Kamis, 12 September 2024

Pemahaman Agama menurut Komunisme menurut Karl Marx

 

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Komunisme adalah sebuah ideologi.  Penganut paham ini berasal dari Manifest der Kommunistischen yang ditulis oleh Karl Marx dan Friedrich Engels, sebuah manifesto politik yang pertama kali diterbitkan pada 21 Februari 1848 teori mengenai komunis sebuah analisis pendekatan kepada perjuangan kelas (sejarah dan masa kini) dan ekonomi kesejahteraan yang kemudian pernah menjadi salah satu gerakan yang paling berpengaruh dalam dunia politik.[1]

Komunisme pada awal kelahiran adalah sebuah koreksi terhadap paham kapitalisme di awal abad ke-19, dalam suasana yang menganggap bahwa kaum buruh dan pekerja tani hanyalah bagian dari produksi dan yang lebih mementingkan kesejahteraan ekonomi.  Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, muncul beberapa faksi internal dalam komunisme antara penganut komunis teori dan komunis revolusioner yang masing-masing mempunyai teori dan cara perjuangan yang berbeda dalam pencapaian masyarakat sosialis untuk menuju dengan apa yang disebutnya sebagai masyarakat utopia.  Istilah komunisme sering dicampuradukkan dengan komunis internasional.

Komunisme atau Marxisme adalah ideologi dasar yang umumnya digunakan oleh partai komunis di seluruh dunia. sedangkan komunis internasional merupakan racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin sehingga dapat pula disebut "Marxisme-Leninisme".  Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari pengambil alihan alat-alat produksi melalui peran Partai Komunis.  Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh atau yang lebih dikenal dengan proletar, namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil dengan melalui perjuangan partai.  Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank.  Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro.[2]

Komunisme sebagai anti-kapitalisme menggunakan sistem partai komunis sebagai alat pengambil alihan kekuasaan dan sangat menentang kepemilikan akumulasi modal pada individu.  Pada prinsipnya semua adalah direpresentasikan sebagai milik rakyat dan oleh karena itu, seluruh alat-alat produksi harus dikuasai oleh negara guna kemakmuran rakyat secara merata, Komunisme memperkenalkan penggunaan sistem demokrasi keterwakilan yang dilakukan oleh elit-elit partai komunis oleh karena itu sangat membatasi langsung demokrasi pada rakyat yang bukan merupakan anggota partai komunis karenanya dalam paham komunisme tidak dikenal hak perorangan sebagaimana terdapat pada paham liberalisme.[3]

 Secara umum komunisme berlandaskan pada teori Materialisme Dialektika dan Materialisme Historis oleh karenanya tidak bersandarkan pada kepercayaan mitos, takhayul dan agama dengan demikian tidak ada pemberian doktrin pada rakyatnya, dengan prinsip bahwa "agama dianggap candu" yang membuat orang berangan-angan yang membatasi rakyatnya dari pemikiran ideologi lain karena dianggap tidak rasional serta keluar dari hal yang nyata.  Komunis internasional sebagai teori ideologi mulai diterapkan setelah meletusnya Revolusi Bolshevik di Rusia tanggal 7 November 1917.  Sejak saat itu komunisme diterapkan sebagai sebuah ideologi dan disebarluaskan ke negara lain.  Pada tahun 2005 negara yang masih menganut paham komunis adalah Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba dan Laos.  Komunis internasional adalah teori yang disebutkan oleh Karl Marx. Ideologi komunisme di Tiongkok agak lain daripada dengan Marxisme-Leninisme yang diadopsi bekas Uni Soviet.  Mao Zedong menyatukan berbagai filsafat kuno dari Tiongkok dengan Marxisme yang kemudian ia sebut sebagai Maoisme. Perbedaan mendasar dari komunisme Tiongkok dengan komunisme di negara lainnya adalah bahwa komunisme di Tiongkok lebih mementingkan peran petani daripada buruh. Ini disebabkan karena kondisi Tiongkok yang khusus di mana buruh dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari kapitalisme.[4]

Pada awal pengertiannya, komunisme adalah paham yang   

 

baik, karena paham ini mengedepankan kepentingan rakyat,

 

agar ekonomi rakyat terjamin, sama rata, tidak ada yang

 

terlalu miskin dan terlalu kaya.  Hinggga paham itu

 

tersebar ke berbagai negara lalu dianut oleh beberapa

 

negara, seperti Vietnam, Kuba, Uni Soviet, Tiongkok dan

 

negara-negara lainnya, bahkan Indonesia sendri sempat

 

dimasuki oleh Partai Komunis, yaitu partai komunis

 

Indonesia yang kemudian menggemparkan, lalu beberapa di

 

antaranya dibantai.

 

 

 

 

 

 

 

Identifikasi Masalah

 

Berdasarkan latar belakang masalah yang di uraikan diatas, maka penulis mengindentifikasi beberapa permasalahan yaitu:

1. Bagaimana keadaan komunisme saat ini?

2. Apakah aplikasi bagi pembaca makalah ini?

 

 

Tujuan Masalah

 

Dalam penulisan makalah ini, penulis mempunyai beberapa tujuan tertentu.

1.      Mencari tahu apa hubungan antara komunisme dengan agama

2.      Mencari aplikasi dari hubungan antara komunisme dengan agama.

 

 

Manfaat Penelitian

 

1. Penelitian ini diharapkan menjadi bahan informasi untuk memberikan informasi bagaimana hubungan falsafah komunis dengan agama .

2.  Hasil Penelitian ini diharapkan dapat membuka wawasan yang luas kepada pembaca tentang falsafah komunis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

HUBUNGAN KOMUNIS DENGAN AGAMA

Marxisme dan Agama

Pencetus dan pemikir utama Marxisme, Karl Marx, memiliki sikap yang ambivalen terhadap agama. Marx terutama memandang agama sebagai "candu" yang dimanfaatkan oleh kelas penguasa untuk memberikan harapan palsu bagi kelas buruh, tetapi di lain pihak, ia juga memandangnya sebagai bentuk protes kelas buruh terhadap keadaan ekonomi mereka yang buruk.  Ujung-ujungnya, Marx menolak keberadaan agama.[5]

Dalam interpretasi teori Marxis oleh kaum Marxis-Leninis yang utamanya dikembangkan oleh Vladimir Lenin, agama dianggap berdampak negatif bagi perkembangan manusia sehingga negara-negara sosialis yang menerapkan Marxisme-Leninisme bersikap ateistik dan antiagama. Itulah alasan mengapa beberapa pemerintahan berhaluan Marxisme-Leninisme pada abad ke-20 seperti Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok membuat peraturan untuk memperkenalkan konsep ateisme negara.  Akan tetapi, bukan berarti tidak ada kelompok komunisme agamis, bahkan komunisme Kristiani memegang peranan penting dalam perkembangan awal komunisme.

Vladimir Lenin dalam Tulisannya "Sosialisme dan Agama," mengatakan bahwa "Agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi."  Lenin meminta agar agama dipahami sebagai sebuah persoalan pribadi dan tidak menjadi perhatian negara.  Menurut Lenin, setiap orang sudah seharusnya bebas mutlak menentukan agama apa yang dianutnya, atau bahkan tanpa agama sekalipun, yaitu, menjadi seorang atheis.  Namun, Diskriminasi di antara para warga sehubungan dengan keyakinan agamanya sama sekali tidak dapat ditolerir oleh negara. Dalam tulisannya ini pula Lenin menginginkan agar penyebutan agama seseorang di dalam dokumen dibatasi.[6] Dalam bentuk kalimat sederhana, Lennin menyarankan agar keterangan atau identitas agama dari seorang warga negara untuk ditutupi atau dibatasi kepada orang lain, supaya tidak muncul dampak negatif yang salah satunya adalah diskriminasi agama.

Tanpa dapat dielakkan, penindasan ekonomi terhadap para pekerja membangkitkan dan mendorong setiap bentuk penindasan politik dan penistaan terhadap masyarakat, menggelapkan dan mempersuram kehidupan spiritual dan moral massa. Para pekerja bisa mengamankan lebih banyak atau lebih sedikit kemerdekaan politik untuk memperjuangkan emansipasi ekonomi mereka, namun tak secuil pun kemerdekaan yang akan bisa membebaskan mereka dari kemiskinan, pengangguran, dan penindasan sampai kekuasaan dari kapital ditumbangkan. Agama merupakan salah satu bentuk penindasan spiritual yang dimanapun ia berada, teramat membebani masyarakat, teramat membebani dengan kebiasaan mengabdi kepada orang lain, dengan keinginan dan isolasi. Impotensi kelas tertindas melawan eksploitatornya membangkitkan keyakinan kepada Tuhan, jin-jin, keajaiban serta yang sejenisnya, sebagaimana ia dengan tak dapat disangkal membangkitkan kepercayaan atas adanya kehidupan yang lebih baik setelah kematian. Mereka yang hidup dan bekerja keras dalam keinginan, seluruh hidup mereka diajari oleh agama untuk menjadi patuh dan sopan ketika di sini di atas bumi dan menikmati harapan akan ganjaran-ganjaran surgawi. Tapi bagi mereka yang mengabdikan dirinya pada orang lain diajarkan oleh agama untuk mempraktekkan karitas selama ada di dunia, sehingga menawarkan jalan yang mudah bagi mereka untuk membenarkan seluruh keberadaannya sebagai penghisap dan menjual diri mereka sendiri dengaan tiket murah untuk menuju surga. Agama merupakan candu bagi masyarakat. Agama merupakan suatu minuman keras spiritual, di mana budak-budak kapital menenggelamkan bayangan manusianya dan tuntutan mereka untuk hidup yang sedikit banyak berguna untuk manusia.

Tetapi seorang budak yang menjadi sadar akan perbudakannya dan bangkit untuk memperjuangkan emansipasinya ternyata sudah setengah berhenti sebagai budak. Para buruh modern yang berkesadaran-kelas, digunakan oleh industri pabrik skala besar dan diperjelas oleh kehidupan perkotaan yang merendahkan kedudukan di samping prasangka-prasangka religius, meninggalkan surga kepada parra pastur dan borjuis fanatik, dan mencoba meraih kehidupan yang lebih baik untuk dirinya sendiri di atas bumi ini. Proletariat sekarang ini berpihak pada sosialisme, yang mencatat pengetahuan dalam perang melawan kabut agama, dan membebaskan para pekerja dari keyakinan terhadap kehidupan sesudah mati dengan mempersatukan mereka bersama guna memperjuangkan masa sekarang untuk kehidupan yang lebih baik di atas bumi ini.[7]

Agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi. Dalam kata-kata inilah kaum sosialis biasa menyatakan sikapnya terhadap agama. Tetapi makna dari kata-kata ini harus dijelaskan secara akurat untuk mencegah adanya kesalahpahaman apapun. Kita minta agar agama dipahami sebagai sebuah persoalan pribadi, sepanjang seperti yang diperhatikan oleh negara. Namun sama sekali bukan berarti kita bisa memikirkan agama sepanjang seperti yang diperhatikan oleh Partai[8]. Sudah seharusnya agama tidak menjadi perhatian negara, dan masyarakat religius seharusnya tidak berhubungan dengan otoritas pemerintahan. Setiap orang sudah seharusnya bebas mutlak menentukan agama apa yang dianutnya, atau bahkan tanpa agama sekalipun, yaitu, menjadi seorang atheis, dimana bagi kaum sosialis, sebagai sebuah aturan. Diskriminasi diantara para warga sehubungan dengan keyakinan agamanya sama sekali tidak dapat ditolerir. Bahkan untuk sekedar penyebutan agama seseorang di dalam dokumen resmi tanpa ragu lagi mesti dibatasi. Tak ada subsidi yang harus diberikan untuk memapankan gereja, negara juga tidak diperbolehkan didirikan untuk masyarakat religius dan gerejawi. Hal-hal ini harus secara absolut menjadi perkumpulan bebas orang-orang yang berpikiran begitu, asosiasi yang independen dari negara. Hanya pemenuhan seutuhnya dari tuntutan ini yang dapat mengakhiri masa lalu yang memalukan dan keparat, saat gereja hidup dalam ketergantungan feodal pada negara, dan rakyat Rusia hidup dalam ketergantungan feodal pada gereja yang mapan, ketika di jaman pertengahan, hukum-hukum inquisisi (yang hingga hari ini masih mendekam dalam hukum-hukum pidana dan pada kitab undang-undang kita) ada dan diterapkan, menyiksa banyak orang untuk keyakinan maupun ketidakyakinannya, memperkosa hati nurani orang-orang, dan menggabungkan pemerintah yang enak dan pendapatan dari pemerintah, dengan dispensasi ini dan itu yang membiuskan, oleh lembaga gereja. Pemisahan yang tegas antara lembaga Negara dan Gereja adalah apa yang dituntut proletariat sosialis mengenai negara modern dan gereja modern.

Jika memang demikian, mengapa kita tidak menyatakan dalam Program kita bahwa kita adalah atheis? Mengapa kita tidak melarang orang-orang Kristen dan para penganut agama Tuhan lainnya untuk bergabung dalam partai kita?

Jawaban terhadap pertanyaan ini akan memberikan penjelasan tentang perbedaan yang cukup penting dalah hal persoalan agama yang ditampilkan oleh para demokrat borjuis dan kaum Sosial-Demokrat.

Program kita keseluruhannya berdasar pada cara pandang yang ilmiah, dan lebih jauh materialistik. Oleh karenanya, sebuah penjelasan mengenai program kita secara amat perlu haruslah memasukkan sebuah penjelasan tentang akar-akar historis dan ekonomis yang sesungguhnya dari kabut agama. Propaganda kita perlu memasukkan propaganda tentang atheisme; publikasi literatur ilmiah yang sesuai – dimana pemerintah feodal otokratis hingga saat ini telah melarang dan menyiksa – yang pada saat ini harus membentuk satu bidang dari kerja partai kita. Kita sekarang mungkin harus mengikuti nasehat yang diberikan Engels kepada kaum Sosialis Jerman: menterjemahkan dan menyebarkan literatur intelektual Pencerahan Perancis abad ke-18 dan kaum atheis.

Namun bagaimanapun juga kita tidak boleh dan tidak patut untuk jatuh dalam kesalahan menempatkan persoalan agama ke dalam sebuah abstrak, kebiasaan yang idealistik, sebagai sebuah masalah "intelektual" yang tak berhubungan dengan perjuangan kelas, seperti yang tidak jarang dilakukan oleh kaum demokrat-radikal yang ada di antara kaum borjuis. Tentulah bodoh untuk berpikir bahwa, dalam sebuah masyarakat yang berdasar pada penindasan tanpa akhir dan merendahkan massa pekerja, prasangka-prasangka agama bisa disingkirkan hanya melalui metode propaganda melulu. Inilah kesempitan cara berpikir borjuis yang lupa bahwa beban agama yang memberati kehidupann manusia sebenarnya tak lebih adalah sebuah produk dan refleksi beban ekonomi yang ada di dalam masyarakat. Tak satupun dari famplet khotbah, berabapun jumlahnya, dapat memberi pencerahan pada kaum proletariat, jika ia tidak dicerahkan dengan perjuangannya sendiri melawan kekuatan gelap dari kapitalisme. Persatuan dalam perjuangan revolusioner yang sesungguhnya dari kelas kaum tertindas untuk menciptakan sebuah sorgaloka di bumi, lebih penting bagi kita ketimbang kesatuan opini proletariat di taman firdaus surga.Hal inilah yang menjadi alasan mengapa kita tidak dan tidak akan menyatakan atheisme dalam program kita, itulah mengapa kita tidak akan dan tidak akan melarang kaum proletariat yang tetap memelihara sisa-sisa prasangka lama untuk menggabungkan diri mereka dengan Partai kita. Kita akan selalu mengkhotbahkan cara pandang ilmiah, dan hal itu essensial bagi kita untuk memerangi ketidakkonsistenan dari berbagai aliran "Nasrani". Namun bukan berarti bahwa pada akhirnya persoalan agama akan dikembangkan menjadi persoalan utama, sementara hal itu sudah tidak dipersoalkan lagi, atau bukan pula berarti bahwa kita akan membiarkan semua kekuatan dari perjuangan ekonomi dan politik revolusioner yang sesungguhnya untuk dipilah-pilah mengikuti opini tingkat ketiga ataupun ide-ide yang tidak masuk akal. Karena hal ini akan segera kehilangan semua arti penting politisnya, segera akan disapubersih sebagai sampah oleh perkembangan ekonomi.[9]

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

     Hingga saat ini komunisme masih ada, yaitu teradapat di beberapa negara di dunia, yang tentunya masih menganut paham komunisme, paham yang dibuat oleh Karl Marx, yaitu: Republik Rakyat Tiongok, Transnistia

Kuba, Korea Utara, Laos, Vietnam.

     Hubungan antara komunisme dengan agama adalah, bahwa pada prinsipnya Karl Marx menganggap agama hanyalah candu, yang dianggap sebagai alat oleh Pemerintah untuk memperalat rakyatnya, sehingga menjadi keuntungan bagi Pemerintah sendiri, alalu membuat rakyat menderita. Agama juga hanya membuat dampak negatif bagi rakyat, karena akan terjadi diskriminatif antara satu dengan yang lain, kemudian menimbulkan dampak yang lebih buruk lagi seperti perang, pembakaran tempat ibadah, bahkan pembantaian kepada salah satu pemeluk agama. Sehingga Karl Marx dan beberapa orang lainnya, memunculkan paham atheis, yang artinya mereka tidak beragama, tidak percaya akan adanya TUHAN, hidup mereka hanya sekali, tidak ada pengharapn setelah kematian, dan beberapa pemahaman lagi yang mereka mengerti.

      Sehingga dengan demikian, dari makalah ini Penulis dapat memberikan aplikasi bagi pembaca yaitu, bahwa dengan adanya agama, seharusnya orang-orang beragama dapat membuktikan bahwa agama membawa sikap dan tabiat menjadi lebih baik, bukan sebaliknya, karena dengan demikian tiap-tiap manusia berdamai satu dengan yang lainnya.



     [1]Ahmad, “Komunisme”, Narchopedia: 1[Journal on-line]; available from http://ind.anarchopedia.org/Komunisme; Internet; accessed 8 Desember 2014.

     [2]M. Khairul Azzam, “Ideologi Komunisme”, Tiara: 1[Journal On-line]; available from http://azzamkasep.blogspot.com/2013/01/ideologi-komunisme.html; Internet; accessed 8 Desember 2014.

     [3]Tanio Sutrisno, “Pengertian Liberalisme”, Wordpress: 1[Journal on-line]; available from http://taniosutrisno.wordpress.com/2013/01/28/perbedaan-ideologi-komunis-liberal-dan-pancasila/; Internet; accessed 8 Desember 2014.

[4]Wikimedia, “Komunisme”, Wikipedia (2014): 1[Journal on-line]; available from http://id.wikipedia.org/wiki/Komunisme; Internet; accessed 16 October 2014. 

     [5]Hendro, “Komunisme”, Wordpress: 1[Journal on-line]; available from  http://sakauhendro.wordpress.com/komunisme/perkembangan-komunisme/; Internet; accessed 8 Desember 2014.

[6]Wikimedia, “Marxisme dan Agama,” Wikipedia (2014): 1 [Journal on-line] ; available from http://id.wikipedia.org/wiki/Marxisme_dan_agama; Internet; accessed 17 October 2014.

     [7]Arbil Andika, “Komunisme”, Balabala: 1[Journal on-line]; available from https://arbilandika.wordpress.com/2013/02/06/pengertian-komunismekapitalismechauvinismesosialismefasisme/; Internet; accessed 8 Desember 2014.

     [8]Ayung Avis, “Komunisme”, Wordpress: 1[Journal on-line]; available from http://ayungavis.blogspot.com/2013/09/pengertian-komunisme-kapitalisme-chauvinisme-sosialisme-fasisme-pkn.html; Internet; accessed 8 Desember 2014.

 1[9]V. I. Lennin, Collected Works (Moscow: Progress Publishers,1972), 83-87. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WAHYU 11:3,4

makalah kejadian 4:5 Pemahaman Tuhan mengindahkan Persembahan Habel dan tidak mengindahkan persembahan Kain

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang masalah      Dalam   kejadian 1:1-31; 2:1-20 Tuhan menciptakan Bumi dengan keadaan ...