BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Sejauh ini buku-buku Teks Ilmu
Pengetahuan Alam diisi oleh Teori-teori yang berbau evolusi. Namun sekalipun
banyak ilmuwan yang mempercayai evolusi daripada model kreasi, bukan berarti
evolusi merupakan fakta dan kebenaran. Kebenaran tidak ditentukan oleh jumlah
melainkan oleh fakta dan kenyataan.[1]
Evolusi (dalam kajian biologi) berarti
perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu populasi organisme dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Perubahan-perubahan ini disebabkan oleh
kombinasi tiga proses utama: variasi, reproduksi, dan seleksi. Sifat-sifat yang
menjadi dasar evolusi ini dibawa oleh gen yang diwariskan kepada keturunan
suatu makhluk hidup dan menjadi bervariasi dalam suatu populasi. Ketika
organisme bereproduksi, keturunannya akan mempunyai sifat-sifat yang baru.
Sifat baru dapat diperoleh dari perubahan gen akibat mutasi ataupun transfer
gen antar populasi dan antar spesies. Pada spesies yang bereproduksi secara
seksual, kombinasi gen yang baru juga dihasilkan oleh rekombinasi genetika,
yang dapat meningkatkan variasi antara organisme. Evolusi terjadi ketika
perbedaan-perbedaan terwariskan ini menjadi lebih umum atau langka dalam suatu
populasi.[2]
Evolusi
merupakan proses perubahan makhluk hidup secara lambat dalam waktu yang sangat
lama, sehingga berkembang menjadi berbagai spesies baru yang lebih lengkap
struktur tubuhnya. Menurut teori evolusi, makhluk hidup yang sekarang berbeda
dengan makhluk hidup jaman dahulu. Nenek moyang makhluk hidup sekarang yang
bentuk dan strukturnya (mungkin) berbeda mengalami perubahan-perubahan baik
struktur maupun genetis dalam waktu yang sangat lama, sehingga bentuknya jauh
menyimpang dari struktur aslinya dan akhirnyamenghasilkan berbagai macam
spesies yang ada sekarang. Jadi tumbuhan dan hewan yang ada sekarang bukanlah
makhluk hidup yang pertamakali berada di bumi, tetapi berasal dari makhluk
hidup di masa lampau.[3]
Beberapa
kritik mengenai teori evolusi mengklaim kalau ilmuan tidak sependapat mengenai
konsep evolusi, namun faktanya tidak demikian. Mereka memang tidak sependapat
mengenai detail cara proses ini terjadi, namun para ilmuan tidak mempertanyakan
keberadaan evolusi. Ilmuan mempelajari evolusi dalam dua tingkatan populasi.
Evolusi mikro terdiri dari perubahan genetik kecil yang terjadi dalam beberapa
generasi. Evolusi makro adalah pola perubahan yang lebih luas dalam ribuan
generasi sehingga terbentuk spesies baru. Kedua
tingkatan
evolusi ini menyebabkan populasi dan spesies berubah seiring waktu.[4]
Identifikasi
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah
yang di uraikan diatas, maka penulis mengindentifikasi beberapa permasalahan
yaitu:
1. Apakah
Teori Ilmiah yang menentang Evolusi?
2. Apakah
Teori Ilmiah yang mendukung Penciptaan?
3. Apakah
aplikasi yang dapat diambil dari perbandingan Evolusi dan Penciptaan?
Tujuan
Penulisan
Dalam
penulisan makalah ini, penulis mempunyai beberapa tujuan yang ingin didapatkan
dari penelitian ini.
1. Mencari
tahu Teori Ilmiah yang menentang Evolusi?
2. Mencari
tahu Teori Ilmiah yang mendukung
Penciptaan?
3. Mencari
aplikasi yang dapat diambil dari perbandingan Evolusi dan Penciptaan?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Hukum
Termodinamika
Hukum
termodinamika mengatur proses perubahan panas atau bentuk energi lain menjadi
tenaga, khususnya mekanikal. Hukum ini terdiri dari dua bagian: hukum
termodinamika
pertama dan hukum termodinamika kedua.
Hukum Termodinamika I
Hukum
termodinamika pertama disebut juga hukum konservasi energi-masa. Menurut hukum
ini jumlah massa dan energi di semesta alam ini tetap sama: tidak ada yang
bertambah dan tidak ada yang hilang. Secara tidak langsung hukum ini
menjelaskan bahwa materi dan energi yang ada di semesta alam pasti ada awalnya:
bermula pada waktu tertentu dan bersumber pada tempat tertentu pula.
Alam
semesta tidak mungkin terjadi dengan sendirinya harus ada Seirang Pencipta yang
menciptakan semesta alam secara komplit dari awal sekali saja untuk seterusnya . Kemudian alam
ciptaan itu beroperasi sesuai hukum termodinamika. Prinsip humum ini jelas
bertentangan dengan konsep evolusi yang memerlukan proses kejadian secara
Kontinu. Dalam hal ini, model kreasi sesuai dengan hukum termodinamika, maka
model tersebut dapat dianggap ilmiah..
Tetapi
barangkali ada saja orang yang bertanya. Darimanakah Allah itu? Kapan dia ada? Jawaban sederhana
terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti ini adalah. Allah itu merupakan mahluk
Roh yang kekal. Berbeda dengan semesta alam. Dia tidak berawal dan tidak
berakhir. Ini merupakan sifat dasar
Allah. Sebab itu mempertanyakan asal usul Allah adalah kebodohan.
Mencoba mempelajari Allah berdasarkan standar dan ukuran manusia akan mendatangkan
Frustasi.
Manusia
adalah mahluk yang serba terbatas baik dari segi ruang maupun waktu. Dalam
keterbatasan tersebut manusia merancang alat ukur untuk ruang (panjang, lebar dan tinggi)
berupa meteran, dan jam untuk waktu. Alat ukur ini sudah terprogram dalam
pikiran manusa dan sudah merupakan bagian hidup. Kalau kita dihadapkan kepada
suatu benda yang berukuran besar atau kecil, panjang atau pendek, kita akan
langsung berpikit dalam konteks meter dan kalau kita dihadapkan kepada
satu masa, periode atau waktu kita langsung
berpikir pada konteks jam, hari atau tahun. Hal seperti ini tidak berlaku untuk
Tuhan . Kita tidak dapat mengukur kebesaran Tuhan yang tidak terbatas dengan
alat ukur panjang manusia yang terbatas. Kita tidak dapat mengukur usia Tuhan
yang tidak terbatas dengan satuan waktu manusia yang terbatas. Karakteristik
Allah itu melebihi kapasitas alat ukur
manusia. Itu
sebabnya
untuk mengerti Tuhan kita membutuhkan iman.
Hukum
Termodinamika II
Hukum
Termodinamika kedua dikenal sebagai hukum penambahan entropi atau
ketidakteraturan. Seorang penulis sains terkenal, Isaac Asimov menuliskan
“sejauh yang saya ketahui segala perubahan di alamterjadi ke arah pertambahan
entropi, semakin jauh dari keteraturan dan semakin merosot.” Hukum
termodinamika kedua ini sangat nyata bertentangan dengan teori evolusi sebab
hukum ini mnejelaskan tidak satupun sistem yang secara alami bertambah
sempurna, melainkan sebaliknya, semakin merosot . Itulah sebabnya ada peristiwa
karatan pembusukan, pelapukan dan pemuaian. Di lain pihak evolusi membutuhkan
perubahan yang grafiikya mendaki untuk mencapai bentuk yang lebih sempurna.
Kedua
hukum termodinamika berlaku bukan saja dalam ilmu fisika tetapi juga dalam ilmu
kimia, biologi dan geologi bahkan berlaku secara universal. Hukum ini
menyimpulkan bahwa energi total di alam semesta tidak berubah tetapi energi
yang tersedia dari mahluk hidup dan lingkungan terus berkurang. (Morris, 1997).
Berdasarkan
hukum ini, berbagai organ hewan mungkin saja mengalami kemerosotan fungsi
sehingga menjadi vestigal, bahkan sejenis mahluk hidup menjadi punah tetapi
manusia tidak menemukan organ baru atau mahluk baru, dalam artinya tadinya
tidak ada. Dengan prinsip yang sama orang dapat mengawinkan silang domba dan
menghasilkan ratusan varietas, domba. Tetap mereka tidak akan pernah memperoleh
varietas domba baru dari persilangan jenis hewan yang lain. Hukum termodinamika
mendukung prinsip genetika.
Melalui
konsep termodinamika ini kita menyimpulkan, pada mula pertama Allah yang Maha
Kuasa(Energi) itu menciptakan benda-benda(masa) dan semesta alam. Kemudian pada
mula pertama itu juga, Allah melengkapi semua sistem dengan keteraturan yang
sempurna. Dengan demikian hukum termodinamika itu bukan hanya menunjukan kebenaran penciptaan
tetapi
secara langsung menentang evolusi.
Prof.
Henry Morris
Kedua
hukum termodinamika tersebut telah terbukti secara ilmiah, telah dicoba dan
dilakukan ribuan kali. Tak seorangpun ilmuwan yang meragukan kebenaran nya.
Hukum termodinamika dan evolusi dinyatakan sebagai sesuatau yang universal dan
ilmiah. Tetapi bagaimanakah kedua hukum ini mungkin saling bertentangan? Salah
satu pasti ada yang keliru. Kalau terpaksa harus memilih sebaiknya memilih
hukum termodinamika yang
kebenarannya
telah terbukti secara ilmiah.
Asal
Mula Hidup
White, 1994
Untuk meninjau asal mula kehidupan
sekali lagi kita dapat menerapkan hukum termodinamika kedua dalam menarik
kesimpulan. Hukum ini menegaskan kondisi yang kompleks dan terartur cenderung
menjadi sederhana dan tidak teratur, kecuali satu intervensi dari luar bekerja.
Singkatnya keteraturan perlahan-lahan
digantikan oleh ketidak-teraturan. Hukum ini tidak mengijinkan kondisi yang
sederhana dan tidak teratur berevolusi menjadi sesuatu yang kompleks dan
teratus. Artinya bentuk kehidupan(kompleks) tidak dapat berkembang sebagai
hasil kebetulan yanga alami belaka. Bertitik tolak dari konsep ini saja kita
sudah dapat menyimpulkan bahwa molekul organaik sedehana tidak dapat berkembang
dengan sendirirnya menjadi mahluk hidup, kecuali ada campur tangan oknum tertentu.
Sebab
itu
mempercayai Allah sebagai Pencipta mahluk hidup bukan saja rasional tetapi juga
ilmiah.
Stanley Miller
Zat
amoniak, hidrogen, metan dan uap air lalu mengalirkan energi tinggi melalui
arus listrik. Sebagai hasilnya memeperoleh senyawa berbagai asam amino. Karena
asam amino merupakan bahan dasar protein, dan karena protein merupakan bahan pembentuk tubuh mahluk hidup, maka
disimpulkan bahwa percobaan tersebut telah membuktikan kehidupan bermula secara
kebetulan di planet bumi. Yang menjadi pertanyaan adalah
sejauh
mana percobaan dari kesimpulan ini dapat diterima?
Sejauh Mana Pernyataan
ini Dapat Diterima?
1. Tidak
ada bukti bahwa komposisi atmosfir bumi pada awal kejadian hidup sama seperti dalam percobaan miller
2. Sekalipun
percobaan dilakukan sangat terkendali dengan kondisi yang sangat mendukung,
jumlah zat organik yang dihasilkan sangat minim.
3. Sumber
energi yang sama telah memicu terjjadinya senyawa kimia organik, juga
berpeluang memicu sebaliknya, yang membuat senyawa itu terurai kembali.
4. Akumulasi
berbagai molekul dalam satu genangan yang stagnan, memungkinkan melibatkan
molekul-molekul yang berbahaya bagi kehidupan, sehingga justru menghambat
perkembangan mahluk hidup.
5. Mengingat
efeknya yang mematikan saat ini, sinar ultraviolet dalam jumlah besar yang
mencapai atmosfir bumi tanpa oksigen(lapisan ozon) tentu sangat berbahaya
terhadapa segala bentuk kehidupan.
6. Keberadaan
oksigen yang menjadi masalah besar bagi evolusi saat inihampir semua mahluk
hidup membutuhkan oksigen. Tanpa oksigen organisme tidak dapat bertahan hidup.
Namun bentuk kehidupan yang pertama itu tidak membutuhkan oksigen(jika
evolusi betul) sebab memang tidak ada
oksigen waktu itu di atmosfir.
BAB III
KESIMPULAN
Teori
Ilmiah yang Menentang Evolusi
Hukum
Termodinamika, hukum Termodinamika I, Hukum Termodinamika II
Prof.
Henry Morris asal mula hidup, White, ntuk meninjau asal mula kehidupan sekali
lagi kita dapat menerapkan hukum termodinamika kedua dalam menarik kesimpulan.
Hukum ini menegaskan kondisi yang kompleks dan terartur cenderung menjadi
sederhana dan tidak teratur, kecuali satu intervensi dari luar bekerja. Singkatnya
keteraturan perlahan-lahan digantikan
oleh ketidak-teraturan. Hukum ini tidak mengijinkan kondisi yang sederhana dan
tidak teratur berevolusi menjadi sesuatu yang kompleks dan teratus. Artinya
bentuk kehidupan(kompleks) tidak dapat berkembang sebagai hasil kebetulan yanga
alami belaka. Bertitik tolak dari konsep ini saja kita sudah dapat menyimpulkan
bahwa molekul organaik sedehana tidak dapat berkembang dengan sendirirnya
menjadi mahluk hidup, kecuali ada campur tangan oknum tertentu. Sebab itu
mempercayai Allah sebagai Pencipta mahluk hidup
bukan
saja rasional tetapi juga ilmiah.
Teori
Ilmiah yang mendukung Penciptaan
Kedua
hukum termodinamika berlaku bukan saja dalam ilmu fisika tetapi juga dalam ilmu
kimia, biologi dan geologi bahkan berlaku secara universal. Hukum ini
menyimpulkan bahwa energi total di alam semesta tidak berubah tetapi energi
yang tersedia dari mahluk hidup dan lingkungan terus berkurang. (Morris, 1997).
Berdasarkan
hukum ini, berbagai organ hewan mungkin saja mengalami kemerosotan fungsi
sehingga menjadi vestigal, bahkan sejenis mahluk hidup menjadi punah tetapi
manusia tidak menemukan organ baru atau mahluk baru, dalam artinya tadinya
tidak ada. Dengan prinsip yang sama orang dapat mengawinkan silang domba dan
menghasilkan ratusan varietas, domba. Tetap mereka tidak akan pernah memperoleh
varietas domba baru dari persilangan jenis hewan yang lain. Hukum termodinamika
mendukung prinsip genetika.
Melalui
konsep termodinamika ini kita menyimpulkan, pada mula pertama Allah yang Maha
Kuasa(Energi) itu menciptakan benda-benda(masa) dan semesta alam. Kemudian pada
mula pertama itu juga, Allah melengkapi semua sistem dengan keteraturan yang
sempurna. Dengan demikian hukum termodinamika itu bukan hanya menunjukan kebenaran penciptaan
tetapi
secara langsung menentang evolusi.
Aplikasi
yang Dapat Diambil dari Perbandingan
Evolusi
dan Penciptaan
Alkitab dengan jelas
katakan meskipun setan menggunakan berbagai cara agar manusia bercerai dengan
Tuhan, Tuhan akan selalu membuat cara agar teori-teori jahat setan dapat
dipecahkan dan kalah. Ibrani 11:3 katakan” Karena
iman kita mengerti bahwa alam semesta telaah dijadikan oleh Firman Allah,
sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat.”
[1]Dr.
Canadian Z. Panjaitan, “Sains, Teknologi
dan Alkitab”(Bandung: Yayasan Pustaka Wina, 2000), 87.
[2]Wikimedia,
“Evolusi”, Wikipedia: 1[Journal
on-line]; available from https://id.wikipedia.org/wiki/Evolusi; Internet;
accessed 24 November 2015.
[3]Dosso Sang
Isahi, “Evolusi: Pemahaman Teori dan Bukti Evolusi”, Biologi Media Centre: 1[Journal on-line]; available from http://biologimediacentre.com/evolusi-pemahaman-teori-dan-bukti-evolusi/;
Internet; accessed 24 November
2015.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar