Pendahuluan.
“Sebatang pohon paling gampang diukur kalau
sudah roboh” (Carl Sandburg).
Dalam hal ini Carl Sandburg mengatakan, ‘hanya setelah sebuah kehidupan
sudah ‘berakhir’ baru kita dapat mengukur dengan benar ukuran panjang
kesignifikanannya, luasnya pengaruhnya, dan kedalaman karakternya.’
Demikianlah dalam hidup seorang tokoh besar dalam kitab Perjanjian Lama,
Daud.
Satu-satunya orang didalam seluruh Alkitab yang disebut “seorang yang
berkenan dihati Tuhan”, (artinya Tuhan benar-benar suka pada orang ini)
adalah Daud. Dan hal tersebut ditulis di dalam kedua buku, Perjanjian Lama dan
Baru Baca ( 1Samuel 13: 14 & Kisah 13: 22 ). Nama Daud paling
banyak disebut di dalam kitab Perjanjian Baru, melebihi dari semua tokoh-tokoh
Perjanjian Lama.
- Daud dikenal sebagai seorang melankolie,
sensitive, dan memiliki perasaan yang dalam.
- Didalam dunia militer, Daud dikenal sebagai
prajurit yang gagah berani, seorang strategitik, dan negarawan. Daud dikenal
sebagai raja yang terbesar di dalam sejarah kekristenan dan orang Yahudi.
- Didalam dunia musik, Daud dikenal sebagai penyair
dan pemain musik.
- Didalam mengambil keputusan, Daud menimbang
dengan hikmat dan keadilan.
- Sebagai seorang sahabat, Daud adalah orang yang
setia sampai akhir.
- Sebagai seorang gembala, Daud dikenal sebagai
orang yang rendah hati, setia dan dapat dipercaya.
- Sebagai anak Tuhan, Daud memiliki hubungan yang
akrab dengan Tuhan, hal ini dituliskannya dalam Mazmur 25: 14:
“Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan
perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.”
Tetapi, seperti yang kita lihat, Daud (sama seperti kita) tidaklah
sempurna.
Daud memiliki lembaran hitam dalam hidupnya: Setelah mendapat kepercayaan
dan rasa hormat dari rakyat, dia mempertaruhkan semuanya dengan kenikmatan hawa
nafsu yang sesaat.
Jadi, ini yang menarik perhatian kita untuk mempelajari kehidupan Daud.
Selain kehidupannya yang sangat akrab dengan Tuhan, Daud juga memiliki ketidak
sempurnaan.
Apa yang membuat Daud special dihadapan Tuhan? Kenapa Allah mengatakan
bahwa Ia sangat menyukai Daud (terjemahan bebas dari istilah orang yang
berkenan dihati).
Sebenarnya Allah memandang kepada semua orang itu sama, dengan kata lain,
Allah tidak memandang bulu kepada setiap orang.
Bagaimana seseorang dapat menjadi orang yang berkenan dihati Allah?
Kalau kita kembali kepada Kisah Rasul 13: 22, dikatakan, “Setelah
Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud
Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan
di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.”
Perhatikan kata “yang melakukan segala kehendakKu” . Nah, apakah
kita mau melakukan segala sesuatu yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita? Tentu
anda menjawab, tentu saja!
Sekarang kita mau melihat tiga hal tentang Daud, sehingga Daud dikena
sebagai orang yang berkenan di hati Tuhan:
I.
Daud adalah orang yang diketemukan Allah sendiri
Jadi, Allah sendiri yang telah mengatakannya, “Aku telah mendapat Daud
bin Isai” (Kis. 13: 22). Baca Mazmur 78: 70 ; 89: 21
Sekarang kita berpikir, kenapa Allah telah mencari seseorang? Untuk itu
mari kita melihat kepada latar belakangnya:
Daud hidup 1000 tahun sebelum Yesus lahir, sepuluh tahun setelah
pemerintahan raja Saul.
Eli, si imam besar dan putera-puteranya sudah tiada. Penerusnya yang
merupakan pilihan Allah, Samuel, hakim yang terakhir, sudah tua. Rakyat sudah
mendengar semua ceritera tentang masa-masa ketika Israel masih menjadi bangsa
yang besar dan tentang masa-masa ketika Samuel berada dipuncak kariernya,
ketika ia menaklukkan
bangsa Filistin dan memimpin negeri itu dengan bijaksana dan baik. Tetapi
kebanyakan dari mereka tidak mengalaminya secara pribadi. Mereka hanya tahu
bahwa Samuel sudah tua dan telah mengangkat putera-puteranya menjadi hakim atas
Israel. Ini sungguh suatu kesalahan besar. (Baca 1 Sam. 8: 1- 3).
Maka orang-orang Israel merasa di kecewakan, dan mereka berharap ada
sesuatu yang dapat dilakukan terhadap hal tersebut. Yang benar-benar mereka
inginkan adalah seorang raja.
Sebenarnya, putera-putera Samuel yang tidak patuh itu bukan satu-satunya
penyebab dari permintaan mereka. Para tua-tua Israel mengadakan rapat tinggi di
Ramah, sebuah tempat di daerah perbukitan sekitar lima mil di sebelah utara
Yerusalem, dan mereka berkata, “Samuel, ada tiga alasan kami menginginkan
seorang raja. Pertama, engkau sudah tua. Kedua, anak-anakmu tidak hidup seperti
engkau. Dan ketiga, kami ingin menjadi seperti bangsa-bangsa lain. Maka
angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada
segala bangsa-bangsa lain” (1Sam. 8: 5).
Dari dahulu manusia selalu ingin menjadi seperti orang-orang lain,
melakukan hal-hal yang popular. Demikian dengan orang-orang Israel pada zaman
itu. Mereka berkata, “Kami telah bosan menyembah Allah yang tidak kelihatan.
Semua orang mengatakan, ‘Dimana raja kalian?’ Dan kami harus mengatakan,
‘Oh, Dia berada di surga.’ Kami menginginkan seorang pemimpin di bumi ini,
Samuel. Kami ingin menjadi seperti semua bangsa yang lain. Lihatlah bangsa
Filistin, Moab dan bangsa Yebus, mereka semua mempunyai raja. Kami ingin
seperti demikian.
Nah, hal ini menghancurkan hati Samuel, maka dia menghadap Allah dan
mendoakan hal itu, baca 1Samuel 8: 7, 9!
Aplikasi:
Hati-hati dengan pengaruh lingkungan. Karena mereka dapat mempengaruhi
kehidupan kita, seperti pengalaman orang-orang Israel yang dipengaruhi oleh
lingkungannya, sehingga mereka menuntut seorang raja.
Illustrasi:
Kura-kura dan kalajengking!
Baca 1 Kor. 15: 33!
Maka Tuhan membiarkan mereka mendapatkan persis seperti apa yang mereka
inginkan. Pria yang mereka pilih, Saul, tinggi berkulit gelap, dan tampan.
Itulah cara manusia memilih raja-raja. Mereka mencari seorang yang mempunyai
tampang yang bagus. Mereka tidak dapat melihat tembus kedalam hati orang
tersebut hanya di-luarnya saja. Ketika Saul terpilih menjadi raja, ia berusia
empat puluh tahun. Pada waktu itu Daud baru lahir. Pada mulanya, Saul memiliki
sifat yang rendah hati. Ia memiliki kemampuan untuk menggerakkan rakyat
demi kepentingan bersama bahkan menyatukan prajurit-prajurit.
Walaupun, Saul berusia empat puluh tahun, dalam sekejap dia menjadi mudah
tersinggung, gampang naik darah, dan menjadi iri-hati. Bukan itu saja, Saul
menjadi orang yang sombong. Kesombongannya ini membawa dia tidak lagi
memperhatikan perintah Tuhan sehingga ia ditolak oleh Tuhan (1 Samuel 16: 1).
Allah menyatakan hal ini didalam Hosea “Aku memberikan engkau seorang
raja dalam kemarahan-Ku, dan mengambilnya dalam murkaKu “ (in my anger I
gave you a king, and in my wrath I took him away) (Hos. 13: 11).
Dr. Lloyd-Jones mengatakan,
“The worst thing that can happen to a man is to succeed before he is ready.”
Saul telah diangkat menjadi raja ketika dia belum siap. Saul melangkahi
otoritas Samuel. Saul tidak taat kepada otoritas. Baca 1Petrus 2: 18-
21!
Tiga hal kenapa Allah menempatkan orang yang
bengis menjadi otoritas anda:
- Supaya Allah dapat melakukan pembalasan (karena
pembalasan itu adalah hak Tuhan)
- Supaya kita dapat sama seperti Yesus, yang taat
dibawah otoritas Pontius Pilatus (baca Mark. 15: 2- 5)
· Melalui
ketaatan tersebut, Allah di-permuliakan melalui hidup kita.
Kesombongan adalah salah satu karakter yang sangat dibenci Tuhan:
“Enam perkara ini yang dibenci Tuhan, bahkan,
tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hatiNya: mata sombong……..” (Ams. 6: 16, 17).
“Allah menentang orang yang congkak, tetapi
mengasihi orang yang rendah hati” (Yak. 4: 6)
Illustrasi: Wajah Abraham Lincoln
Aplikasi:
Sampai hari ini juga Allah tetap masih mencari seseorang yang berkenan
dihatiNya. Tuhan mencari bukan hanya di Gereja saja, tetapi di kampus sekolah,
di rumah sakit, di perkantoran, di rumah –rumah, di segala tempat dimana
manusia sedang melakukan aktivitasnya. Baca 2 Tawarith 16: 9 !
Perhatikan, kata ‘mendapat’. Disini, Allah sendiri yang mencari atau
mengambil inisiatif sendiri. Jadi, apabila kita berbicara mengenai istilah
‘orang-orang yang di ketemukan’, maksudnya adalah ‘Allah sendiri yang telah
mencari dan menemukan orang tersebut.’
# Tanda pertama dari orang
yang itu hidup berkenan kepada Allah adalah mereka ditemui oleh Allah secara
pribadi.
Yesus pernah berkata, bahwa “Tidak ada seorangpun yang dapat datang
kepadaKu, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku” (Yoh. 6:
44).
“Sebab Anak manusia datang untuk mencari dan
menyelamatkan yang hilang” (Luk. 19: 10).
II.
Daud adalah orang yang
ditakuti
Coba kita bayangkan, apabila seorang nabi datang kepada kita, dan kemudian
mengatakan bahwa, “You are finished. Allah telah memilih orang yang berkenan
dihatiNya.” Apa yang kita rasakan atau pikiran? Inilah yang terjadi terhadap
Saul.
Baca 1 Samuel 13: 13 -14!
Mungkin, Saul berkata, “Ah, Samuel kan juga manusia, tidak sempurna.
Jangan-jangan nubuatannya salah.” Oleh sebab itu, Saul tidak bertobat dari
kesombongannya.
Tidak lama setelah nabi Samuel menyampaikan nubuatan kepada Saul mengenai
pilihan Allah, Daud, yang telah diurapi oleh Samuel, maju berperang dan
mengalahkan Goliat dalam sebuah pertempuran. Kemudian terdengaranlah sebuah
lagu yang dikarang oleh wanita-wanita Israel, mereka menyanyi sambil menari
dengan diiringi oleh rebana dan gerincing: “Saul mengalahkan beribu-ribu
musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa” (1 Sam. 18: 7).
Akibat lagu tersebut, maka “Saul menjadi takut kepada Daud”. Kenapa
demikian? “Karena Tuhan menyertai Daud sedang pada Saul Tuhan telah undur”
(1 Sam. 18: 12).
Aplikasi:
Berapa banyak orang yang sudah terima kasih anugerah Allah, tetapi
hidupnya, masih belum disegani oleh teman-temannya atau orang tuanya.
Apabila Roh Allah bersama dengan kita maka, kita akan hidup seperti Daud,
ditakuti atau disegani. Baca Kis. 5: 12- 13 & 1Tim. 4: 12 !
Contoh:
# Tanda kedua dari orang yang
hidup berkenan kepada Allah adalah apabila ia disegani atau ditakuti.
III. Daud telah menerima kesalahannya dan memohon pengampunan
Selain Daud orang yang ditakuti atau disegani oleh raja Saul, Daud juga
orang yang pernah jatuh kedalam dosa perzinahan dan pembunuhan.
Suatu kali Daud mengalami suatu krisis yang dikenal dengan ‘midlife
crisis’, dimana pada usia tertentu (diatas 40-an) seorang lelaki mengalami
suatu kebutuhan untuk dikagumi oleh wanita yang lebih muda.
Baca 2 Sam. 11: 2- 4 !
Jadi, Daud berpikir bahwa perbuatannya dengan Batsyeba itu hanya sekedar
iseng saja. Tetapi tidak lama kemudian, Batsyeba mengirim utusan kepada Daud,
untuk mengatakan bahwa ia hamil. Lalu, Daud mencoba untuk memberikan suatu
solusi dari masalah ini. Dia mengirim utusan kepada Uria, suami Batsyeba,
supaya ia pulang dari tugasnya dan mengambil cuti sebentar untuk bisa berbulan
madu bersama istrinya. Dengan demikian, perbuatannya tidak akan diketahui oleh
Uria dan orang lain, ketika anak itu lahir nanti. Tetapi usul tersebut ditolak
oleh Uria. Akhirnya Daud, kehabisan akal, sehingga ia menyuruh panglimanya
menempatkan Uria dibarisan paling depan dalam peperangan, sehingga Uria mati
dalam peperangan tersebut.
Daud melakukan yang jahat dimata Tuhan. Lalu Tuhan mengutus nabi Natan
untuk menegur dosa Daud. Daud menerima kesalahannya dan memohon pengampunan.
Daud menerima pengampunan dari Tuhan (2 Sam. 12: 13).
Aplikasi:
Setiap orang pasti mempunyai kekurangan dan kelemahan. Tidak ada manusia
yang sempurna. Tetapi keangkuhan manusia itulah yang selalu menjadi kebencian
Tuhan. Sering sekali apabila kita telah berbuat kesalahan, maka kita mencari
kambing hitam, supaya tidak langsung dapat di persalahkan. Musuh terbesar dari
manusia itu adalah dirinya sendiri. Kita selalu menipu diri kita sendiri.Kita
tidak pernah menyadari akan kelemahan dan kekurangan kita. Kita selalu melihat
kekurangan dan kelemahan orang lain. Kita merasa malu apabila diketahui oleh
orang lain, kesalahan yang kita lakukan.
Contoh:
Alkitab mengatakan “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia
dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari
segala kejahatan” (1 Yoh. 1: 9).
# Tanda ketiga dari orang yang
hidup berkenan kepada Allah adalah apabila ia berani mengakui dan memohon ampun
akan kesalahannya.
Konklusi:
Orang yang berkenan kepada Allah adalah mereka:
- Mereka yang di ketemukan oleh Allah
- Mereka yang ditakuti/ disegani oleh orang lain
- Mereka yang berani menerima kesalahan dan memohon
ampun atas kesalahannya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar