Kamis, 12 September 2024

Perbandingan Agama: Perkembangan Agama Hindu

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

A.   Latar Belakang

 

Ketuhananmerupakan aspek esensial dalam setiap agama. Oleh karena itu, ilmu tentang  tuhan menjadi tema menarik dalam studi agama-agama, baik klasik maupun kontemporer. apalagi studi agama menempatkan agama menjadi inti dari kebudayaan yang dipraktikkan dalam dunia sosial. Tuhan merupakan fenomena sosial kultural sebagai ekspresi religius masyarakat beragama. Sehinga prinsip ketuhanan sering kali menjadi pro-kontra di dalam beragama dan di kalangan kaum intelektual.

 

Berbicara ketuhanan adalah berbicara tentang pencipta alam semesta. Namun prinsip ketuhanan menjadi kontraversi dikarenakan berbagai definisi ketuhanan dari berbagai kalangan mengalami perbedaan bahkan agama satu dengan yang lainnya mempunyai perbedaan terhadap definisi ketuhanan. prinsip ketuhanan didalam suatu agama  kadang menjadi  masalah yang dapat memicu terjadinya kesalah pahaman tentang cara pandang suatu agama, menurut bangsa Indonesia suatu agama harus mempunyai tuhan sebagaimana di atur dalam PANCASILA ayat pertama yang berbunyi Ketuhananan Yang Maha Esa, Jadi dapat di simpulkan bahwa suatu agama  harus memiliki tuhan apabila ingin diakui sebagai salah satu agama di nusantara.

 

            Agama yang ada di nusantara ini mempunyai cara pandang yang bermacam-macam tentang  konsep ketuhanan, salah satu contohnya adalah Hindu dan Buddha walaupun secara sekilas kedua agama mempunyai doktrin yang hampir mirip dan mampu bersingkrestisme dengan baik, akan tetapi dalam konsep ketuhanan kedua agama ini mempunyai perbedaan yang sangat signifikan sehinga dapat membedakan kedua agama ini secara jelas.

Sebagai kaum intelek kita tidak akan dengan mudah menerima begitu saja akan  konsep ketuhanan yang telah ada pada agama kepercayaaan masing-masing, akan tetapi kita harus mampu menganalisis, menelaah, bahkan mengkritisi sehingga dapat menambah pengetahuan akan konsep Ketuhanan, sehingga mampu meningkatkan kepercayaan dalam beragama.

Dalam makalah ini penulis akan melakukan perbandingan tengtang konsep Ketuhanaan dalam agama Buddha dan Agama Hinddu, Sehingga dapat memperjelas perbedaan akan konsep ketuhanan dalam kedua agama ini supaya mampu mengetahui perbedaan konsep ketuhanan dalam agama Hinddu dan Buddha dengan lebih jelas.

 

 

 

B.   identifikasi Masalah

 

1.      Seperti apakah konsep ketuhanan dalam agama Buddha ?

2.      Bagaimanakah Tuhan menurut agama Buddha ?

 

C.   Tujuan

 

1.      Mengetahui konsep ketuhanan dalam agama Buddha.

2.      Mengetahui sejarah pemikiran agama Buddha tentang konsep ketuhanan.

3.      Mengetahui perbandingan konsep ketuhanan dalam agama Hindu dan Buddha.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

     AGAMA BUDDHA

 

Sejarah Agama Buddha

Sejarah agama Buddha, sebuah agama yang diasaskan oleh Siddharta Gautama, mulai dari abad ke-6 SM dan oleh itu, adalah salah satu agama tertua yang masih dianut di dunia. Sepanjang masa ini, unsur kebudayaan India ditambah dengan unsur-unsur kebudayaan Yunani, Asia Tengah, Asia Timur, dan Asia Tenggara. Dalam proses perkembangannya ini, agama ini praktis telah menyentuh hampir seluruh benua Asia. Sejarah agama Buddha juga ditandai dengan perkembangan banyak aliran dan mazhab, serta perpecahan-perpecahan. Yang utama di antaranya adalah aliran tradisional Theravada , Mahayana, dan Vajrayana (Bajrayana) yang sejarahnya ditandai dengan masa pasang dan surut.

Menurut tradisi Buddha, Siddharta Gautama dilahirkan di India pada awal masa Magadha (546324 SM), di sebuah kota, selatan pergunungan Himalaya yang bernama Lumbini. Sekarang kota ini terletak di Nepal sebelah selatan. Beliau juga dikenali dengan nama Sakyamuni.Setelah kehidupan awalnya yang penuh kemewahan di bawah perlindungan ayahnya, Raja Kapilavastu (kemudian hari digabungkan dengan kerajaan Magadha), Siddharta melihat kenyataan kehidupan sehari-hari dan menyimpul bahawa kehidupan nyata, pada hakikatnya adalah kesengsaraan yang tak dapat dihindari. Siddharta kemudian meninggalkan kehidupan mewahnya yang tak berertinya lalu menjadi seorang pertapa. Kemudian ia berpendapat bahawa bertapa juga tak ada artinya, lalu mencari jalan tengah antara kehidupan berfoya-foya yang terlalu memuaskan hawa nafsu dan kehidupan pertapa yang terlalu menyeksa diri.

Di bawah sebuah pokok ara suci (Ficus religiosa), sekarang dikenali sebagai pokok Bodhi, ia berikrar tidak akan meninggalkan tempat duduknya sehingga ia menemukan Kebenaran. pada usia 35 tahun, ia mencapaipenerangan sempurna. Pada saat itu, ia dikenali sebagai Buddha Gautama , sebuah perkataan Sanskerta yang bererti "ia yang sadar" (dari kata budhha).

    Kitab Suci Agama Buddha

Kanon Pali atau Tipitaka berarti tiga keranjang penyimpanan Kanon (Kitab Suci). Selama beberapa abad sabda-sabda Sang Buddha disampaikan dengan turun temurun dengan lisan saja, yaitu dengan jalan menghafalkannya di luar kepala. Ajaran Sang Buddha dibukukan beberapa ratus tahun setelah Sang Buddha mencapai Parinibbana.

Segera setelah Buddha  mencapai Parinibbana, diadakanlah Sidang Agung (Sangha-samaya) pertama di Gua Satapana, di kota Rajagaha (343 S.M.). Sidang ini dipimpin oleh Y.A. Kassapa Thera. Sidang ini dihadiri oleh 500 orang bhikkhu yang semuanya telah mencapai tingkat Arahat. Sidang ini bertujuan menghimpun ajaran-ajaran Buddha Gotama yang diberikan di tempat-tempat yang berlainan, pada waktu-waktu yang berbeda dan kepada orang-orang yang berlainan pula selama 45 tahun. Dalam sidang tersebut Y.A. Upali mengulang tata tertib bagi para bhikkhu dan bhikkhuni (Vinaya) dan Y.A. Ananda mengulang khotbah-khotbah (Sutta) Buddha Gotama. Ajaran-ajaran ini dihafalkan di luar kepala dan diajarkan lagi kepada orang lain dari mulut ke mulut.

Sidang Agung kedua diselenggarakan di kota Vesali lebih kurang 100 tahun kemudian (kira-kira 43 S.M.). Sidang ini diadakan untuk membicarakan tuntutan segolongan bhikkhu (golongan Mahasangika), yang menghendaki agar beberapa paraturan tertentu dalam Vinaya, yang dianggap terlalu keras, diubah atau diperlunak. Dalam sidang ini golongan Mahasangika memperoleh kekalahan dan sidang memutuskan untuk tidak mengubah Vinaya yang sudah ada. Pimpinan sidang ini adalah Y.A. Revata.

Lebih kurang 230 tahun setelah Sidang Agung pertama, diselenggarakan Sidang Agung ketiga di ibu kota kerajaan Asoka, yaitu Pataliputta. Sidang ini dipimpin oleh Y.A. Tissa Moggaliputta dan bertujuan menertibkan beberapa perbedaan pendapat yang menyebabkan perpecahan di dalam Sangha. Di samping itu, sidang memeriksa kembali dan menyempurnakan Kanon (Kitab Suci) Pali. Dalam Sidang Agung ketiga ini, ajaran Abhidhamma diulang secara terperinci, sehingga dengan demikian lengkaplah sudah Kanon Pali yang terdiri atas tiga kelompok besar, meskipun masih belum dituliskan dalam kitab-kitab dan masih dihafal di luar kepala. Golongan para bhikkhu yang terkena penertiban meninggalkan golongan Sthaviravada (pendahulu dari golongan yang sekarang dikenal sebagai Theravada) dan mengungsi ke arah Utara.

            Sidang Agung keempat diselenggarakan di Srilanka pada 400 tahun setelah Sang Buddha Gotama mangkat. Sidang ini berhasil secara resmi menulis ajaran-ajaran Buddha Gotama di daun-daun lontar yang kemudian dijadikan buku Tipitaka dalam bahasa Pali. Yakni Vinaya Pitaka, Sutta Pitaka dan Abidhamma Pitaka.

 

 

 Pengertian dewa

Dalam agama Buddha, Dewa adalah salah satu  makhluk  yang  tidak setara dengan manusia, memiliki kesaktian, hidup panjang, namun tidak abadi. Agama Buddha mengenal banyak dewa, namun mereka bukan tuhan, mereka tidak sempurna dan tidak maha kuasa. Mereka (para dewa) adalah makhluk yang sedang dalam usaha mencari kesempurnaan hidup. alam dewa sering juga disebut sebagai surga. Dewa ada 33 tingkatan, tingkat paling akhir adalah dewa bumi.

Para Dewa tidak  selalu sama dengan Bodhisattva. Para  Dewa masih terikat pada karma dan samsara. Alam dewa dalam Agama Buddha dibagi menjadi 6 yaitu :

1.       Catummaharajika Bhumi - Alam Empat Raja Dewa. Di alam ini rata- rata usia para dewa adalah 9.600.000 tahun.

  1. Tavatimsa Bhumi - Alam surga 33 dewa. Di alam ini rata- rata usia para dewa adalah 4 kali usia rata- rata dewa alam Catummaharajika.
  2. Tusita Bhumi - Alam kenikmatan. Biasanya para Bodhisattva yang hampir sempurna paramitanya hidup di alam ini sebelum terlahir menjadi manusia dan menjai Samma Sambuddha. Di alam ini rata- rata usia para dewa adalah 4 kali usia rata- rata dewa alam Tavatimsa.
  3. Nimmanarati Bhumi' - Alam surga para dewa yang menikmati kesenangan istana yang diciptakan. Dewi Mahamaya, ibu Siddharta Gautama, setelah meninggal dunia, terlahir di alam ini. Di alam ini rata- rata usia para dewa adalah 4 kali usia rata- rata dewa alam Tusita.
  4. Paranimmita-Vasavatti Bhumi - Alam surga para dewa yang menikmati ciptaan para dewa lain. Di alam ini rata- rata usia para dewa adalah 4 kali usia rata- rata dewa alam Nimmanarati.

            Didalam agama Buddha juga mengenal adanya empat tingkatan kesucian yang dapat dicapai oleh manusia yang dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu Puthujjana ialah para bhikkhu dan orang-orang berkeluarga yang belum mencapai tingkat kesucian dan Ariya-puggala - Ialah para bhikkhu dan orang-orang berkeluarga yang setidak-tidaknya telah mencapai tingkat kesucian pertama.

            Setiap orang yang belum menapaki jalan kesucian dikenal sebagai puthujjana, yang secara harafiah berarti "orang awam". Jika dibandingkan dengan orang yang telah menapaki jalan kesucian (ariya-magga), maka puthujjana akan terkesan gila atau kacau, oleh karena belum memiliki keseimbangan batin.

1.       Empat Tingkat Kesucian

Buddhisme mengenal empat jenis orang suci (ariya) yang terdiri dari Sotapanna,Sakadagami Anagami, dan Arahat.

2.      Derajat kesucian ini didasarkan atas jumlah belenggu (samyojana) yang telah mereka patahkan. Aliran Theravada mengenal adanya sepuluh belenggu yang menyebabkan para makhluk terus berputar-putar dalam samsara.

Kesepuluh belenggu itu adalah:

3.      Sakkayaditthi  : Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal.

4.      Vicikiccha: Keragu-raguan terhadap Sang Buddha dan AjaranNya.

5.      Silabbataparamasa : Kepercayaan tahyul bahwa upacara agama saja dapat membebaskan manusia dari penderitaan.

6.      Kamaraga : Nafsu Indriya.

7.      Vyapada : Benci, keinginan tidak baik.

8.      Ruparaga = Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam bentuk. (rupa-raga).

9.      Aruparaga = Kemelekatan atau kehausan untuk terlahir di alam tanpa bentuk.

10.  Mana = Ketinggian hati yang halus, Perasaan untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain

11.   Uddhacca = Bathin yang belum seimbang benar.

12.  Avijja = Kegelapan bathin, Suatu kondisi batin yang halus sekali karena yang bersangkutan belum mencapai tingkat kebebasan sempurna (arahat).

1.      Sotapanna

       Kebanyakan umat Buddhis berusaha melatih sila dasar dan menjadi sempurna hanya   dalam diri orang-orang yang telah mendekati tingkatan Sotapanna (Skt Srotapanna), dimana kata ini secara harafiah berarti "Pemasuk Arus". Pada tingkatan Sotapanna, seorang mendapatkan sekilas pandangan yang pertama atas Nibbana dan mulai menapaki jalan kesucian.

 

Seorang Sotapanna diyakini telah mematahkan tiga belenggu pertama (Samyutta-Nikaya) , yaitu:

1.   Sakkayaditthi  : Pandangan sesat tentang adanya pribadi, jiwa atau aku yang kekal.

2.   Vicikiccha: Keragu-raguan terhadap Sang Buddha dan AjaranNya.

3.   Silabbataparamasa : Kepercayaan tahyul bahwa upacara agama saja dapat membebaskan manusia dari penderitaan.

            Tetapi Ia belum berhasil membebaskan dirinya dari hawa nafsu. la telah terbebas dari kelahiran kembali sebagai makhluk neraka, hantu, binatang, atau asura. la dipastikan menjadi Arahat setelah mengalami kelahiran kembali maksimum tujuh kali lagi (Anguttara-Nikaya). belenggu pertama dihancurkan dengan penembusan mendalam ke dalam Empat Kebenaran mulia dan Sebab Musabab yang Saling Bergantungan. Belenggu kedua dihancurkan karena ia telah "melihat" dan "terjun ke dalam" Dhamma (Majjhima-Nikaya). Belenggu ketiga dihancurkan karena kendati moralnya murni, namun ia menyadari bahwa itu saja masih belum memadai untuk mencapai Nibbana.

  Ada tiga macam Sotapanna :

1.      Ekabiji Sotapanna adalah Sotapanna yang akan terlahir kembali sekali lagi.

2.      Kolamkola Sotapanna adalah Sotapanna yang akan terlahir kembali dua atau tiga kali lagi.

3.      Sattakkhattuparana Sotapanna adalah Sotapanna yang akan terlahir kembali tujuh kali lagi.

2.       Sakadagami

            Dengan memperdalam penembusan pandangan terangnya, seseorang bisa mencapai tingkatan Sakadagami ("Yang Hanya Kembali Sekali Lagi"). Seorang Sakadagami telah mematahkan tiga belenggu Sotapanna (Sakkayaditthi, Vicikiccha , Silabbataparamasa) dan melemahkan belenggu-belenggu Anagami , yaitu :

 

1.      Kamaraga : Nafsu Indriya.

2.   Vyapada : Benci, keinginan tidak baik.

Seorang Sakadagami dilahirkan kembali maksimum sekali lagi di dalam dunia alam nafsu keinginan (kamadhatu) sebagai manusia atau makhluk surga tingkat bawah sebelum mencapai Nibbana.

3.        Anagami

            Seorang Anagami ("Yang Tidak Terlahir Kembali") telah mematahkan sepenuhnya kelima belenggu (Sakkayaditthi, Vicikiccha , Silabbataparamasa, Kamaraga dan Vyapada). Ia tidak lagi dilahirkan di alam nafsu (manusia). Namun pencapaiannya belumlah memadai untuk menjadikannya seorang Arahat, dan bila ia belum sanggup untuk menjadi seorang Arahat pada kelahiran berikutnya, maka ia akan terlahir kembali di surga pertama dari "lima kediaman suci" (Alam Suddhavasa), atau surga-surga terhalus dan termurni di antara surga-surga di Alam Berwujud. Hanya seorang Anagami- lah yang dilahirkan di sana. Di surga ini ia akan mengembangkan penembusannya hingga mencapai tingkat kesucian Arahat dan mencapai parinibbana.

Ada lima macam Anagami :

1. Mereka yang mencapai penerangan selama pertengahan pertama dari masa kehidupan mereka  ( Antaraparinibbayi ).

2.  Mereka yang mencapai penerangan selama pertengahan kedua dari masa kehidupan mereka ( Antaraparinibbayi ).

3.  Mereka yang mencapai penerangan melalui usaha keras ( Sasankhara parinibbayi )

4.  Mereka yang mencapai penerangan melalui usaha ringan ( Asankhara parinibbayi)

5.  Mereka yang mencapai alam kehidupan akanittha, yaitu alam kehidupan yang tertinggi    (Uddham-soto-akanitthagami)

Dua yang pertama digolongkan berdasarkan atas masa kehidupan mereka, sedangkan yang ketiga dan keempat berdasarkan usaha-usaha mereka, sedangkan yang kelima ditandai melalui alam tujuan mereka.

4.      Arahat

Seorang Arahat telah mematahkan seluruh sepuluh belenggu ini , sehingga dengan demikian mengakhiri dukkha dan semua kelahiran kembali dalam pengalaman Nibbana yang penuh kebahagiaan. Seorang Arahat mempunyai kemampuan terbang dengan tubuh jasmaninya, sedangkan tingkatan-tingkatan yang lebih rendah daripadanya hanya dapat terbang dengan menggunakan kesadarannya.

Catatan:

Untuk Belenggu ruparaga dan aruparaga, Apabila ia meninggal sewaktu dalam keadaan samadhi dan telah mencapai Jhana I, Jhana II, Jhana III atau Jhana IV , maka ia dilahirkan di Alam bentuk (rupa-raga). Lima Samyojana/Belenggu pada Sotapanna dan Anagami dikenal sebagai lima belenggu rendah atau Orambhagiya-samyojana, Lima samyojana berikutnya pada Belenggu arahat dikenal dengan nama belenggu tinggi atau Uddhambhagiya-samyojana. Orambhagiya-samyojana dan Uddhambhagiya-samyojana telah dimusnahkan oleh Arahat.

 

  Konsep ketuhanan dalam Agama Buddha

            Ajaran agama tentang keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa berbeda-beda. Sekalipun tampaknya ada hal-hal yang bertentangan, terdapat pula hal-hal yang sama, yauitu adalah yang mutlak, yang sering dipahami dan dialami sebagai misteri rahasia yang mengatasi dunia. Buddha mengungkapkan konsep ketuhanan dalam agama Buddha sebagai berikut,

‘’ Para Bikhu, ada yang tidak dilahirkan (ajata), yang tidak menjelma (abhuta), yang tidak diciptakan (akata), yang mutlak (asankhata), apabila tiada yang dilahirkan, yang tidak menjelma, yang tidak diciptakan,yang mutlak, maka tidak aka nada kemungkinan untuk bebas dari hal-hal berikut ini, yaitu kelahiran, penjelmaan, penciptaan, pembentukan dari sebab yang lalu. Tetapi para bikhu, karena ada yang tidk dilahirkan, yang tidak menjelma, yang tidak diciptakan, yang mutlak, maka ada kemungkinan untuk terbebas dari hal-hal berikut ini, yaitu kelahiran, penjelmaan, penciptaan, pembentukan dari sebab yang lalu’’ (Ud. 80-81).

            Rumusan diatas mengenai relitas terakhir, tertinggi, kebenaran mutlak, absolute, Nirwana, yang disebut Asankhata-dhamma, dan diartikan sebagai sifat Tuhan Yang Maha Esa. Buddha mengajarkan ketuhanan tanpa menyebut nama tuhan. Tuhan yang tanpa batas, tak terjngkau oleh pikiran manusia, tidak di berikaan satu nama, karena nama itu dengan sendirinya akan memberi pembatasan kepada yang tidak terbatas.

            Dalam agama Buddha, Tuhan tidak dapat dipandang sebagai suatu pribadi (personifikasi), tidak bersifat antropomorfisme (pengenaan cirri-ciri yang berasal dari wujud manusia) dan antropopatisme ( pengenaan pengertian yang berasal dari perasaan manusia). Antropomorfisme dan antropopatisme telah menimbulkan berbagai upacara persembahan, mulai dari sesajian yang sederhana seperti makanan hingga kurban binatang. Persembahan itu bermasud untuk memuaskan makluk yang dipandang mempunyai perasaan, senang atau marah misalnya dan memiliki kekuasaan menentukan nasib manusia. Dengan bertambah peliknya upacra kurban, timbul satu kelas Brahmana yang bertindak sebagai penghubung antara manusia dan dewa.

            Perlu ditekankan bahwa Buddha bukan Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Samawi dimana alam semesta diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke surga ciptaan Tuhan yang kekal.
Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang yang artinya "Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak".

            Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan(samsara) dengan bermeditasi.

Agama Buddha termasuk agama Theistik (ber-Tuhan). “Yang Mutlak” itu sendiri adalah istilah falsafah, bukan istilah yang biasa dipakai dalam kehidupan keagamaan. Dalam kehidupan keagamaan Yang Mutlak  itulah yang disebut dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Dalam teori Buddhis, memang tidak dikenal adanya konsep Tuhan dengan definisi sebagai pencipta dan pengatur alam semesta beserta segala isinya dengan watak atau sifat-sifat seperti manusia, yang bisa marah, senang, benci, sayang, dsb. Sehingga agama Buddha sering disebut Atheis.

Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatang Abhutang Akatang Asamkhatang yang artinya "Sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak menjelma, Tidak tercipta dan Yang Mutlak. Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Mahaesa adalah suatu yang Tanpa Aku (anatta/anatman), yang tidak dapat dipersonifikasikan (disamakan dengan suatu sosok yang berkepribadian) dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apapun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asamkhata) maka manusia yang berkondisi (samkhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.

 

Agama Buddha boleh-boleh saja dikatakan Atheis, karena jika melihatnya hanya dari sudut pandang Personal, agama Buddha memang tidak memiliki Tuhan yang berkepribadian seperti itu. (yang memiliki sifat murka, cemburu, menghukum, pilih kasih, sayang dan sebagainya ).

 

“Apabila, O para bhikkhu, makhluk-makhluk mengalami penderitaan dan kebahagiaan sebagai hasil atau sebab dari ciptaan Tuhan (Issaranimmanahetu), maka para petapa telanjang ini tentu juga diciptakan oleh satu Tuhan yang jahat/nakal (Papakena Issara), karena mereka kini mengalami penderitaan yang sangat mengerikan”.(Devadaha Sutta, Majjhima Nikaya 101).

 

            Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Maha Esa ini, kita dapat melihat bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain. Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, sebab masih banyak umat Buddha yang mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan konsep Ketuhanan menurut agama-agama lain sehingga banyak umat Buddha yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama dengan konsep ketuhanan dalam agama agama-agama lain,  Padahal  itu sangat berbedada denga agama lain. Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana roh manusia tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa - dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran & realitas sebenar-benarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

 

A.    Kesimpulan

a)      Konsep Ketuhanan Dalam Agama Buddha

            Dalam agama Buddha, Tuhan tidak dapat dipandang sebagai suatu pribadi (personifikasi), tidak bersifat antropomorfisme (pengenaan cirri-ciri yang berasal dari wujud manusia) dan antropopatisme ( pengenaan pengertian yang berasal dari perasaan manusia). Antropomorfisme dan antropopatisme telah menimbulkan berbagai upacara persembahan, mulai dari sesajian yang sederhana seperti makanan hingga kurban binatang. Persembahan itu bermasud untuk memuaskan makluk yang dipandang mempunyai perasaan, senang atau marah misalnya dan memiliki kekuasaan menentukan nasib manusia. Dengan bertambah peliknya upacra kurban, timbul satu kelas Brahmana yang bertindak sebagai penghubung antara manusia dan dewa.

            Kebuddhaan  dan  Nibbana, Pencerahan  Agung dan hasilnya, tidak diawali oleh siapapun. Tidak  disebabkan  oleh  siapapun. Tidak  memiliki  awal, dengan  demikian tidak  memiliki  akhir. Yang  ada  tanpa  sebab. Yang bukannya ‘Ada  dengan sendirinya’. Yang tidak akan lenyap. Yang tidak  berkehendak. Yang non-reaksional. Namun  berada  dan  dituju  oleh  semua  mahluk  dan dapat dicapai oleh mereka yang  mau  mengusahakan  atas  daya  upaya  sendiri, bukannya  yang dengan menggantungkan diri pada faktor-faktor eksternal. Demikianlah  doktrin  Ketuhanan ini dipahami dalam agama Buddha.

b)     Konsep Ketuhanan didalam Agama Hindu

            Ekam evadvityam Brahman ( Hanya ada satu tuhan Brahman, tiada duanya. Ekam sat viprah bahudah vadanti (hanya  ada satu hakekat yang maha agung yang disebut sat, para arif bijaksana (nabi-nabi) menyebut berbagai-bagai gelar). Demikian disebutkan adalam mahavakya yang berarti ungkapan agung atau wahyu utama Kitab suci Weda, kitab suci Agama Hindu. Tuhan sebenarnya Maha Esa disebut dengan berbagai-bagai gelar : Brahman, Sat, purysa (roh yang maha agung dan mutlak) menurut kitab suci Weda, para pandeta atau Pandada memuja tuhan dengan doa pujianya setiap hari dengan gelar Siwa yang berarti yang Maha Esa dan Maha Mulia atau naryana, tuhan yang Maha Esa dan Maha Kuasa, pelindung kerohanian dan kesucian yang di sebut Dharma di dalam ajaran Agama Hindu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Cudami, 1989. Pengantar Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi,   Jakarta: Yayasan Dharma Sarathi.

Titib, I Made, 2003. Teologi & Simbol-Simbol dalam Agama Hindu, Surabaya: Penerbit Paramita.

Setia Putu, 1992. Cendekiawan Hindu Berbicara, Denpasar:      Yayasan Dharma Narada.

Smith Huston, 2008. Agama-Agama Manusia, Jakarta: Yayasan Obor    Indonesia.

Dalai Lama, 2011, Samudra Kebijaksanaan, Jakarta: Ehipassiko      foundation.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_agama_Buddha

Kitab suci sutta pitaka, udana VIII: 3.

Kitab suci sutta pitaka.

Jirhanuddin, 2010.  perbandingan agama, Palang Karaya : pustaka pelajar.

Ali Matius, 2010. Filsafat India Sebuah Pengantar Hinduisme      & Buddihisme, Karang Mulya:

 Sanggar Luxor.

 

Keene Michael, 2006, Agama-Agama Dunia,Yogyakarta : Kanisius.

 

Wahyono Mulyadi, 1995. Sejarah perkembangan Agama Buddha. Jakarta: Dirijen Bimas Hindu Buddha.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WAHYU 11:3,4

makalah kejadian 4:5 Pemahaman Tuhan mengindahkan Persembahan Habel dan tidak mengindahkan persembahan Kain

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang masalah      Dalam   kejadian 1:1-31; 2:1-20 Tuhan menciptakan Bumi dengan keadaan ...