Buddha
Kanon Pali atau Tipitaka berarti tiga
keranjang penyimpanan Kanon (Kitab Suci). Selama beberapa abad sabda-sabda Sang
Buddha disampaikan dengan turun temurun dengan lisan saja, yaitu dengan jalan
menghafalkannya di luar kepala. Ajaran Sang Buddha dibukukan beberapa ratus
tahun setelah Sang Buddha mencapai Parinibbana.
Segera setelah Buddha mencapai
Parinibbana, diadakanlah Sidang Agung (Sangha-samaya) pertama di Gua Satapana,
di kota Rajagaha (343 S.M.). Sidang ini dipimpin oleh Y.A. Kassapa Thera.
Sidang ini dihadiri oleh 500 orang bhikkhu yang semuanya telah mencapai tingkat
Arahat. Sidang ini bertujuan menghimpun ajaran-ajaran Buddha Gotama yang
diberikan di tempat-tempat yang berlainan, pada waktu-waktu yang berbeda dan
kepada orang-orang yang berlainan pula selama 45 tahun. Dalam sidang tersebut
Y.A. Upali mengulang tata tertib bagi para bhikkhu dan bhikkhuni (Vinaya) dan
Y.A. Ananda mengulang khotbah-khotbah (Sutta) Buddha Gotama. Ajaran-ajaran ini
dihafalkan di luar kepala dan diajarkan lagi kepada orang lain dari mulut ke
mulut.
Sidang Agung kedua diselenggarakan di
kota Vesali lebih kurang 100 tahun kemudian (kira-kira 43 S.M.). Sidang ini
diadakan untuk membicarakan tuntutan segolongan bhikkhu (golongan Mahasangika),
yang menghendaki agar beberapa paraturan tertentu dalam Vinaya, yang dianggap
terlalu keras, diubah atau diperlunak. Dalam sidang ini golongan Mahasangika
memperoleh kekalahan dan sidang memutuskan untuk tidak mengubah Vinaya yang
sudah ada. Pimpinan sidang ini adalah Y.A. Revata.
Lebih kurang 230 tahun setelah Sidang
Agung pertama, diselenggarakan Sidang Agung ketiga di ibu kota kerajaan Asoka,
yaitu Pataliputta. Sidang ini dipimpin oleh Y.A. Tissa Moggaliputta dan
bertujuan menertibkan beberapa perbedaan pendapat yang menyebabkan perpecahan
di dalam Sangha. Di samping itu, sidang memeriksa kembali dan menyempurnakan
Kanon (Kitab Suci) Pali. Dalam Sidang Agung ketiga ini, ajaran Abhidhamma
diulang secara terperinci, sehingga dengan demikian lengkaplah sudah Kanon Pali
yang terdiri atas tiga kelompok besar, meskipun masih belum dituliskan dalam
kitab-kitab dan masih dihafal di luar kepala. Golongan para bhikkhu yang
terkena penertiban meninggalkan golongan Sthaviravada (pendahulu dari golongan
yang sekarang dikenal sebagai Theravada) dan mengungsi ke arah Utara.
Sidang Agung keempat diselenggarakan di Srilanka pada 400 tahun setelah Sang
Buddha Gotama mangkat. Sidang ini berhasil secara resmi menulis ajaran-ajaran
Buddha Gotama di daun-daun lontar yang kemudian dijadikan buku Tipitaka dalam
bahasa Pali. Yakni Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka dan Abidhamma Pitaka.
Pengertian dewa
Dalam agama Buddha, Dewa adalah salah satu makhluk
yang tidak setara dengan manusia, memiliki kesaktian, hidup
panjang, namun tidak abadi. Agama Buddha mengenal banyak dewa, namun mereka
bukan tuhan, mereka tidak sempurna dan tidak maha kuasa. Mereka (para dewa)
adalah makhluk yang sedang dalam usaha mencari kesempurnaan hidup. alam dewa
sering juga disebut sebagai surga. Dewa ada 33
tingkatan, tingkat paling akhir adalah dewa bumi.
Para Dewa tidak selalu sama
dengan Bodhisattva. Para
Dewa masih terikat pada karma dan samsara. Alam dewa dalam Agama Buddha dibagi menjadi 6
yaitu :
1. Catummaharajika Bhumi - Alam Empat
Raja Dewa. Di alam ini rata- rata usia para dewa adalah 9.600.000 tahun.
- Tavatimsa Bhumi - Alam surga 33 dewa. Di alam ini rata- rata usia
para dewa adalah 4 kali usia rata- rata dewa alam Catummaharajika.
- Tusita Bhumi - Alam kenikmatan. Biasanya para Bodhisattva yang
hampir sempurna paramitanya hidup di alam ini sebelum terlahir menjadi
manusia dan menjai Samma Sambuddha. Di alam ini rata- rata usia para dewa
adalah 4 kali usia rata- rata dewa alam Tavatimsa.
- Nimmanarati Bhumi' - Alam surga para dewa yang menikmati
kesenangan istana yang diciptakan. Dewi Mahamaya, ibu Siddharta Gautama, setelah meninggal dunia, terlahir di alam ini. Di alam ini rata-
rata usia para dewa adalah 4 kali usia rata- rata dewa alam Tusita.
- Paranimmita-Vasavatti Bhumi - Alam surga para dewa yang
menikmati ciptaan para dewa lain. Di alam ini rata- rata usia para dewa
adalah 4 kali usia rata- rata dewa alam Nimmanarati.
Didalam agama Buddha juga mengenal adanya empat tingkatan kesucian yang dapat
dicapai oleh manusia yang dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu Puthujjana ialah para bhikkhu dan orang-orang berkeluarga yang belum
mencapai tingkat kesucian dan Ariya-puggala - Ialah para bhikkhu dan orang-orang berkeluarga yang setidak-tidaknya
telah mencapai tingkat kesucian pertama.
Setiap
orang yang belum menapaki jalan kesucian dikenal sebagai puthujjana, yang
secara harafiah berarti "orang awam". Jika dibandingkan dengan orang
yang telah menapaki jalan kesucian (ariya-magga), maka puthujjana akan terkesan
gila atau kacau, oleh karena belum memiliki keseimbangan batin.
1. Empat
Tingkat Kesucian
Buddhisme mengenal empat jenis orang suci (ariya) yang terdiri dari
Sotapanna,Sakadagami Anagami, dan Arahat.
2. Derajat kesucian ini didasarkan atas jumlah belenggu (samyojana) yang
telah mereka patahkan. Aliran Theravada mengenal adanya sepuluh belenggu yang
menyebabkan para makhluk terus berputar-putar dalam samsara.
Kesepuluh belenggu itu adalah:
3. Sakkayaditthi
: Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal.
4. Vicikiccha:
Keragu-raguan terhadap Sang Buddha dan AjaranNya.
5. Silabbataparamasa
: Kepercayaan tahyul bahwa upacara agama saja dapat membebaskan manusia dari
penderitaan.
6. Kamaraga
: Nafsu Indriya.
7. Vyapada
: Benci, keinginan tidak baik.
8. Ruparaga
= Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk. (rupa-raga).
9. Aruparaga
= Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk.
10. Mana = Ketinggian hati yang
halus, Perasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain
11. Uddhacca = Bathin yang belum seimbang benar.
12. Avijja = Kegelapan bathin,
Suatu kondisi batin yang halus sekali karena yang bersangkutan belum mencapai
tingkat kebebasan sempurna (arahat).
1.
Sotapanna
Kebanyakan umat Buddhis berusaha melatih sila dasar dan menjadi sempurna
hanya dalam diri orang-orang yang telah mendekati tingkatan
Sotapanna (Skt Srotapanna), dimana kata ini secara harafiah berarti
"Pemasuk Arus". Pada tingkatan Sotapanna, seorang mendapatkan sekilas
pandangan yang pertama atas Nibbana dan mulai menapaki jalan kesucian.
Seorang Sotapanna diyakini telah mematahkan tiga belenggu pertama
(Samyutta-Nikaya) , yaitu:
1. Sakkayaditthi : Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal.
2. Vicikiccha:
Keragu-raguan terhadap Sang Buddha dan AjaranNya.
3. Silabbataparamasa : Kepercayaan tahyul bahwa upacara agama saja dapat membebaskan manusia
dari penderitaan.
Tetapi Ia belum berhasil membebaskan dirinya dari hawa nafsu. la telah terbebas
dari kelahiran kembali sebagai makhluk neraka, hantu, binatang, atau asura. la
dipastikan menjadi Arahat setelah mengalami kelahiran kembali maksimum tujuh
kali lagi (Anguttara-Nikaya). belenggu pertama dihancurkan dengan penembusan
mendalam ke dalam Empat Kebenaran mulia dan Sebab Musabab yang Saling
Bergantungan. Belenggu kedua dihancurkan karena ia telah "melihat"
dan "terjun ke dalam" Dhamma (Majjhima-Nikaya). Belenggu ketiga
dihancurkan karena kendati moralnya murni, namun ia menyadari bahwa itu saja
masih belum memadai untuk mencapai Nibbana.
Ada tiga macam Sotapanna :
1. Ekabiji Sotapanna adalah Sotapanna
yang akan terlahir kembali sekali lagi.
2. Kolamkola Sotapanna adalah
Sotapanna yang akan terlahir kembali dua atau tiga kali lagi.
3. Sattakkhattuparana Sotapanna
adalah Sotapanna yang akan terlahir kembali tujuh kali lagi.
2. Sakadagami
Dengan memperdalam penembusan pandangan terangnya, seseorang bisa mencapai
tingkatan Sakadagami ("Yang Hanya Kembali Sekali Lagi"). Seorang
Sakadagami telah mematahkan tiga belenggu Sotapanna (Sakkayaditthi, Vicikiccha
, Silabbataparamasa) dan melemahkan belenggu-belenggu Anagami , yaitu :
1. Kamaraga : Nafsu Indriya.
2. Vyapada : Benci, keinginan tidak baik.
Seorang
Sakadagami dilahirkan kembali maksimum sekali lagi di dalam dunia alam nafsu
keinginan (kamadhatu) sebagai manusia atau makhluk surga tingkat bawah sebelum
mencapai Nibbana.
3. Anagami
Seorang Anagami ("Yang Tidak Terlahir Kembali") telah mematahkan
sepenuhnya kelima belenggu (Sakkayaditthi, Vicikiccha , Silabbataparamasa,
Kamaraga dan Vyapada). Ia tidak lagi dilahirkan di alam nafsu (manusia). Namun
pencapaiannya belumlah memadai untuk menjadikannya seorang Arahat, dan bila ia
belum sanggup untuk menjadi seorang Arahat pada kelahiran berikutnya, maka ia
akan terlahir kembali di surga pertama dari "lima kediaman suci"
(Alam Suddhavasa), atau surga-surga terhalus dan termurni di antara surga-surga
di Alam Berwujud. Hanya seorang Anagami- lah yang dilahirkan di sana. Di surga
ini ia akan mengembangkan penembusannya hingga mencapai tingkat kesucian Arahat
dan mencapai parinibbana.
Ada lima macam Anagami :
1. Mereka yang mencapai penerangan selama pertengahan
pertama dari masa kehidupan mereka ( Antaraparinibbayi ).
2. Mereka yang mencapai penerangan selama
pertengahan kedua dari masa kehidupan mereka ( Antaraparinibbayi ).
3. Mereka yang mencapai penerangan
melalui usaha keras ( Sasankhara parinibbayi )
4. Mereka yang mencapai penerangan melalui usaha
ringan ( Asankhara parinibbayi)
5. Mereka yang mencapai alam kehidupan akanittha,
yaitu alam kehidupan yang tertinggi (Uddham-soto-akanitthagami)
Dua yang
pertama digolongkan berdasarkan atas masa kehidupan mereka, sedangkan yang
ketiga dan keempat berdasarkan usaha-usaha mereka, sedangkan yang kelima
ditandai melalui alam tujuan mereka.
4. Arahat
Seorang Arahat
telah mematahkan seluruh sepuluh belenggu ini , sehingga dengan demikian
mengakhiri dukkha dan semua kelahiran kembali dalam pengalaman Nibbana yang
penuh kebahagiaan. Seorang Arahat mempunyai kemampuan terbang dengan tubuh
jasmaninya, sedangkan tingkatan-tingkatan yang lebih rendah daripadanya hanya
dapat terbang dengan menggunakan kesadarannya.
Untuk Belenggu ruparaga dan
aruparaga, Apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi dan telah
mencapai Jhana I, Jhana II, Jhana III atau Jhana IV , maka ia
dilahirkan di Alam bentuk (rupa-raga). Lima Samyojana/Belenggu pada Sotapanna
dan Anagami dikenal sebagai lima belenggu rendah atau
Orambhagiya-samyojana, Lima samyojana berikutnya pada Belenggu arahat
dikenal dengan nama belenggu tinggi atau Uddhambhagiya-samyojana.
Orambhagiya-samyojana dan Uddhambhagiya-samyojana telah dimusnahkan oleh
Arahat.
Konsep
ketuhanan dalam Agama Buddha
Ajaran agama tentang keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berbeda-beda.
Sekalipun tampaknya ada hal-hal yang bertentangan, terdapat pula hal-hal yang
sama, yauitu adalah yang mutlak, yang sering dipahami dan dialami sebagai
misteri rahasia yang mengatasi dunia. Buddha mengungkapkan konsep ketuhanan
dalam agama Buddha sebagai berikut,
‘’ Para Bikhu, ada yang tidak
dilahirkan (ajata), yang tidak menjelma (abhuta), yang tidak diciptakan
(akata), yang mutlak (asankhata), apabila tiada yang dilahirkan, yang tidak
menjelma, yang tidak diciptakan,yang mutlak, maka tidak aka nada kemungkinan
untuk bebas dari hal-hal berikut ini, yaitu kelahiran, penjelmaan, penciptaan,
pembentukan dari sebab yang lalu. Tetapi para bikhu, karena ada yang tidk
dilahirkan, yang tidak menjelma, yang tidak diciptakan, yang mutlak, maka ada
kemungkinan untuk terbebas dari hal-hal berikut ini, yaitu kelahiran,
penjelmaan, penciptaan, pembentukan dari sebab yang lalu’’ (Ud. 80-81).
Rumusan diatas mengenai relitas terakhir,
tertinggi, kebenaran mutlak, absolute, Nirwana, yang disebut Asankhata-dhamma,
dan diartikan sebagai sifat Tuhan Yang Maha Esa. Buddha mengajarkan ketuhanan
tanpa menyebut nama tuhan. Tuhan yang tanpa batas, tak terjngkau oleh pikiran
manusia, tidak di berikaan satu nama, karena nama itu dengan sendirinya akan
memberi pembatasan kepada yang tidak terbatas.
Dalam agama Buddha, Tuhan tidak dapat dipandang sebagai suatu pribadi
(personifikasi), tidak bersifat antropomorfisme (pengenaan cirri-ciri yang
berasal dari wujud manusia) dan antropopatisme ( pengenaan pengertian yang
berasal dari perasaan manusia). Antropomorfisme dan antropopatisme telah
menimbulkan berbagai upacara persembahan, mulai dari sesajian yang sederhana
seperti makanan hingga kurban binatang. Persembahan itu bermasud untuk memuaskan
makluk yang dipandang mempunyai perasaan, senang atau marah misalnya dan
memiliki kekuasaan menentukan nasib manusia. Dengan bertambah peliknya upacra
kurban, timbul satu kelas Brahmana yang bertindak sebagai penghubung antara
manusia dan dewa.
Perlu ditekankan bahwa Buddha bukan Tuhan.
Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Samawi
dimana alam semesta diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia
adalah kembali ke surga ciptaan Tuhan yang kekal.
Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang
Asamkhatang yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan,
Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak".
Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta),
yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam
bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi
(asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan
dari lingkaran kehidupan(samsara) dengan bermeditasi.
Agama Buddha termasuk agama Theistik
(ber-Tuhan). “Yang Mutlak” itu sendiri adalah istilah falsafah, bukan istilah
yang biasa dipakai dalam kehidupan keagamaan. Dalam kehidupan keagamaan Yang
Mutlak itulah yang disebut dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Dalam teori
Buddhis, memang tidak dikenal adanya konsep Tuhan dengan definisi sebagai
pencipta dan pengatur alam semesta beserta segala isinya dengan watak atau
sifat-sifat seperti manusia, yang bisa marah, senang, benci, sayang, dsb.
Sehingga agama Buddha sering disebut Atheis.
Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah
Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang yang artinya "Sesuatu Yang
Tidak Dilahirkan, Tidak menjelma, Tidak tercipta dan Yang Mutlak. Dalam hal
ini, Ketuhanan Yang Mahaesa adalah suatu yang Tanpa Aku (anatta/anatman), yang
tidak dapat dipersonifikasikan (disamakan dengan suatu sosok yang
berkepribadian) dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apapun. Tetapi
dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang
berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan
(samsara) dengan cara bermeditasi.
Agama Buddha boleh-boleh saja dikatakan
Atheis, karena jika melihatnya hanya dari sudut pandang Personal, agama Buddha memang
tidak memiliki Tuhan yang berkepribadian seperti itu. (yang memiliki sifat
murka, cemburu, menghukum, pilih kasih, sayang dan sebagainya ).
“Apabila, O para bhikkhu,
makhluk-makhluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan sebagai hasil atau sebab
dari ciptaan Tuhan (Issaranimmanahetu), maka para petapa telanjang ini
tentu juga diciptakan oleh satu Tuhan yang jahat/nakal (Papakena Issara),
karena mereka kini mengalami penderitaan yang sangat mengerikan”.(Devadaha
Sutta, Majjhima Nikaya 101).
Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Maha Esa ini, kita dapat melihat bahwa
konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep Ketuhanan
yang diyakini oleh agama-agama lain. Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini
perlu ditekankan di sini, sebab masih banyak umat Buddha yang mencampur-adukkan
konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan konsep Ketuhanan menurut
agama-agama lain sehingga banyak umat Buddha yang menganggap bahwa konsep
Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama dengan konsep ketuhanan dalam agama
agama-agama lain, Padahal itu sangat berbedada denga agama lain. Di
dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan
(anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana roh manusia tidak
perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan
bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa - dewi yang dapat
membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya
merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan
mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran &
realitas sebenar-benarnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
a) Konsep Ketuhanan Dalam Agama Buddha
Dalam agama Buddha, Tuhan tidak dapat dipandang sebagai suatu pribadi
(personifikasi), tidak bersifat antropomorfisme (pengenaan cirri-ciri yang
berasal dari wujud manusia) dan antropopatisme ( pengenaan pengertian yang
berasal dari perasaan manusia). Antropomorfisme dan antropopatisme telah
menimbulkan berbagai upacara persembahan, mulai dari sesajian yang sederhana
seperti makanan hingga kurban binatang. Persembahan itu bermasud untuk
memuaskan makluk yang dipandang mempunyai perasaan, senang atau marah misalnya dan
memiliki kekuasaan menentukan nasib manusia. Dengan bertambah peliknya upacra
kurban, timbul satu kelas Brahmana yang bertindak sebagai penghubung antara
manusia dan dewa.
Kebuddhaan dan Nibbana, Pencerahan Agung dan hasilnya, tidak
diawali oleh siapapun. Tidak disebabkan oleh siapapun. Tidak
memiliki awal, dengan demikian tidak memiliki
akhir. Yang ada tanpa sebab. Yang bukannya ‘Ada
dengan sendirinya’. Yang tidak akan lenyap. Yang tidak berkehendak.
Yang non-reaksional. Namun berada dan dituju oleh
semua mahluk dan dapat dicapai oleh mereka yang mau
mengusahakan atas daya upaya sendiri, bukannya
yang dengan menggantungkan diri pada faktor-faktor eksternal. Demikianlah
doktrin Ketuhanan ini dipahami dalam agama Buddha.
b)
Konsep Ketuhanan didalam Agama Hindu
Ekam evadvityam Brahman ( Hanya ada satu tuhan Brahman, tiada duanya. Ekam sat
viprah bahudah vadanti (hanya ada satu hakekat yang maha agung yang
disebut sat, para arif bijaksana (nabi-nabi) menyebut berbagai-bagai gelar).
Demikian disebutkan adalam mahavakya yang berarti ungkapan agung atau wahyu
utama Kitab suci Weda, kitab suci Agama Hindu. Tuhan sebenarnya Maha Esa
disebut dengan berbagai-bagai gelar : Brahman, Sat, purysa (roh yang maha agung
dan mutlak) menurut kitab suci Weda, para pandeta atau Pandada memuja tuhan
dengan doa pujianya setiap hari dengan gelar Siwa yang berarti yang Maha Esa
dan Maha Mulia atau naryana, tuhan yang Maha Esa dan Maha Kuasa, pelindung
kerohanian dan kesucian yang di sebut Dharma di dalam ajaran Agama Hindu.
DAFTAR PUSTAKA
Cudami, 1989. Pengantar Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi, Jakarta: Yayasan Dharma Sarathi.
Titib, I Made, 2003. Teologi & Simbol-Simbol dalam Agama Hindu, Surabaya: Penerbit Paramita.
Setia Putu, 1992. Cendekiawan Hindu Berbicara, Denpasar: Yayasan Dharma Narada.
Smith Huston, 2008. Agama-Agama Manusia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Dalai Lama, 2011, Samudra Kebijaksanaan, Jakarta: Ehipassiko foundation.
http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_agama_Buddha
Kitab suci sutta pitaka, udana VIII: 3.
Kitab suci sutta pitaka.
Jirhanuddin, 2010. perbandingan agama, Palang Karaya : pustaka pelajar.
Ali Matius, 2010. Filsafat India Sebuah Pengantar
Hinduisme & Buddihisme,
Karang Mulya:
Sanggar Luxor.
Keene Michael, 2006, Agama-Agama Dunia,Yogyakarta
: Kanisius.
Wahyono Mulyadi, 1995. Sejarah perkembangan Agama Buddha. Jakarta: Dirijen Bimas Hindu Buddha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar