Kamis, 12 September 2024

Makalah Daniel: pemahaman Mene Mene Tekel Ufarsin

 

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

            Mereka yang takut akan Tuhan berseru kepada Nya agar segera turun tangan. "Lalu turunlah Tuhan untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu." Di dalam rahmat kepada dunia ini, Ia telah menggagalkan maksud tujuan pembangun pembangun menara itu, dan menghancurkan tugu peringatan pemberontakan mereka. Di dalam kemurahan Nya Ia telah mengacaukan bahasa mereka, dengan demikian menghentikan rencana pemberontakan mereka. Tuhan bersikap panjang sabar terhadap kejatuhan manusia, dengan memberikan kepada mereka kesempatan yang cukup untuk bertobat; tetapi Ia memperhatikan segala usaha mereka untuk menentang kekuasaan hukum Nya yang adil dan suci itu. Dari waktu ke waktu tangan yang tidak terlihat itu, yang memegang tongkat pemerintahan diulurkan untuk membendung kejahatan. Bukti yang nyata telah diberikan bahwa Khalik semesta alam, Seorang yang tidak terbatas dalam kebijaksanaan, kasih dan kebenaran, adalah Pemerintah surga dan dunia, dan bahwa tidak seorang pun dapat menghinakan kekuasaan Nya tanpa menerima hukuman.[1]

            Di antara mereka yang mempertahankan kesetiaan mereka kepada Allah adalah Daniel dan tiga temannya--contoh gambaran akan menjadi apa manusia-manusia itu, yaitu yang bersatu dengan Allah dalam hal hikmat dan kuasa. Dari rumah tangga Yahudi yang boleh dikatakan sederhana, orang-orang muda yang berasal dari keturunan bangsawan ini telah dibawa ke kota-kota yang paling besar dan ke istana raja dunia yang terbesar. Nebukadnezar "bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja, dan dari kaum bangsawan; yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak, dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja dalam istana raja. [2]

            Karena bangsa Yahudi telah meninggalkan Allah, iman sudah makin pudar, dan pengharapan telah hampir berhenti menerangi hari kemudian. Perkataan nabi nabi tidak dimengerti. Bagi khalayak ramai, kematian adalah suatu rahasia yang mengerikan; di seberang kematian itu tidak ada kepastian, hanya kegelapan belaka.[3]

            Orang orang kafir, khususnya orang orang Yunani, adalah sangat tidak bermoral, dan ini berbahaya karena banyak orang yang belum bertobat di dalam hati, yang akan digolongkan sebagai orang orang beriman tanpa membuang terlebih dulu praktik praktik kejahatan mereka. Orang orang Yahudi tidak akan sabar menghadapi pelanggaran susila yang juga tidak dianggap sebagai kejahatan oleh penyembah berhala. Bagi orang orang Yahudi sunat adalah suatu hal yang patut ditinggikan dan memelihara upacara upacara hukum ada kaitannya dengan pertobatan orang kafir yang dianggap sebagai suatu ujian terhadap kesungguhan dan ketekunan mereka. Mereka mempercayai akan hal ini untuk menghindarkan pertambahan mereka kepada jemaat yang mengaku beriman tanpa ada pertobatan yang benar di dalam hati, yang kemudian boleh jadi membawa celaan terhadap pekerjaan itu oleh pelanggaran moral dan perbuatan yang berlebihan.[4]

            Sementara dunia ini menganggap mereka telah kalah telak dan terbukti menjadi korban penipuan, sumber konsolidasi mereka masih tetap firman Allah.  Banyak yang terus menyelidiki Alkitab, memeriksa kembali tanda-tanda dan bukti-bukti iman mereka, dan dengan seksama menyelidiki dan mempelajari nubuatan-nubuatan untuk mendapatkan terang lebih jauh. Kesaksian Alkitab yang mendukung posisi mereka tampak jelas dan meyakinkan. Tanda-tanda yang tidak bisa salah menunjukkan kedatangan Kristus sebagai sudah dekat. Berkat khusus dari Tuhan, baik dalam pertobatan orang-orang berdosa maupun kebangunan kehidupan kerohanian orang-orang Kristen, telah menyaksikan bahwa pekabaran itu datangnya dari Surga. Dan walaupun orang-orang percaya itu tidak dapat menerangkan kekecewaan mereka, mereka merasa yakin bahwa Allah telah menutnun mereka dalam pengalaman-pengalaman masa lalu.[5]

            Beralih kepada pekabaran yang dikirim dari Surga di atas tembok itu, nabi itu membaca, "MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN." Tangan yang telah menuliskan huruf-huruf itu tidak lagi kelihatan, tetapi keempat kata ini masih tetap bersinar dengan jelas dan mengerikan; dan kini dengan menahan nafas orang banyak itu mendengarkan ketika nabi yang sudah tua ia memaklumkan:

"Inilah makna perkataan itu: MENE; masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri; TEKEL; tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan; PERES; kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia."[6]

            Kata, “MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN, terdapat dalam kitab Daniel 5:25, 26.  Yang ditulis oleh tangan yang menulis di dinding, saat orang-orang Kasdim memperlakukan peralatan-peralatan bait suci dengan tidak hormat.  Kutuk Tuhan

menjadi bagian orang-orang yang memperlakukan Tuhan dengan tidak hormat.

Identifikasi Masalah

Dari latar belakang masalah yang telah dijabarkan oleh penulis, penulis megidentifikasikan masalah sebagai berikut:

1.     Apa bahasa asli dari kata “MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN?

2.     Mengapa raja Belsyazar tidak mengerti kata “MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN?

3.     Apa Aplikasi dari kisah dalam Daniel 5?

Tujuan Penelitian

            Dari Identifikasi Masalah yang telah dijabarkan oleh penulis, penulis memiliki tujuan, yaitu:

1.     Mencari tahu apa bahasa asli dari kata “MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN.

2.     Mencari tahu mengapa raja Belsyazar tidak mengerti kata “MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN.

3.     Mencari tahu aplikasi dari Daniel 5.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Bahasa Asli dari Kata “MENE, MENE

TEKEL, UFARSIN”

            Frasa "tulisan di dinding" sudah menjadi frasa yang umum untuk mengatakan tentang suatu kejatuhan yang sudah pasti, baik kejatuhan seorang tokoh, organisasi, maupun aktivitas. Kemampuan seseorang untuk "membaca tulisan di dinding" melambangkan kemampuan seseorang untuk melihat ke depan (tidak selalu dalam arti supranatural) suatu penurunan, bahkan kejatuhan, yang sudah tidak dapat dihindarkan lagi. Mene, mene tekel ufarsin (bahasa Ibrani: מנא ,מנא, תקל, ופרסין - Mene, Mene, Tekel u-Pharsin) merupakan bahasa Aram untuk satuan uang: MENE, satu mina,

TEKEL, satu syikal, PERES, setengah mina. [7]

Terjemahan Alkitab Lain

            Untuk mengetahui lebih dalam makna kata “MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN”, maka penulis mencari terjemahan dari Alkitab lain, diantaranya

1.     New International Version

"This is the inscription that was written: mene, mene, tekel, parsin

2.     New Living Translation

"This is the message that was written: MENE, MENE, TEKEL, and PARSIN.

3.     English Standard Version

And this is the writing that was inscribed: MENE, MENE, TEKEL, and PARSIN.

4.     New American Standard Bible

"Now this is the inscription that was written out: 'MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.'

5.     King James Bible

And this is the writing that was written, MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.

6.     Holman Christian Standard Bible

This is the writing that was inscribed: MENE, MENE, TEKEL, PARSIN.

7.     International Standard Version

This is the written inscription: MENE, MENE, TEKEL AND PARSIN

8.     NET Bible

"This is the writing that was inscribed: MENE, MENE, TEQEL, and PHARSIN.

9.     GOD'S WORD® Translation

This is what has been written: Numbered, Numbered, Weighed, and Divided.

10.  JPS Tanakh 1917

And this is the writing that was inscribed: MENE MENE, TEKEL UPHARSIN.

11.  New American Standard 1977

“Now this is the inscription that was written out: ‘MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.’

12.  Jubilee Bible 2000

And the writing that he sculpted is, MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.

13.  King James 2000 Bible

And this is the writing that was written, MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.

14.  American King James Version

And this is the writing that was written, MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.

15.  American Standard Version

And this is the writing that was inscribed: MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.

16.  Douay-Rheims Bible

And this is the writing that is written: MANE, THECEL, PHARES.

17.  Darby Bible Translation

And this is the writing that is written: MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.

18.  English Revised Version

And this is the writing that was inscribed, MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.

19.  Webster's Bible Translation

And this is the writing that was written, MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.

20.  World English Bible

This is the writing that was inscribed: MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.

21.  Young's Literal Translation

and this is the writing that is noted down: Numbered, Numbered, Weighed, and Divided.

Dari semua terjemahan, ada 2 terjemahan yang menggunakan kata yang berbeda, yang diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Inggris, yaitu: Numbered, Numbered, Weighed, and Divided. Atau dalam bahasa Indonesianya adalah “Dihitung, dihitung, ditimbang, dan dibagi. Sedangkan Alkitab terjemahan yang lain tetap

menggunakan, “MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN” atau sedikit kata yang berbeda.

Mengapa Belsyazar Tidak Mengerti
kata “MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN?

            Tulisan tak terbaca yang ada didinding istana itu menggelisahkan raja sehingga ia memerintahkan kepada seluruh ahli dan orang-orang pandai di Babel untuk membaca tulisan itu dan memberikan artinya. Tulisan itu berasal dari Allah dan tidak dituliskan dalam bahasa yang dimengerti oleh orang-orang Kasdim bahkan oleh orang-orang pandai. Oleh karena tulisan di dinding itu berasal dari Allah maka hanya Allah saja yang dapat menyingkapkan apa makna tulisan tersebut. Kemisterian tulisan itu, karena tidak ada yang bisa membaca dan mengartikannya memberikan terror kepada Raja Belsyazar. Ia dilanda suatu ketakutan yang amat sangat karena tulisan itu muncul secara supra alamiah, tidak dituliskan oleh manusia tetapi dituliskan oleh sebuah tangan tanpa orangnya kelihatan.  Belsyazar merasakan kesalahan ada pada dirinya berhubungan dengan perkakas-perkakas Bait Allah Israel yang digunakannya secara tidak senonoh.  Ketakutan yang amat sangat itu muncul begitu kuat karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya padahal “hukuman” itu sudah tertera didinding tanpa ia mengerti apa artinya.[8] Bahasa Belsyazar sendiri yang telah digunakan oleh Allah, yaitu bahasa orang Kasdim, tapi Belsyazar tidak mengerti akan maksud tulisan yang ditulis oleh tangan yang tiba-tiba muncul itu. Dapat dikatakan bahwa itu adalah bahasa sandi, atau bahkan frasa, yang memiliki makna lain dibalik kata yang digunakan. Sehingga Alkitab terjemahan lain juga menerjemahkannya dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti secara literal, “dihitung, dihitung, ditimbang dan dibagi.” Kata-kata yang tentunya tidak dapat dimengerti apabila diartikan secara literal. Hanya orang berhikmat yang memiliki kebijaksanaan seperti Daniel lah, yang dapat mengartikannya. Itu semua karena kedekatan Daniel dengan Tuhan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Aplikasi dari Kata

 “MENE, MENE, TEKEL UFARSIN”

                       

Melalui kebodohan dan kelemahan Beltsazar, cucu Nebukadnezar, Babel yang sombong segera akan jatuh. Dalam usianya yang muda untuk memegang kekuasaan sebagai raja, Beltsazar dimuliakan dalam kuasanya dan mengangkat hatinya melawan Allah yang di surga. Banyak kesempatan baginya untuk mengetahui kehendak Ilahi dan untuk mengerti tanggung jawabnya menunjukkan penurutan ketika itu. Ia telah mengetahui pembuangan kakeknya, oleh perintah Allah, dari masyarakat manusia; dan ia telah memaklumi pertobatan dan pemulihan ajaib Nebukadnezar. Tetapi Beltsazar membiarkan kasih akan kesenangan dan meninggikan diri menghapus pelajaran-pelajaran yang seharusnya tidak boleh dilupakannya. Ia menyia-nyiakan kesempatan-kesempatan yang dikaruniakan kepadanya dengan kemurahan, dan lalai menggunakan sarana yang berada dalam jangkauannya supaya dapat berkenalan lebih lengkap dengan kebenaran. Itulah yang pada akhirnya dicapai Nebukadnezar dengan harga penderitaan dan kehinaan yang tak terkatakan, dilalui Beltsazar dengan ketidakacuhan.[9]

Di hadapan orang banyak yang disengat rasa takut, Daniel yang tidak bergerak dengan janji-janji raja itu, berdiri dengan tenang dalam keagungan seorang hamba Yang Mahatinggi, bukan untuk mengucapkan kata-kata memuji diri, melainkan hendak menerangkan pekabaran tentang malapetaka. "Tahanlah hadiah tuanku," katanya, "berikanlah pemberian tuanku kepada orang lain; namun demikian, aku akan membaca tulisan itu bagi raja dan memberitahukan maknanya kepada tuanku."

 

Mula-mula nabi itu memperingatkan Beltsazar tentang hal-hal yang ia telah maklumi, tetapi hal-hal itu tidak mengajari dia pelajaran tentang kerendahan hati yang dapat menyelamatkannya. Ia menceritakan tentang dosa dan kejatuhan Nebukadnezar, dan tentang hubungan Tuhan dengan dia--kekuasaan dan kemuliaan yang dikaruniakan kepadanya, pehukuman Ilahi atas kesombongannya, dan pengakuannya untuk takluk terhadap kuasa dan rahmat Allah Israel; kemudian dengan kata-kata yang berani dan tegas ia menegur Beltsazar karena kejahatannya yang besar. Ia menekankan dosa raja itu di hadapannya, menunjukkan kepadanya pelajaran yang dapat dipelajarinya tetapi tidak dipelajarinya. Beltsazar tidak membaca dengan betul pengalaman kakeknya, bahkan juga tidak menghiraukan amaran peristiwa-peristiwa yang begitu penting baginya sendiri. Kesempatan untuk mengenal dan menurut Allah yang benar telah diberikan kepadanya, tetapi tidak dimasukkan ke dalam hati, dan ia sudah hendak menyabit akibat pemberontakannya.[10]

Melihat kedua keadaan ini, umat-umat Tuhan dapat melihat perbedaan antara Daniel dengan Belsyazar. Daniel yang selalu mendekat dengan Tuhan, dan Belsyazar yang sudah jauh dari Tuhan. Daniel yang selalu beribadah dan berdoa kepada Tuhan dan Belzyazar yang selalu meninggikan diri. Umat-umat Tuhan dipanggil untuk menjadi seorang yang selalu mendekatkan diri dengan Tuhan, bukan malah menjauh dari Tuhan. Sehingga mengerti dan peka apa maksud-maksud rencana Tuhan dalam kehidupan umat-umat Tuhan. Sehingga umat-umat Tuhan mengerti makna pekabaran atau perintah Tuhan kepada manusia, baik melalui Alkitab dan lain-lainnya.

 

 

 

 

 

                                          



[1]Ellen G. White, Sejarah Para Nabi (Bandung: Indonesia Publishing House, 1994), 76.

[2]Ellen G. White, Para Nabi dan Raja (Bandung: Indonesia Publishing House,1999), 92

 

[3]Ellen G. White, Kerinduan Segala Zaman (Bandung: Indonesia Publishing House, 1999), 29.

[4]Ellen G. White, Kisah Para Rasul (Bandung: Indonesia Publishing House, 1999),  162.

 

[5]Ellen G. White, Kemenangan Akhir (Bandung: Indonesia Publishing House, 1999), 409.

[6]Ellen G. White, Para Nabi dan Raja (Bandung: Indonesia Publishing House, 1999), 135.

[7]Wikimedia, “MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN”, Wikipedia: 1[Journal on-line]; available from https://id.wikipedia.org/wiki/Tulisan_di_dinding; Internet; accessed 2 May 2016.

[8]Wikimedia, “Studi Alkitab”,Wanta Sinurat: 1[Journal on-line]; http://www.studialkitab.com/2009/11/tulisan-di-dinding-daniel-51-30.html; Internet; accessed 2 May 2016.

[9]Ellen G. White, Para Nabi dan Raja (Bandung: Indonesia Publishing House, 1999), 130.

 

[10]Ibid.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WAHYU 11:3,4

makalah kejadian 4:5 Pemahaman Tuhan mengindahkan Persembahan Habel dan tidak mengindahkan persembahan Kain

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang masalah      Dalam   kejadian 1:1-31; 2:1-20 Tuhan menciptakan Bumi dengan keadaan ...