BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Paulus dari Tarsus
(awalnya bernama Saulus dari Tarsus) atau Rasul Paulus, (3 Masehi–67 Masehi)
diakui sebagai tokoh penting dalam penyebaran dan perumusan ajaran kekristenan
yang bersumberkan dari pengajaran Yesus Kristus. Paulus memperkenalkan diri
melalui kumpulan surat-suratnya dalam Perjanjian Baru di Alkitab Kristen
sebagai seorang Yahudi dari suku Benyamin, yang berkebudayaan Yunani (helenis)
dan warga negara Romawi. Ia lahir di kota Tarsus tanah Kilikia (sekarang di
Turki), dibesarkan di Yerusalem dan dididik dengan teliti di bawah pimpinan
Gamaliel. Pada masa mudanya, ia hidup sebagai seorang Farisi menurut mazhab
yang paling keras dalam agama Yahudi. Mulanya ia seorang penganiaya orang Kristen
(saat itu bernama Saulus), dan sesudah pengalamannya berjumpa Yesus di jalan
menuju kota Damaskus, ia berubah menjadi seorang pengikut Yesus Kristus.
Paulus menyebut
dirinya sebagai "rasul bagi bangsa-bangsa non-Yahudi" (Roma 11:13).
Dia membuat usaha yang luar biasa melalui surat-suratnya kepada komunitas
non-Yahudi untuk menunjukkan bahwa keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus
Kristus adalah untuk semua orang, bukan hanya orang Yahudi. Gagasan Paulus ini
menimbulkan perselisihan pendapat antara murid-murid Yesus dari keturunan
Yahudi asli dengan mereka yang berlatar belakang bukan Yahudi. Mereka yang dari
keturunan Yahudi berpendapat bahwa untuk menjadi pengikut Yesus, orang-orang
yang bukan Yahudi haruslah pertama-tama menjadi Yahudi terlebih dulu.
Murid-murid yang mula-mula, Petrus, sempat tidak berpendirian menghadapi hal
ini (lihat Galatia 2:11-14). Untuk menyelesaikan konflik ini, diadakanlah persidangan
di Yerusalem yang dipimpin oleh Petrus dan Yakobus, adik Yesus Kristus, yang
disebut sebagai Sidang Sinode atau Konsili Gereja yang pertama (Konsili
Yerusalem).
Konsili ini
menghasilkan beberapa keputusan penting, misalnya:
untuk menikmati karya penyelamatan
Yesus, orang tidak harus menjadi Yahudi terlebih dahulu
orang-orang Kristen yang bukan berasal
dari latar belakang Yahudi tidak diwajibkan mengikuti tradisi dan pantangan
Yahudi (misalnya perihal tentang sunat dan memakan makanan yang diharamkan).
Paulus mendapat mandat untuk
memberitakan Injil ke daerah-daerah berbahasa Yunani.
Paulus dijadikan seorang Santo (orang
suci) oleh seluruh gereja yang menghargai santo, termasuk Katolik Roma,
Ortodoks Timur, dan Anglikan, dan beberapa denominasi Lutheran. Dia berbuat
banyak untuk kemajuan Kristen di antara para orang-orang bukan Yahudi, dan
dianggap sebagai salah satu sumber utama dari doktrin awal Gereja, dan
merupakan pendiri kekristenan bercorak Paulin/bercorak Paulus. Surat-suratnya
menjadi bagian penting Perjanjian Baru. Banyak yang berpendapat bahwa Paulus
memainkan peranan penting dalam menjadikan agama Kristen sebagai agama yang
berdiri sendiri, dan bukan sebagai sekte dari Yudaisme.
BAB II
KISAH
PAULUS
Pertobatan Paulus
Sebelum bertobat
Paulus dikenal sebagai penganiaya umat Kristen mula-mula. Ia adalah seorang Farisi
yang sangat taat kepada Hukum Taurat. Kisah Para Rasul juga mengutip perkataan
Paulus yang menyebut bahwa ia "adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi"
Pertobatan Paulus dapat diperkirakan
antara tahun 33-36 dengan bukti kuat untuk tahun 34 dengan mengacu pada salah
satu suratnya. Menurut Kisah Para Rasul, pertobatannya (atau metanoia) terjadi
di jalan menuju Damaskus di mana ia mengalami "pertemuan" dengan
Yesus, yang kemudian menyebabkan ia menjadi buta untuk sementara (Kisah Para
Rasul 9:1-31, 22:1-22, 26:9-24). Pertobatan ini sangat istimewa dimana kemauan
untuk Paulus bertobat awalnya datang dari Tuhan Yesus sendiri setelah itu
barulah muncul niatan bertobat dari Paulus sendiri.
Dicatat bahwa "berkobar-kobar hati
Saulus (nama Paulus sebelum menjadi murid Yesus) untuk mengancam dan membunuh
murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa dari
padanya untuk dibawa kepada majelis-majelis Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia
menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia menangkap
mereka dan membawa mereka ke Yerusalem untuk dihukum."
Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika
Saulus sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi
dia. Waktu itu adalah tengah hari, dan cahaya dari langit itu menyilaukan.
Saulus mengatakan kepada raja Agripa: "Tiba-tiba, ya raja Agripa, pada
tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang
dari pada cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman
seperjalananku."
Saulus dan teman-temannya semua rebah ke
tanah dan kedengaranlah oleh Saulus suatu suara yang berkata kepadanya:
"Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?"[19] Suara itu
berbicara dalam bahasa Ibrani, dan berkata lagi: "Sukar bagimu menendang
ke galah rangsang."
Jawab Saulus: "Siapakah Engkau,
Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus orang Nazaret yang kauaniaya
itu."
Maka Saulus berkata: "Tuhan, apakah
yang harus kuperbuat?" Kata suara itu (Saulus menyebutnya
"Tuhan") kepadanya: "Bangkitlah dan pergilah ke Damsyik. Di sana
akan diberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu (apa yang
harus kauperbuat)." Dalam penuturannya di hadapan Agripa, Saulus
memberitahukan kata-kata selanjutnya dari Tuhan: "Aku menampakkan diri
kepadamu untuk menetapkan engkau menjadi pelayan dan saksi tentang segala
sesuatu yang telah kaulihat dari pada-Ku dan tentang apa yang akan
Kuperlihatkan kepadamu nanti. Aku akan mengasingkan engkau dari bangsa ini dan
dari bangsa-bangsa lain. Dan Aku akan mengutus engkau kepada mereka, untuk
membuka mata mereka, supaya mereka berbalik dari kegelapan kepada terang dan
dari kuasa Iblis kepada Allah, supaya mereka oleh iman mereka kepada-Ku
memperoleh pengampunan dosa dan mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk
orang-orang yang dikuduskan."
Maka termangu-mangulah teman-temannya
seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat
seorang jugapun. Mereka melihat cahaya dan meskipun mendengar, mereka tidak
mengerti bahwa suara itu berbicara ("tidak mendengar" pembicaraan).
Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka
matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; oleh karena cahaya yang
menyilaukan mata itu; Maka kawan-kawan seperjalanannya memegang tangan Saulus
dan harus menuntun dia masuk ke Damsyik.
Tiga hari lamanya Saulus tidak dapat
melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum,dan terus berdoa. Selama
itu ia tinggal di rumah Yudas yang berada di jalan yang bernama Jalan Lurus.
Setelah tiga hari itu, Saulus mendapat
suatu penglihatan di mana ia melihat, bahwa seorang yang bernama Ananias masuk
ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.
Ananias adalah seorang murid Tuhan Yesus
yang tinggal di Damsyik. Saulus menyebutnya "seorang saleh yang menurut
hukum Taurat dan terkenal baik di antara semua orang Yahudi yang ada di situ."
Firman Tuhan kepadanya dalam suatu penglihatan: "Ananias!" Jawabnya:
"Ini aku, Tuhan!" Firman Tuhan: "Mari, pergilah ke jalan yang
bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang
bernama Saulus. Ia sekarang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat,
bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke
atasnya, supaya ia dapat melihat lagi." Jawab Ananias: "Tuhan, dari
banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang
dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Dan ia datang ke mari
dengan kuasa penuh dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang
memanggil nama-Mu." Tetapi firman Tuhan kepadanya: "Pergilah, sebab
orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada
bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan
menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh
karena nama-Ku."
Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk
ke rumah itu. Ia datang berdiri di dekat Saulus, menumpangkan tangannya ke atas
Saulus, dan berkata: "Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah
menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku
kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus. Bukalah
matamu dan melihatlah!" Dan seketika itu juga seolah-olah selaput gugur
dari matanya, sehingga Saulus dapat melihat lagi dan menatap Ananias."
Lalu kata Ananias: "Allah nenek
moyang kita telah menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, untuk
melihat Yang Benardan untuk mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya. Sebab
engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat
dan yang kaudengar. Dan sekarang, mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah,
berilah dirimu dibaptis dan dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama
Tuhan!"
Saulus bangun lalu dibaptis. Dan setelah
ia makan, pulihlah kekuatannya.
Sejak dibaptis kehidupan Saulus berubah
drastis dan menjadi pelayan Tuhan yang setia hingga akhir hayatnya
Pelayanan
awal
Rumah yang diyakini sebagai milik
Ananias di Damaskus
Setelah perjumpaannya dengan Yesus dan
menjadi buta, Saulus tinggal 3 hari di kota Damaskus, di mana dia disembuhkan
dari kebutaan dan dibaptis oleh Ananias di Damaskus (tahun 34 M)[38] Saulus
tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Di kemudian
hari dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Saulus, yang sudah berganti nama
menjadi Paulus, mengatakan bahwa ia kemudian pertama-tama pergi ke tanah Arab,
dan kemudian kembali ke Damaskus.[40] Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di
rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Semua orang
yang mendengar hal itu heran dan berkata: "Bukankah dia ini yang di
Yerusalem mau membinasakan barangsiapa yang memanggil nama Yesus ini? Dan
bukankah ia datang ke sini dengan maksud untuk menangkap dan membawa mereka ke
hadapan imam-imam kepala?" Akan tetapi Saulus semakin besar pengaruhnya
dan ia membingungkan orang-orang Yahudi yang tinggal di Damsyik, karena ia
membuktikan, bahwa Yesus adalah Mesias. Beberapa hari kemudian orang Yahudi
merundingkan suatu rencana untuk membunuh Saulus. Tetapi maksud jahat itu
diketahui oleh Saulus. Siang malam orang-orang Yahudi mengawal semua pintu
gerbang kota, supaya dapat membunuh dia. Sungguhpun demikian pada suatu malam
murid-muridnya mengambilnya dan menurunkannya dari atas tembok kota dalam
sebuah keranjang. Setibanya di Yerusalem Saulus mencoba menggabungkan diri
kepada murid-murid, tetapi semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak dapat
percaya, bahwa ia juga seorang murid. Tetapi Barnabas menerima dia dan
membawanya kepada rasul-rasul dan menceriterakan kepada mereka, bagaimana
Saulus melihat Tuhan di tengah jalan dan bahwa Tuhan berbicara dengan dia dan
bagaimana keberaniannya mengajar di Damsyik dalam nama Yesus. Dan Saulus tetap
bersama-sama dengan mereka di Yerusalem, dan dengan keberanian mengajar dalam
nama Tuhan. Ia juga berbicara dan bersoal jawab dengan orang-orang Yahudi yang
berbahasa Yunani, tetapi mereka itu berusaha membunuh dia. Akan tetapi setelah
hal itu diketahui oleh saudara-saudara anggota jemaat, mereka membawa dia ke
Kaisarea dan dari situ membantu dia ke Tarsus. Dia menjelaskan dalam Surat
Galatia bagaimana 3 tahun setelah pertobatannya, ia pergi ke Yerusalem (tahun
37 M). Di sana ia bertemu Yakobus dan tinggal bersama Simon Petrus selama 15
hari (Galatia 1:13-24).
Tidak ada catatan tertulis eksplisit
bahwa Paulus telah mengenal Yesus secara pribadi sebelum penyaliban-Nya, tetapi
dipastikan bahwa ia mengetahui pelayanan Yesus dan juga pengadilan Yesus di
hadapan Imam Besar Yahudi. Paulus menegaskan bahwa ia menerima Injil bukan dari
orang lain, melainkan oleh wahyu Yesus Kristus (Galatia 1:11-12).
Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia
itu Paulus mengisahkan bagaimana ia dibantu melarikan diri dari kota Damaskus
pada zaman pemerintahaan raja Aretas dari Nabataea. Raja Aretas (Harithat IV)
yang wafat pada tahun 40 (lihat 2 Korintus 11:32-33) memerintah dari tahun 9
sampai 40 M. Sejarawan Flavius Yosefus
mencatat detail perselisihan antara raja Aretas dengan raja Herodes Antipas
mengenai perbatasan. Yosefus menuliskan Aretas sebagai "raja Arabia
Petrea" (Josephus Antiquities 18.5, Whiston 1957:539). Kaisar Romawi
Tiberius berpihak kepada Herodes Antipas dan memerintahkan Vitellius, prokonsul
di Suriah, "untuk berperang melawan Aretas." Dalam perjalanan
Vitellius menerima komunikasi yang mengabarkan kematian Tiberius, maka ia
menarik kembali tentaranya. Tiberius wafat pada tanggal 16 Maret 37 dan pada
saat itu Damaskus berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi dan dipimpin oleh
Vitellius. Raja Aretas wafat pada tahun 40 sehingga lolosnya Paulus dari
Damaskus terjadi antara tahun 37 dan 40. Belum jelas kapan Aretas menerima
kuasa atas Damaskus dari Kaisar Caligula dalam penyelesaian kasus di Suriah.
Pemerintahan Areta di Damaskus dapat berawal dari tahun 37 berdasarkan penemuan
arkeologi berupa mata uang logam. Dosker menulis: "Waktu Tiberias wafat
pada tahun 37, dan mengingat urusan Arabia sudah tuntas pada tahun 39, jelas
bahwa pertobatan Paulus terjadi antara tahun 34 dan 36. Tanggal ini kemudian
menjadi pasti berkat sebuah koin dari Damaskus, dengan gambar raja Aretas dan
tahun "101". Jika tahun itu mengacu pada era Pompian, berarti sama
dengan tahun 37 M, sehingga pertobatan Paulus terjadi pada tahun 34 (T. E.
Mionnet, Description des medailles antiques greques et romaines, V ,
284f.)."
Dalam Surat Galatia, Paulus juga
menceritakan bahwa 14 tahun setelah pertobatannya (tahun 48 M) ia masuk kembali
ke Yerusalem (Galatia 2:1-10). Tidak diketahui sepenuhnya apa yang terjadi
selama 14 tahun ini, karena Kisah Para Rasul maupun Surat Galatia tidak
memberikan detail jelas.[46] Pada akhir masa ini, Barnabas pergi untuk mencari
Paulus di Tarsus dan membawa dia kembali ke Antiokhia (Kis 11:25).
Ketika bencana kelaparan terjadi di
Yudea, diduga sekitar tahun 45-46[47] atau 48 M, Paulus dan Barnabas berangkat
ke Yerusalem untuk memberikan dukungan finansial dari komunitas Antiokhia.[48]
Menurut Kisah Para Rasul, Antiokhia menjadi pusat alternatif bagi penyebaran
orang Kristen setelah kematian Stefanus. Di Antiokhialah para pengikut Yesus pertama
kali disebut "Kristen"
Perjalanan
misi pertama
Bab Kisan, diyakini sebagai tempat
Paulus melarikan diri dari penganiayaan di Damaskus
Penulis Kisah Para Rasul menyusun
perjalanan Paulus menjadi tiga perjalanan terpisah. Perjalanan pertama, (Kis.
13-14) awalnya dipimpin oleh Barnabas, yang mengambil Paulus dari Antiokhia
menuju Siprus kemudian Asia Kecil (Anatolia) selatan, dan kembali ke Antiokhia.
Di Siprus, nama Yunani "Paulus" mulai dipakai menggantikan nama
Yahudi "Saulus". Di sini ia memarahi dan membutakan mata Elimas si
penyihir (Kis 13:8-12) yang berusaha menghalang-halanginya menyampaikan
ajaran-ajaran mereka. Dari titik ini, Paulus digambarkan sebagai pemimpin
kelompok. Antiokhia dilayani sebagai pusat kekristenan utama dari penginjilan
Paulus.
bahwa bahkan Barnabas (rekan
seperjalanannya hingga saat itu) ikut-ikutan bersikap seperti Petrus.
Hasil akhir dari insiden tersebut masih
belum jelas. The Catholic Encyclopedia menyatakan: "catatan Paulus atas
insiden itu tidak meninggalkan keraguan bahwa Petrus melihat kebenaran dari
teguran itu." Setelah kejadian itu Paulus kemudian berangkat memulai misi
berikutnya dari Antiokhia.
Perjalanan
misi kedua
Dalam perjalanan misi kedua, setelah
pertikaian dengan Barnabas karena persoalan Yohanes Markus, Paulus ditemani
oleh Silas. Mereka berangkat dari Antiokhia, menuju Siria dan Kilikia, dan tiba
di selatan Galatia. Di Listra, Timotius bergabung dengan mereka. Mereka
menyeberangi daerah Frigia dan perbatasan Misia. Lalu mereka bergabung dengan
Lukas di Troas. Dia memutuskan untuk pergi ke Eropa, dan di Makedonia ia
mendirikan komunitas Kristen pertama Eropa: Jemaat Filipi. Juga di Tesalonika,
Berea, Atena dan Korintus. Dia tinggal selama 1,5 tahun di Korintus, di rumah
sepasang suami-isteri, Akwila dan Priskila (Kisah Para Rasul 18:11). Masa
tinggalnya ini bersamaan dengan waktu Galio menjabat singkat sebagai gubernur
(prokonsul) di Akhaya dari 1 Juli 51 sampai 1 Juli 52. Pada musim dingin tahun
51, ia menulis surat pertama kepada Jemaat Tesalonika, dokumen tertua dari
Perjanjian Baru. Tahun berikutnya ia kembali ke Antiokhia.
Perjalanan
misi ketiga
Setelah tinggal di Antiokhia beberapa
saat, Paulus pergi ke Galatia dan Frigia untuk mendukung gereja-gereja yang
telah ia dirikan pada perjalanan sebelumnya (Kisah Para Rasul 18:23). Kemudian
ia berkeliling pada wilayah barat Bitinia dan tiba di Efesus dengan perjalanan
darat. Di Efesus ia menulis surat pertamanya kepada orang-orang Korintus pada
tahun 54 dan surat kedua pada akhir 57.
Setelah tiga tahun di Efesus, Paulus
kemudian mengunjungi Asia Kecil dan Yunani. Kemudian mendahului Lukas, ia
berlayar ke Troas, disertai beberapa murid-muridnya (Kisah Para Rasul 20:4),
disebabkan karena rencana pembunuhan terhadap dirinya oleh orang-orang Yahudi.
Dan akhirnya ia kembali ke Yerusalem dan bertemu dengan Yakobus di sana.
Penangkapan
Penangkapan Paulus, ilustrasi Alkitab di
awal 1900-an.
Pemenggalan Paulus. Lukisan Enrique
Simonet tahun 1887.
Paulus tiba di Yerusalem tahun 57
membawa uang sumbangan yang dikumpulkan untuk jemaat di sana dari kota-kota
yang dikunjunginya. Ia disambut hangat, tetapi juga ditanya dengan teliti oleh
Yakobus mengenai tuduhan bahwa ia "mengajar semua orang Yahudi yang
tinggal di antara bangsa-bangsa lain untuk melepaskan hukum Musa, sebab engkau
mengatakan, supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya dan jangan hidup
menurut adat istiadat" Yahudi. Paulus dianjurkan untuk melakukan upacara
pentahiran, supaya "semua orang akan tahu, bahwa segala kabar yang mereka
dengar tentang engkau sama sekali tidak benar, melainkan bahwa engkau tetap
memelihara hukum Taurat."
Tidak berapa lama setelah sampai di
Yerusalem, Paulus ditangkap dengan tuduhan membawa orang-orang bukan Yahudi ke
dalam Bait Allah. Paulus dibawa ke markas tentara Romawi dan dihadapkan kepada
gubernur Romawi Antonius Feliks di Kaisarea. Ia ditahan selama 2 tahun, sampai
gubernur yang baru, Perkius Festus, membuka kembali kasusnya pada tahun 59.
Karena tidak mau diadili di Yerusalem, Paulus menyatakan banding kepada Kaisar,
sehingga kemudian ia dikirim ke Roma dengan naik kapal.
Surat-surat
Paulus
Surat 1 Tesalonika, Surat 1 Korintus, Surat
2 Korintus, Surat Galatia, Surat Roma, Surat Filipi, Surat Filemon, Surat
Kolose, Surat Efesus, Surat 2 Tesalonika, Surat 1 Timotius, Surat 2 Timotius, Surat
Titus
Pengajaran Paulus yang nyata dalam
surat-suratnya mendapat pengakuan positif dari Petrus yang menggolongkannya ke
dalam tulisan-tulisan Kitab Suci, seperti tertulis dalam Surat 2 Petrus pasal
3:
"Anggaplah kesabaran Tuhan kita
sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara
kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan
kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang
perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami,
sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya,
memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga
mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain."
Kematian
Alkitab tidak mengatakan bagaimana dan
kapan Paulus meninggal. Namun menurut tradisi Kristen, Paulus dipenggal di Roma
pada masa pemerintahan Nero pada sekitar pertengahan 60-an di Tre Fontane
Abbey. Kewarganegaraan Romawi yang dimilikinya mengijinkan Paulus menjalani
hukuman mati yang lebih cepat yaitu dengan pemenggalan.
BAB III
KESIMPULAN
Injil
sebagai kekuatan Allah yang menyelamatkan
Paulus memberikan
penjelasan mengenai Injil secara menyeluruh. Ia menegaskan bahwa dirinya
dipanggil dan diutus oleh Allah untuk memberitakan Injil dan menuntun
bangsa-bangsa supaya percaya dan taat kepada Allah. Paulus mendefinisikan Injil
(euangelion) sebagai kekuatan Allah. Ungkapan ini menunjukkan ciri Kristologi
Paulus. Injil menjadi kekuatan Allah yang menyelamatkan. Injil menjadi
representasi dari kuasa Allah yang menyelamatkan, bukan hanya sekadar menjadi
informasi tentang penyelamatan Allah. Tindakan penyelamatan Allah tersebut
terjadi di dalam Injil dan bertujuan untuk menyelamatkan setiap manusia. Injil
menyelamatkan semua bangsa baik Yahudi maupun non Yahudi.
Kutuk
dan pembenaran Allah
Paulus juga berbicara
mengenai kutuk Allah. Manusia yang hidup tanpa Kristus digambarkan seperti
manusia yang hidup di dalam kutuk. Menurut Paulus orang Yahudi maupun non
Yahudi telah berdosa dan berada di bawah murka Allah. Mereka gagal mengenal
siapa Allah sesungguhnya dan menyembah berhala. Paulus juga mengingatkan bahwa
Hukum Taurat dan sunat memang baik dan suci tetapi tidak dapat dipakai untuk
membenarkan manusia di hadapan Allah.
Kematian
Kristus.
Paulus menegaskan bahwa kematian Kristus
merupakan inisiatif Allah untuk memenangkan dan mendamaikan manusia dengan
Allah. Di dalam surat ini, Paulus juga melukiskan pengharapan sebagai suatu
hasrat yang besar dalam menantikan Allah yang akan menyatakan status orang beriman
sebagai anak-anak Allah. Status ini yang akan dinyatakan kepada manusia.
Kesetiaan
Allah kepada Israel
Paulus juga membahas
persoalan yang saat itu dihadapi yaitu masalah kepercayaan akan Kristus. Banyak
yang menganggap bahwa Allah tidak setia kepada umat pilihan-Nya Israel. Paulus
mencoba menegaskan hal ini bahwa Allah tetap setia kepada Israel.
Gereja
sebagai tubuh Kristus
Paulus mengingatkan
bahwa sebagai sebuah persekutuan, jemaat harus hidup dalam kasih, dimana
golongan yang kuat haruslah mengasihi golongan yang lemah dan golongan yang
lemah harus menerima golongan yang kuat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar