BAB
I
PENDAHULUAN
Latar
belakang masalah
“Menurut Luther surat Yakobus adalah surat jerami saja. Dia
mengatkan hal ini oleh karena tidak ada injil didalam surat ini. Dalam surat
ini Luther tidak sadar bahwa surat ini adalah petunjuk untuk memperbaiki
kehidupan rohani dan bukan kitab-kitab yang berisikan dasat–dasar teologi.”[1] Pada awalnya Luther tidak
terlalu menganggap surat ini, karena tidak ada injil dalamnya. “Namun dalam
surat ini terdapat cara hidup orang Kristen. Satu-satunya calon penulis dari
semua orang yang disebut dalam perjanjian baru hanya Yakobus saudara Tuhan
Yesus (mrk 6:3; kis 15:13; gal 1:19)”[2]
“Dalam Perjanjian Baru, Yakobus muncul sebagai
orang terkemuka dan terkemuka di gereja di Yerusalem. Di kemudian hari dia
disebutkan oleh para penulis gerejawi sebagai "Uskup Yerusalem;"” [3]
Surat kabar tersebut dimaksudkan untuk dituliskan kepada
"dua belas suku yang tersebar di luar negeri" - atau "dua belas
suku penyebaran" - Tidak disebutkan tempat mereka tinggal dibuat; Juga
tidak dapat ditentukan apa bagian dunia yang pertama kali dikirim, atau apakah
lebih dari satu salinan dikirim. Semua yang dapat ditentukan secara meyakinkan
berkenaan dengan orang-orang yang menjadi sasarannya, adalah: bahwa mereka keturunan Yahudi dan bahwa mereka
adalah orang Kristen yang bertobat, Yakobus 2: 1.[4] Yakobus mengirim surat ini
adalah kepada orang Yahudi Kristen yang pada waktu itu tersebar dimana-mana
yang berarti surat ini adalah surat edaran kepada orang-orang yang bukan hanya
di satu tempat saja melainkan dimana-mana. Yakobus mengirim surat ini adalah
untuk memperbaiki kehidupan orang Kristen Yahudi di perantauan.
“Dalam surat ini Yakobus ingin menuliskan bahwa hidup yang
berdasarkan iman kepada yesus lebih baik karena merupakan jalan yang pasti
menuju ke surga. Kitab Yakobus juga menenkankan hal hidup beriman. Yakobus
ingin supaya orang-orang tahu bahwa kelakuan dan perbuatan mereka sangat
penting. Dan pokok utama dari kitab Yaobus adalah kehidupan yang benar
membuktikan iman yang benar.”[5] Yakobus ingin para pembaca
suratnya mengerti bahwa surat ini diberikan agar dapat bertumbuh dengan iman yang
mereka miliki. Yakobus menginginkan agar iman yang mereka miliki dapat
diterapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Jika menurut Paulus dalam surat Roma 3:28 “karena kami yakin
bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan hanya karena ia malakukan hukum
taurat.” Yang berarti bahwa manusia dibenarkan oleh imannya kepada Yesus. Juga
dalam surat galatia 2:16 “Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan
oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus
Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami
dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum
Taurat. Sebab: "tidak ada seorangpun yang dibenarkan" oleh karena
melakukan hukum Taurat.” Tidak seorangpun dibenarkan oleh karena melakukan
hukum taurat, namun manusia dibenarkan oleh karena iman saja kepada Yesus
Kristus.
Berbeda dengan Yakobus dalam suratnya yakobus 2:24 bahwa “Jadi
kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan
hanya karena iman.” Bahwa manusia bukan saja dibenarkan oleh karena iman saja
melainkan manusia juga dibenarkan oleh perbuatan-perbuatannya.
Yang menjadi kebingungan dari penulis apakah manusia dibenarkan
oleh karena imannya saja kepada Yesus Kristus bukan karena perbuatannya seperti
yang dituliskan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat galatia dan Roma,
ataukah manusia dibenarkan oleh karena iman kepada Yesus dan perbuatannya juga
dalam kehidupan sehari-hari.
Identifikasi
masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah yang di uraikan diatas, maka penulis mengindentifikasi
beberapa permasalahan yaitu:
1.
Apa makna kalimat “dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan
bukan hanya karena iman.”
2.
Apakah makna teologi dari kalimat ““dibenarkan
karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.”
3.
Apa aplikasi dari kata “dibenarkan
karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.”
Tujuan penelitian
Penulis
juga memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai dari penulisan penelitian ini,
diantaranya:
1.
Mencari tahu makna kalimat “dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan
bukan hanya karena iman.”
2.
Mencari tahu makna Teologi kalimat “dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya
dan bukan hanya karena iman.”
3. Mencari
tahu aplikasi yang dapat diambil dari ka kalimat “dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya
karena iman.”
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kata “dibenarkan” dalam bahasa Indonesia
Dalam bahasa Indonesia kata dibenarkan
memiliki kata dasar; “benar” yang artinya adalah sesuai sebagaimana adanya
(seharusnya); betul; tidak salah. Dan kata dibenarkan memiliki kata aktif
“membenarkan” yang berarti membuat supaya benar; meluruskan.[6] Jadi arti dari dibenarkan
adalah: yang seharusnya seseorang dianggap salah, menjadi benar atau
diluruskan.
Kata “dibenarkan” dalam buku lain
Dalam buku galatia Paulus menuliskan bahwa
manusia dibenarkan oleh imannya kepada Yesus. “sangat penting untuk diingat bahwa iman itu sendiri tidak
menambahkan pembenaran, seolah-olah iman yang berjasa dalam dan dirinya
sendiri. Sebaliknya, iman adalah sarana oleh mana kita berpegang pada Kristus dan perbuatan-Nya bagi kita. kita
tidak dibenarkan berdasakan iman kita, tetapi berdasarkan kesetiaan Kristus
demi kita, yang kita minta untuk diri kita melalui iman.”[7] Paulus menyatakan bahwa
bukan karena iman dan perbuatan yang membuat kita dibenarkan, melainkan kita
dibenarkan oleh karena kesetiaan dan apa yang telah Yesus perbuat bagi kita.
Dalam surat Paulus kepada Roma “ketika
seorang berdosa berbalik kepada Allah untuk keselamatan, adlah tindakan kasih
karunia untuk mempertimbangkan atau menyatakan orang itu menjadi benar. Orang
itu dibenarkan melalui penebusan dalam Kristus, penebusan yang ditawarkan oleh Yesus
sebagai pengganti dan jaminan bagi orang berdosa.”[8] Manusia dinyatakan benar
adalah oleh akrena Yesus Kristuslah yang telah membenarkannya bukan oleh karena
dirinya sendiri.
Dan dalam buku yang sama “roma 3:28 adalah
kesimpulan klaim Paulus bahwa iman tidak termasuk kesombongan. Jika manusia
dibenarkan oleh perbuatannya sendiri, dia dapat menyombongkannya. Tetapi ketika
ia dibenarkan karena Yesus adalah objek imannya, maka penghargaan semata-mata
diberikan hanya kepada Allah, yang membenarkan orang berdosa.”[9] Dalam hal ini dinyatakan
bahwa jika manusia dibenarkan melalui perbuatannya maka akan ada kesombongan
dalam diri masing-masing. Namun jika kita dibenarkan oleh karena iman maka kita
akan merasa bahwa kita adalah manusia yang memerlukan keselamatan dan berfokus
pada Allah yang membenarkan orang berdosa.
Dalam dua buku yang memiliki kata
dibenarkan yaitu galatia dan Roma, penulis melihat bahwa sangat berbeda dengan
apa yang tertulis dalam Yakobus 2:24, yang menyatakan bahwa manusia dibenarkan
oleh karena perbuatan-perbuatannya juga. Oleh karena itu penulis ingin melihat
komentar dari para Ahli.
Komentar Para Ahli
Barnes Commentary
“Tidak seorang pun akan dibenarkan yang
tidak beriman yang akan menghasilkan perbuatan baik, dan yang merupakan
karakter operasi dan praktis. Dasar pembenaran dalam kasus ini adalah iman, dan
itu saja; bukti itu, yang melaksanakannya, bukti keberadaan iman, adalah
perbuatan baik; dan dengan demikian manusia dibenarkan dan diselamatkan bukan
hanya dengan iman yang abstrak dan dingin, tapi dengan iman yang selalu
berhubungan dengan perbuatan baik, dan di mana perbuatan baik melakukan peran
penting.” [10]
iman haruslah dapat ditunjukkan dari luar saja bukan dari hati, harus ada bukti
dari keberadaan iman, dan salah satu buktinya adalah dengan perbuatan-perbuatan
baik.
Calvin’s Commentary
“Manusia tidak dibenarkan oleh iman saja, yaitu dengan
pengetahuan kosong dan kosong tentang Tuhan; Dia dibenarkan oleh perbuatan,
yaitu, kebenarannya diketahui dan dibuktikan dengan buahnya.”
Clarkes
Commentary
“Ketaatan kepada Tuhan pada dasarnya diperlukan untuk
mempertahankan iman. Iman hidup, di bawah tuhan, oleh pekerjaan; dan pebuatan memiliki
keberadaan dan keunggulan dari iman. Tidak dapat bertahan hidup tanpa yang
lain, dan ini adalah titik dimana St James bekerja untuk membuktikan, untuk
meyakinkan Antinomians pada masanya bahwa iman mereka adalah khayalan belaka,
dan bahwa harapan yang dibangun di atasnya harus dibutuhkan binasa.”[11]
Manusia yang hanya
mengandalkan iman saja tanpa menyatakan dalam perbuatan adalah sia-sia seperti
halnya harapan.
Elicotts Commentary
“Kamu lihat bagaimana itu dengan bekerja. Perhatikan bahwa St
Yakobus mengatakan bahwa seseorang tidak dibenarkan "hanya dengan iman
saja," menempatkan kata keterangan itu dalam posisi terakhir dan paling
tegas. Dia tidak pernah menyangkal pembenaran oleh Iman; tapi itu lebih disukai
salah satu keyakinan diam, spekulatif, teoritis, tanpa tindakan cinta yang
sesuai.”[12]
Manusia tidak hanya dibenarkan oleh iman saja oleh karena, seorang yang
memiliki iman seharusnya memiliki perbuatan. Jika tidak memiliki perbuatan iman
itu adalah seperti hanya mencintai namun tidak ada tindakan dalam cinta itu.
Matthew
Henry Commentary
“Kita lihat kemudian, ayat 24, bagaimana dengan bekerja
seseorang dibenarkan, bukan oleh opini atau profesi yang telanjang, atau
percaya tanpa dipatuhi; tetapi dengan memiliki iman seperti menghasilkan perbuatan
baik. Iman adalah akar, perbuatan baik adalah buah; dan kita harus
memastikannya bahwa kita memiliki keduanya.”[13] Iman adalah akar dalam
pembenaran dan perbuatan yang dilakukan oleh manusia adalah buah dari yang
telah di imani oleh manusia.
Merril
C. Tenney
Sesungguhnya Yakobus bukan menentang iman, tetapi ia mengecam
kemunafikan mereka yang berpura-pura memiliki iman tanpa menunjukkannya dalam
perbuatan. Setiap kebenaran dapat diputar-balikkan dan doktrin tentang
keselamatan oleh iman dapat dengan mudah diselewengkan menjadi pengakuan suatu
kepercayaan tanpa diimbangi oleh kekudusan hidup. Yakobus tidak menyangkal
pentingnya iman. Tetapi menegaskan bahwa iman harus menunjukkan hasil.[14] Yakobus tidak pernah
bertentangan dengan Paulus, Yakobusingin mengecam orang-orang yng munafik yang
memiliki iman namun tidak menunjukkannya dalam perbuatan.
Charles
Caldwell
“Adalah sangat penting bagi argumen untuk mengingat bahwa
pertanyaan tentang apakah iman dapat diselamatkan dibatasi oleh hipotesis bahwa
hal itu harus dipahami dalam hubungan dengan seseorang yang mengatakan bahwa ia
memiliki iman tetapi menghasilkan apakah iman semacam itu, yaitu iman yang sudah
mati, bisa menghemat Itu adalah keimanan yang menurut Yakobus ditunjukkan
dengan tidak adanya tanggapan terhadap sedekah, yang sangat penting bagi orang
Yahudi.”[15]
Seorang yang mempunyai iman namun tidak melakukan apa yang diimaninya itulah
yang disalahkan oleh Yakobus. Suatu hal yang diimani haruslah seperti itu yang
diperbuatnya dalam kehidupannya.
Tafsiran
alkitab masa kini
“demikian pula seorang dibenarkan karena iman dan dibenarkan
karena perbuatan-perbuatannya. Iman itu harus hidup dan perbuatan-perbuatannya
dibangkitkan oleh iman. Kedua-duanya dibedakan dalam pikiran, tetapi harus
dipersatukan dalam kenyataan. Iman Kristen dan amal Yahudi (paulus); iman
Yahudi dan amal Kristen (yakobus). Paulus berpendirian bahwa yang membenarkan
adakah iman Kristen, bukannya amal yahudi dengan melakukan hukum taurat (rm
3:28). Yakobus dalam hal ini tidak puas dengan iman Yahudi(pengajaran keesaan
Allah; ayat 19) tapi menuntut amal kristen selaku bukti bahwa orang itu
dibenarkan.”[16]
Paulus dan juga Yakobus memiliki kesamaan yaitu seorang Kristen haruslah
memiliki iman Kristen dan dengan iman itu akan membuahkan perbuatan Kristen,
yang berarti manusi bukanlah selamat dengan melakukan hukum taurat melainkan
karena iman itu, dan iman itu akan membuahkan perbuatan kebajikan.
Seventh
day adventist bible Commentary
“Yakobus tidak menyangkal bahwa seseorang dinyatakan benar
karena iman, karena kutipan yang diberikannya dari gen 15: 6 adalah bukti dari
kepercayaan ini. Namun, dia menolak hanya pengakuan iman semata yang bisa
membenarkan seorang manusia. perbuatan baik menyertai iman dan membuktikan
keabsahan iman yang dengannya seseorang dibenarkan. Jika tidak ada
"perbuatan", terbukti bahwa iman sejati tidak ada”[17]
BAB
III
Kesimpulan
“Paulus dan Yakobus sepakat mengenai pembenaran oleh iman.
Sementara Paulus mengamanatkan betapa tidak benarnya pencarian pembenaran
melalui perbuatan, dan Yakobus mengaitkan betapa berbahayanya konsep pembenaran
tanpa perbuatan. Baik amal maupun iman yang mati tidaklah akan menuntun kepada
pembenaran. Hal itu dapat diwujudkan hanyalah dengan iman yang sejati yang
bekerja berdasarkan kasih.”[18] Paulus menulis pembenaran
oleh iman agar jangan sampai orang-orang menganggap jika mereka melakukan
kebaikan akan selamat, dan Yakobus menyatakan bahwa dalam memiliki iman
haruslah ada buahnya yaitu perbuatan akan firman Tuhan.
Paulus dan yakobus memiliki perbedaan pandangan tentang
pembenaran, namun dalam konteks abraham dalam roma 4 adalah mengenai apakah
sunat itu penting. Paulus menuliskan bahwa Abraham tidak dibenarkan oleh karena
melakukan hukum taurat karena Abraham percaya kepada Allah sebelum disunat.
Abraham disunat sebagai ppengakuan luar dari imannya. Paulus mengartikan iman
yang menyelamatkan adalah percaya bahwa Allah menepati janji-Nya.
Perbuatan-perbuatan yang dimaksudkan bukanlah perbuatan hukum. Melainkan
perbuatan-perbuatan iman. Iman yang sejati adalah “iman yang bekerja melalui
kasih.perbuatan baik bukan sekedar tanda lahiriah iman, tetapi merupakan
penyempurnaan iman. Menurut Yakobus melalui penurutan, iman menjadi sempurna.[19]
Aplikasi
Setiap manusia sudah dibenarkan oleh Tuhan. segala kesalahan
yang manusia Tuhan sudah anggap benar. Jika manusia memiliki iman kepada Tuhan
melalui firman-Nya, maka sudah dibenarkan. Namun sebagai manusia yang sudah
dibenarkan melalui iman, kita harus memiliki perbuatan-perbuatan yang
menyatakan iman kita. seperti halnya pohon, iman adalah akar yang membantu
pertumbuhan dari pohon dan perbuatan adalah buah dari iman tersebut. Karena
perbuatan adalah pengakuan luar yang manusia lihat, dan iman hanya Tuhan saja
yang dapat melihatnya.
[1] D.
Guthrie, Tafsiran Alkitab Masa Kini (Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih,
1999), 471.
[5]E. Chauke dan B. Beckelhymer, Penyelidikan
Perjanjian Baru (bandung: Yayasan Kalam Hidup, 1999),112.
[8]
Team
ABSG, Keselamatan oleh Iman saja Kitab Roma (bandung: Indonesia Publishing
House, 2017), 29
[13]
Matthew
Henry, Commentary on the Bible by Matthew Henry, (michigan: Zondervan Publihing
House, 1978), 331.
[17] franchis
d. Nichol Seventh day adventist commentarry,
(washington d.c : review and herald publishing association, 1957), 547.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar