Kamis, 12 September 2024

Daud : Seorang Yang Berkenan di Hati Tuhan

 

 

Pendahuluan.

“Sebatang pohon paling gampang diukur kalau sudah roboh” (Carl Sandburg).

Dalam hal ini Carl Sandburg mengatakan, ‘hanya setelah sebuah kehidupan sudah ‘berakhir’ baru kita dapat mengukur dengan benar ukuran panjang kesignifikanannya, luasnya pengaruhnya, dan kedalaman karakternya.’

 

Demikianlah dalam hidup seorang tokoh besar dalam kitab Perjanjian Lama, Daud.

 

Satu-satunya orang didalam seluruh Alkitab yang disebut  “seorang yang berkenan dihati Tuhan”, (artinya Tuhan benar-benar suka pada orang ini) adalah Daud. Dan hal tersebut ditulis di dalam kedua buku, Perjanjian Lama dan Baru Baca ( 1Samuel 13: 14 & Kisah 13: 22 ). Nama Daud paling banyak disebut di dalam kitab Perjanjian Baru, melebihi dari semua tokoh-tokoh Perjanjian Lama.

  • Daud dikenal sebagai seorang melankolie, sensitive, dan memiliki perasaan yang dalam.
  • Didalam dunia militer, Daud dikenal sebagai prajurit yang gagah berani, seorang strategitik, dan negarawan. Daud dikenal sebagai raja yang terbesar di dalam sejarah kekristenan dan orang Yahudi.
  • Didalam dunia musik, Daud dikenal sebagai penyair dan pemain musik.
  • Didalam mengambil keputusan, Daud menimbang dengan hikmat dan keadilan.
  • Sebagai seorang sahabat, Daud adalah orang yang setia sampai akhir.
  • Sebagai seorang gembala, Daud dikenal sebagai orang yang rendah hati, setia dan dapat dipercaya.
  • Sebagai anak Tuhan, Daud memiliki hubungan yang akrab dengan Tuhan,  hal ini dituliskannya dalam Mazmur 25: 14: “Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.”

 

Tetapi, seperti yang kita lihat, Daud (sama seperti kita) tidaklah sempurna.

Daud memiliki lembaran hitam dalam hidupnya: Setelah mendapat kepercayaan dan rasa hormat dari rakyat, dia mempertaruhkan semuanya dengan kenikmatan hawa nafsu yang sesaat.

Jadi, ini yang menarik perhatian kita untuk mempelajari kehidupan Daud. Selain kehidupannya yang sangat akrab dengan Tuhan, Daud juga memiliki ketidak sempurnaan.

 

Apa yang membuat Daud special dihadapan Tuhan? Kenapa Allah mengatakan bahwa Ia sangat menyukai Daud (terjemahan bebas dari istilah orang yang berkenan dihati).

Sebenarnya Allah memandang kepada semua orang itu sama, dengan kata lain, Allah tidak memandang bulu kepada setiap orang.

Bagaimana seseorang dapat menjadi orang yang berkenan dihati Allah?

 

Kalau kita kembali kepada Kisah Rasul 13: 22, dikatakan, “Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.”

 

Perhatikan kata “yang melakukan segala kehendakKu” . Nah, apakah kita mau melakukan segala sesuatu yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita? Tentu anda menjawab, tentu saja!

 

Sekarang kita mau melihat tiga hal tentang Daud, sehingga Daud dikena sebagai orang yang berkenan di hati Tuhan:

 

I.                   Daud adalah orang yang diketemukan Allah sendiri

Jadi, Allah sendiri yang telah mengatakannya, “Aku telah mendapat Daud bin Isai” (Kis. 13: 22). Baca Mazmur 78: 70 ; 89: 21

 

Sekarang kita berpikir, kenapa Allah telah mencari seseorang? Untuk itu mari kita melihat kepada latar belakangnya:

 

Daud hidup 1000 tahun sebelum Yesus lahir, sepuluh tahun setelah pemerintahan raja Saul.

Eli, si imam besar dan putera-puteranya sudah tiada. Penerusnya yang merupakan pilihan Allah, Samuel, hakim yang terakhir, sudah tua. Rakyat sudah mendengar semua ceritera tentang masa-masa ketika Israel masih menjadi bangsa yang besar dan tentang masa-masa ketika Samuel berada dipuncak kariernya, ketika ia menaklukkan

bangsa Filistin dan memimpin negeri itu dengan bijaksana dan baik. Tetapi kebanyakan dari mereka tidak mengalaminya secara pribadi. Mereka hanya tahu bahwa Samuel sudah tua dan telah mengangkat putera-puteranya menjadi hakim atas Israel. Ini sungguh suatu kesalahan besar.  (Baca 1 Sam. 8: 1- 3).

 

Maka orang-orang Israel merasa di kecewakan, dan mereka berharap ada sesuatu yang dapat dilakukan terhadap hal tersebut. Yang benar-benar mereka inginkan adalah seorang raja.

Sebenarnya, putera-putera Samuel yang tidak patuh itu bukan satu-satunya penyebab dari permintaan mereka. Para tua-tua Israel mengadakan rapat tinggi di Ramah, sebuah tempat di daerah perbukitan sekitar lima mil di sebelah utara Yerusalem, dan mereka berkata, “Samuel, ada tiga alasan kami menginginkan seorang raja. Pertama, engkau sudah tua. Kedua, anak-anakmu tidak hidup seperti engkau. Dan ketiga, kami ingin menjadi seperti bangsa-bangsa lain. Maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain” (1Sam. 8: 5).

 

Dari dahulu manusia selalu ingin menjadi seperti orang-orang lain, melakukan hal-hal yang popular. Demikian dengan orang-orang Israel pada zaman itu. Mereka berkata, “Kami telah bosan menyembah Allah yang tidak kelihatan. Semua orang mengatakan,  ‘Dimana raja kalian?’ Dan kami harus mengatakan, ‘Oh, Dia berada di surga.’ Kami menginginkan seorang pemimpin di bumi ini, Samuel. Kami ingin menjadi seperti semua bangsa yang lain. Lihatlah bangsa Filistin, Moab dan bangsa Yebus, mereka semua mempunyai raja. Kami ingin seperti demikian.

Nah, hal ini menghancurkan hati Samuel, maka dia menghadap Allah dan mendoakan hal itu, baca  1Samuel 8: 7, 9!

 

Aplikasi:

Hati-hati dengan pengaruh lingkungan. Karena mereka dapat mempengaruhi kehidupan kita, seperti pengalaman orang-orang Israel yang dipengaruhi oleh lingkungannya, sehingga mereka menuntut seorang raja.

Illustrasi: Kura-kura dan kalajengking!

Baca 1 Kor. 15: 33!

 

Maka Tuhan membiarkan mereka mendapatkan persis seperti apa yang mereka inginkan. Pria yang mereka pilih, Saul, tinggi berkulit gelap, dan tampan. Itulah cara manusia memilih raja-raja. Mereka mencari seorang yang mempunyai tampang yang bagus. Mereka tidak dapat melihat tembus kedalam hati orang tersebut hanya di-luarnya saja. Ketika Saul terpilih menjadi raja, ia berusia empat puluh tahun. Pada waktu itu Daud baru lahir. Pada mulanya, Saul memiliki sifat yang rendah hati. Ia memiliki kemampuan untuk menggerakkan rakyat  demi kepentingan bersama bahkan menyatukan prajurit-prajurit.

Walaupun, Saul berusia empat puluh tahun, dalam sekejap dia menjadi mudah tersinggung, gampang naik darah, dan menjadi iri-hati. Bukan itu saja, Saul menjadi orang yang sombong. Kesombongannya ini membawa dia tidak lagi memperhatikan perintah Tuhan sehingga ia ditolak oleh Tuhan (1 Samuel 16: 1).

Allah menyatakan hal ini didalam Hosea “Aku memberikan engkau seorang raja dalam kemarahan-Ku, dan mengambilnya dalam murkaKu “ (in my anger I gave you a king, and in my wrath I took him away) (Hos. 13: 11).

 

Dr. Lloyd-Jones mengatakan, “The worst thing that can happen to a man is to succeed before he is ready.”

 

Saul telah diangkat menjadi raja ketika dia belum siap. Saul melangkahi otoritas Samuel. Saul tidak taat kepada otoritas.  Baca 1Petrus 2: 18- 21!

Tiga hal kenapa Allah menempatkan orang yang bengis menjadi otoritas anda:

  • Supaya Allah dapat melakukan pembalasan (karena pembalasan itu adalah hak Tuhan)
  • Supaya kita dapat sama seperti Yesus, yang taat dibawah otoritas Pontius Pilatus  (baca Mark. 15: 2- 5)

·        Melalui ketaatan tersebut, Allah di-permuliakan melalui hidup kita.

 

Kesombongan adalah salah satu karakter yang sangat dibenci Tuhan:

“Enam perkara ini yang dibenci Tuhan, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hatiNya: mata sombong……..” (Ams. 6: 16, 17).

“Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihi orang yang rendah hati” (Yak. 4: 6)

 

Illustrasi: Wajah Abraham Lincoln

 

Aplikasi:

Sampai hari ini juga Allah tetap masih mencari seseorang yang berkenan dihatiNya. Tuhan mencari bukan hanya di Gereja saja, tetapi di kampus sekolah, di rumah sakit, di perkantoran, di rumah –rumah, di segala tempat dimana manusia sedang melakukan aktivitasnya. Baca 2 Tawarith 16: 9 !

 

Perhatikan, kata ‘mendapat’. Disini, Allah sendiri yang mencari atau mengambil inisiatif sendiri. Jadi, apabila kita berbicara mengenai istilah ‘orang-orang yang di ketemukan’, maksudnya adalah ‘Allah sendiri yang telah mencari dan menemukan orang tersebut.’

# Tanda pertama dari orang yang itu hidup berkenan kepada Allah adalah mereka ditemui oleh Allah secara pribadi.

 

Yesus pernah berkata, bahwa “Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku” (Yoh. 6: 44).

“Sebab Anak manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Luk. 19: 10).

 

II.                Daud adalah orang yang ditakuti

Coba kita bayangkan, apabila seorang nabi datang kepada kita, dan kemudian mengatakan bahwa, “You are finished. Allah telah memilih orang yang berkenan dihatiNya.” Apa yang kita rasakan atau pikiran? Inilah yang terjadi terhadap Saul.

Baca  1 Samuel 13: 13 -14!

 

Mungkin, Saul berkata, “Ah, Samuel kan juga manusia, tidak sempurna. Jangan-jangan nubuatannya salah.” Oleh sebab itu, Saul tidak bertobat dari kesombongannya.

 

Tidak lama setelah nabi Samuel menyampaikan nubuatan kepada Saul mengenai pilihan Allah, Daud, yang telah diurapi oleh Samuel, maju berperang dan mengalahkan Goliat dalam sebuah pertempuran. Kemudian terdengaranlah sebuah lagu yang dikarang oleh wanita-wanita Israel, mereka menyanyi sambil menari dengan diiringi oleh rebana dan gerincing: “Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa” (1 Sam. 18: 7).

Akibat lagu tersebut, maka “Saul menjadi takut kepada Daud”. Kenapa demikian? “Karena Tuhan menyertai Daud sedang pada Saul Tuhan telah undur” (1 Sam. 18: 12).

 

Aplikasi:

Berapa banyak orang yang sudah terima kasih anugerah Allah, tetapi hidupnya, masih belum disegani oleh teman-temannya atau orang tuanya.

Apabila Roh Allah bersama dengan kita maka, kita akan hidup seperti Daud, ditakuti atau disegani. Baca Kis. 5: 12- 13 & 1Tim. 4: 12 !

Contoh:

 

# Tanda kedua dari orang yang hidup berkenan kepada Allah adalah apabila ia disegani atau ditakuti.

 

III.             Daud telah menerima kesalahannya dan memohon pengampunan

Selain Daud orang yang ditakuti atau disegani oleh raja Saul, Daud juga orang yang pernah jatuh kedalam dosa perzinahan dan pembunuhan.

 

Suatu kali Daud mengalami suatu krisis yang dikenal dengan ‘midlife crisis’, dimana pada usia tertentu (diatas 40-an) seorang lelaki mengalami suatu kebutuhan untuk dikagumi oleh wanita yang lebih muda.

Baca 2 Sam. 11: 2- 4 !

 

Jadi, Daud berpikir bahwa perbuatannya dengan Batsyeba itu hanya sekedar iseng saja. Tetapi tidak lama kemudian, Batsyeba mengirim utusan kepada Daud, untuk mengatakan bahwa ia hamil. Lalu, Daud mencoba untuk memberikan suatu solusi dari masalah ini. Dia mengirim utusan kepada Uria, suami Batsyeba, supaya ia pulang dari tugasnya dan mengambil cuti sebentar untuk bisa berbulan madu bersama istrinya. Dengan demikian, perbuatannya tidak akan diketahui oleh Uria dan orang lain, ketika anak itu lahir nanti. Tetapi usul tersebut ditolak oleh Uria. Akhirnya Daud, kehabisan akal, sehingga ia menyuruh panglimanya menempatkan Uria dibarisan paling depan dalam peperangan, sehingga Uria mati dalam peperangan tersebut.

Daud melakukan yang jahat dimata Tuhan. Lalu Tuhan mengutus nabi Natan untuk menegur dosa Daud. Daud menerima kesalahannya dan memohon pengampunan.

Daud menerima pengampunan dari Tuhan (2 Sam. 12: 13).

 

Aplikasi:

Setiap orang pasti mempunyai kekurangan dan kelemahan. Tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi keangkuhan manusia itulah yang selalu menjadi kebencian Tuhan. Sering sekali apabila kita telah berbuat kesalahan, maka kita mencari kambing hitam, supaya tidak langsung dapat di persalahkan. Musuh terbesar dari manusia itu adalah dirinya sendiri. Kita selalu menipu diri kita sendiri.Kita tidak pernah menyadari akan kelemahan dan kekurangan kita. Kita selalu melihat kekurangan dan kelemahan orang lain. Kita merasa malu apabila diketahui oleh orang lain, kesalahan yang kita lakukan.

Contoh:

 

Alkitab mengatakan “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” (1 Yoh. 1: 9).

 

# Tanda ketiga dari orang yang hidup berkenan kepada Allah adalah apabila ia berani mengakui dan memohon ampun akan kesalahannya.

 

Konklusi:

Orang yang berkenan kepada Allah adalah mereka:

  • Mereka yang di ketemukan oleh Allah
  • Mereka yang ditakuti/ disegani oleh orang lain
  • Mereka yang berani menerima kesalahan dan memohon ampun atas kesalahannya

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WAHYU 11:3,4

makalah kejadian 4:5 Pemahaman Tuhan mengindahkan Persembahan Habel dan tidak mengindahkan persembahan Kain

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang masalah      Dalam   kejadian 1:1-31; 2:1-20 Tuhan menciptakan Bumi dengan keadaan ...