BAB I
PENDAHULUAN
Latar
Belakang Masalah
Mereka yang takut akan Tuhan berseru
kepada Nya agar segera turun tangan. "Lalu turunlah Tuhan untuk melihat
kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu." Di dalam
rahmat kepada dunia ini, Ia telah menggagalkan maksud tujuan pembangun
pembangun menara itu, dan menghancurkan tugu peringatan pemberontakan mereka.
Di dalam kemurahan Nya Ia telah mengacaukan bahasa mereka, dengan demikian
menghentikan rencana pemberontakan mereka. Tuhan bersikap panjang sabar
terhadap kejatuhan manusia, dengan memberikan kepada mereka kesempatan yang
cukup untuk bertobat; tetapi Ia memperhatikan segala usaha mereka untuk
menentang kekuasaan hukum Nya yang adil dan suci itu. Dari waktu ke waktu
tangan yang tidak terlihat itu, yang memegang tongkat pemerintahan diulurkan
untuk membendung kejahatan. Bukti yang nyata telah diberikan bahwa Khalik
semesta alam, Seorang yang tidak terbatas dalam kebijaksanaan, kasih dan
kebenaran, adalah Pemerintah surga dan dunia, dan bahwa tidak seorang pun dapat
menghinakan kekuasaan Nya tanpa menerima hukuman.[1]
Di antara mereka yang mempertahankan
kesetiaan mereka kepada Allah adalah Daniel dan tiga temannya--contoh gambaran
akan menjadi apa manusia-manusia itu, yaitu yang bersatu dengan Allah dalam hal
hikmat dan kuasa. Dari rumah tangga Yahudi yang boleh dikatakan sederhana,
orang-orang muda yang berasal dari keturunan bangsawan ini telah dibawa ke
kota-kota yang paling besar dan ke istana raja dunia yang terbesar.
Nebukadnezar "bertitah kepada Aspenas, kepala istananya, untuk membawa
beberapa orang Israel, yang berasal dari keturunan raja, dan dari kaum
bangsawan; yakni orang-orang muda yang tidak ada sesuatu cela, yang
berperawakan baik, yang memahami berbagai-bagai hikmat, berpengetahuan banyak,
dan yang mempunyai pengertian tentang ilmu, yakni orang-orang yang cakap untuk bekerja
dalam istana raja. [2]
Karena bangsa Yahudi telah
meninggalkan Allah, iman sudah makin pudar, dan pengharapan telah hampir
berhenti menerangi hari kemudian. Perkataan nabi nabi tidak dimengerti. Bagi
khalayak ramai, kematian adalah suatu rahasia yang mengerikan; di seberang kematian
itu tidak ada kepastian, hanya kegelapan belaka.[3]
Orang orang kafir, khususnya orang
orang Yunani, adalah sangat tidak bermoral, dan ini berbahaya karena banyak
orang yang belum bertobat di dalam hati, yang akan digolongkan sebagai orang
orang beriman tanpa membuang terlebih dulu praktik praktik kejahatan mereka.
Orang orang Yahudi tidak akan sabar menghadapi pelanggaran susila yang juga
tidak dianggap sebagai kejahatan oleh penyembah berhala. Bagi orang orang
Yahudi sunat adalah suatu hal yang patut ditinggikan dan memelihara upacara
upacara hukum ada kaitannya dengan pertobatan orang kafir yang dianggap sebagai
suatu ujian terhadap kesungguhan dan ketekunan mereka. Mereka mempercayai akan
hal ini untuk menghindarkan pertambahan mereka kepada jemaat yang mengaku
beriman tanpa ada pertobatan yang benar di dalam hati, yang kemudian boleh jadi
membawa celaan terhadap pekerjaan itu oleh pelanggaran moral dan perbuatan yang
berlebihan.[4]
Sementara dunia ini menganggap
mereka telah kalah telak dan terbukti menjadi korban penipuan, sumber
konsolidasi mereka masih tetap firman Allah.
Banyak yang terus menyelidiki Alkitab, memeriksa kembali tanda-tanda dan
bukti-bukti iman mereka, dan dengan seksama menyelidiki dan mempelajari
nubuatan-nubuatan untuk mendapatkan terang lebih jauh. Kesaksian Alkitab yang
mendukung posisi mereka tampak jelas dan meyakinkan. Tanda-tanda yang tidak
bisa salah menunjukkan kedatangan Kristus sebagai sudah dekat. Berkat khusus
dari Tuhan, baik dalam pertobatan orang-orang berdosa maupun kebangunan
kehidupan kerohanian orang-orang Kristen, telah menyaksikan bahwa pekabaran itu
datangnya dari Surga. Dan walaupun orang-orang percaya itu tidak dapat
menerangkan kekecewaan mereka, mereka merasa yakin bahwa Allah telah menutnun
mereka dalam pengalaman-pengalaman masa lalu.[5]
Beralih kepada pekabaran yang
dikirim dari Surga di atas tembok itu, nabi itu membaca, "MENE, MENE,
TEKEL, UFARSIN." Tangan yang telah menuliskan huruf-huruf itu tidak lagi
kelihatan, tetapi keempat kata ini masih tetap bersinar dengan jelas dan
mengerikan; dan kini dengan menahan nafas orang banyak itu mendengarkan ketika
nabi yang sudah tua ia memaklumkan:
"Inilah
makna perkataan itu: MENE; masa pemerintahan tuanku dihitung oleh Allah dan
telah diakhiri; TEKEL; tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu
ringan; PERES; kerajaan tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan
Persia."[6]
Kata, “MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN,
terdapat dalam kitab Daniel 5:25, 26.
Yang ditulis oleh tangan yang menulis di dinding, saat orang-orang
Kasdim memperlakukan peralatan-peralatan bait suci dengan tidak hormat. Kutuk Tuhan
menjadi
bagian orang-orang yang memperlakukan Tuhan dengan tidak hormat.
Identifikasi
Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah dijabarkan oleh
penulis, penulis megidentifikasikan masalah sebagai berikut:
1.
Apa bahasa asli dari kata “MENE,
MENE, TEKEL, UFARSIN?
2.
Mengapa raja Belsyazar tidak
mengerti kata “MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN?
3.
Apa Aplikasi dari kisah dalam
Daniel 5?
Tujuan
Penelitian
Dari Identifikasi Masalah yang telah
dijabarkan oleh penulis, penulis memiliki tujuan, yaitu:
1.
Mencari tahu apa bahasa asli dari
kata “MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN.
2. Mencari tahu mengapa raja Belsyazar tidak mengerti kata “MENE, MENE,
TEKEL, UFARSIN.
3.
Mencari tahu aplikasi dari Daniel
5.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Bahasa
Asli dari Kata “MENE, MENE
TEKEL,
UFARSIN”
Frasa "tulisan di dinding"
sudah menjadi frasa yang umum untuk mengatakan tentang suatu kejatuhan yang
sudah pasti, baik kejatuhan seorang tokoh, organisasi, maupun aktivitas.
Kemampuan seseorang untuk "membaca tulisan di dinding" melambangkan
kemampuan seseorang untuk melihat ke depan (tidak selalu dalam arti
supranatural) suatu penurunan, bahkan kejatuhan, yang sudah tidak dapat
dihindarkan lagi. Mene, mene tekel ufarsin (bahasa Ibrani: מנא ,מנא, תקל, ופרסין
- Mene, Mene, Tekel u-Pharsin) merupakan bahasa Aram untuk satuan uang: MENE,
satu mina,
TEKEL,
satu syikal, PERES, setengah mina. [7]
Terjemahan
Alkitab Lain
Untuk mengetahui lebih dalam makna
kata “MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN”, maka penulis mencari terjemahan dari Alkitab
lain, diantaranya
1.
New International Version
"This
is the inscription that was written: mene, mene, tekel, parsin
2.
New Living Translation
"This
is the message that was written: MENE, MENE, TEKEL, and PARSIN.
3.
English Standard Version
And
this is the writing that was inscribed: MENE, MENE, TEKEL, and PARSIN.
4.
New American Standard Bible
"Now
this is the inscription that was written out: 'MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.'
5.
King James Bible
And
this is the writing that was written, MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.
6.
Holman Christian Standard Bible
This
is the writing that was inscribed: MENE, MENE, TEKEL, PARSIN.
7.
International Standard Version
This
is the written inscription: MENE, MENE, TEKEL AND PARSIN
8.
NET Bible
"This
is the writing that was inscribed: MENE, MENE, TEQEL, and PHARSIN.
9.
GOD'S WORD® Translation
This
is what has been written: Numbered, Numbered, Weighed, and Divided.
10.
JPS Tanakh 1917
And
this is the writing that was inscribed: MENE MENE, TEKEL UPHARSIN.
11.
New American Standard 1977
“Now
this is the inscription that was written out: ‘MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.’
12.
Jubilee Bible 2000
And
the writing that he sculpted is, MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.
13.
King James 2000 Bible
And
this is the writing that was written, MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.
14.
American King James Version
And
this is the writing that was written, MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.
15.
American Standard Version
And
this is the writing that was inscribed: MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.
16.
Douay-Rheims Bible
And
this is the writing that is written: MANE, THECEL, PHARES.
17.
Darby Bible Translation
And
this is the writing that is written: MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.
18.
English Revised Version
And
this is the writing that was inscribed, MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.
19.
Webster's Bible Translation
And
this is the writing that was written, MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.
20.
World English Bible
This
is the writing that was inscribed: MENE, MENE, TEKEL, UPHARSIN.
21.
Young's Literal Translation
and this
is the writing that is noted down: Numbered, Numbered, Weighed, and Divided.
Dari semua terjemahan, ada 2 terjemahan yang menggunakan
kata yang berbeda, yang diterjemahkan langsung ke dalam bahasa Inggris, yaitu: Numbered, Numbered, Weighed, and Divided.
Atau dalam bahasa Indonesianya adalah “Dihitung, dihitung, ditimbang, dan
dibagi. Sedangkan Alkitab terjemahan yang lain tetap
menggunakan,
“MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN” atau sedikit kata yang berbeda.
Mengapa
Belsyazar Tidak Mengerti
kata “MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN?
Tulisan tak terbaca yang ada
didinding istana itu menggelisahkan raja sehingga ia memerintahkan kepada
seluruh ahli dan orang-orang pandai di Babel untuk membaca tulisan itu dan
memberikan artinya. Tulisan itu berasal dari Allah dan tidak dituliskan dalam
bahasa yang dimengerti oleh orang-orang Kasdim bahkan oleh orang-orang pandai.
Oleh karena tulisan di dinding itu berasal dari Allah maka hanya Allah saja
yang dapat menyingkapkan apa makna tulisan tersebut. Kemisterian tulisan itu,
karena tidak ada yang bisa membaca dan mengartikannya memberikan terror kepada
Raja Belsyazar. Ia dilanda suatu ketakutan yang amat sangat karena tulisan itu
muncul secara supra alamiah, tidak dituliskan oleh manusia tetapi dituliskan
oleh sebuah tangan tanpa orangnya kelihatan. Belsyazar merasakan kesalahan ada pada dirinya
berhubungan dengan perkakas-perkakas Bait Allah Israel yang digunakannya secara
tidak senonoh. Ketakutan yang amat
sangat itu muncul begitu kuat karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi
padanya padahal “hukuman” itu sudah tertera didinding tanpa ia mengerti apa
artinya.[8]
Bahasa Belsyazar sendiri yang telah digunakan oleh Allah, yaitu bahasa orang
Kasdim, tapi Belsyazar tidak mengerti akan maksud tulisan yang ditulis oleh
tangan yang tiba-tiba muncul itu. Dapat dikatakan bahwa itu adalah bahasa
sandi, atau bahkan frasa, yang memiliki makna lain dibalik kata yang digunakan.
Sehingga Alkitab terjemahan lain juga menerjemahkannya dengan bahasa yang tidak
dapat dimengerti secara literal, “dihitung, dihitung, ditimbang dan dibagi.”
Kata-kata yang tentunya tidak dapat dimengerti apabila diartikan secara
literal. Hanya orang berhikmat yang memiliki kebijaksanaan seperti Daniel lah,
yang dapat mengartikannya. Itu semua karena kedekatan Daniel dengan Tuhan.
BAB III
KESIMPULAN
Aplikasi
dari Kata
“MENE, MENE, TEKEL UFARSIN”
Melalui kebodohan dan kelemahan Beltsazar, cucu
Nebukadnezar, Babel yang sombong segera akan jatuh. Dalam usianya yang muda
untuk memegang kekuasaan sebagai raja, Beltsazar dimuliakan dalam kuasanya dan
mengangkat hatinya melawan Allah yang di surga. Banyak kesempatan baginya untuk
mengetahui kehendak Ilahi dan untuk mengerti tanggung jawabnya menunjukkan
penurutan ketika itu. Ia telah mengetahui pembuangan kakeknya, oleh perintah
Allah, dari masyarakat manusia; dan ia telah memaklumi pertobatan dan pemulihan
ajaib Nebukadnezar. Tetapi Beltsazar membiarkan kasih akan kesenangan dan
meninggikan diri menghapus pelajaran-pelajaran yang seharusnya tidak boleh
dilupakannya. Ia menyia-nyiakan kesempatan-kesempatan yang dikaruniakan
kepadanya dengan kemurahan, dan lalai menggunakan sarana yang berada dalam
jangkauannya supaya dapat berkenalan lebih lengkap dengan kebenaran. Itulah
yang pada akhirnya dicapai Nebukadnezar dengan harga penderitaan dan kehinaan
yang tak terkatakan, dilalui Beltsazar dengan ketidakacuhan.[9]
Di hadapan orang banyak yang disengat rasa takut, Daniel
yang tidak bergerak dengan janji-janji raja itu, berdiri dengan tenang dalam
keagungan seorang hamba Yang Mahatinggi, bukan untuk mengucapkan kata-kata memuji
diri, melainkan hendak menerangkan pekabaran tentang malapetaka. "Tahanlah
hadiah tuanku," katanya, "berikanlah pemberian tuanku kepada orang
lain; namun demikian, aku akan membaca tulisan itu bagi raja dan memberitahukan
maknanya kepada tuanku."
Mula-mula nabi itu memperingatkan Beltsazar tentang hal-hal
yang ia telah maklumi, tetapi hal-hal itu tidak mengajari dia pelajaran tentang
kerendahan hati yang dapat menyelamatkannya. Ia menceritakan tentang dosa dan
kejatuhan Nebukadnezar, dan tentang hubungan Tuhan dengan dia--kekuasaan dan
kemuliaan yang dikaruniakan kepadanya, pehukuman Ilahi atas kesombongannya, dan
pengakuannya untuk takluk terhadap kuasa dan rahmat Allah Israel; kemudian
dengan kata-kata yang berani dan tegas ia menegur Beltsazar karena kejahatannya
yang besar. Ia menekankan dosa raja itu di hadapannya, menunjukkan kepadanya
pelajaran yang dapat dipelajarinya tetapi tidak dipelajarinya. Beltsazar tidak
membaca dengan betul pengalaman kakeknya, bahkan juga tidak menghiraukan amaran
peristiwa-peristiwa yang begitu penting baginya sendiri. Kesempatan untuk
mengenal dan menurut Allah yang benar telah diberikan kepadanya, tetapi tidak
dimasukkan ke dalam hati, dan ia sudah hendak menyabit akibat pemberontakannya.[10]
Melihat kedua keadaan ini, umat-umat Tuhan dapat melihat
perbedaan antara Daniel dengan Belsyazar. Daniel yang selalu mendekat dengan
Tuhan, dan Belsyazar yang sudah jauh dari Tuhan. Daniel yang selalu beribadah
dan berdoa kepada Tuhan dan Belzyazar yang selalu meninggikan diri. Umat-umat
Tuhan dipanggil untuk menjadi seorang yang selalu mendekatkan diri dengan
Tuhan, bukan malah menjauh dari Tuhan. Sehingga mengerti dan peka apa
maksud-maksud rencana Tuhan dalam kehidupan umat-umat Tuhan. Sehingga umat-umat
Tuhan mengerti makna pekabaran atau perintah Tuhan kepada manusia, baik melalui
Alkitab dan lain-lainnya.
[1]Ellen G. White, Sejarah Para Nabi (Bandung: Indonesia Publishing House, 1994), 76.
[2]Ellen G. White, Para Nabi dan Raja (Bandung: Indonesia Publishing House,1999), 92
[4]Ellen G. White, Kisah Para Rasul (Bandung: Indonesia Publishing House, 1999), 162.
[5]Ellen G. White, Kemenangan Akhir (Bandung: Indonesia Publishing House, 1999), 409.
[6]Ellen G. White, Para Nabi dan Raja (Bandung: Indonesia Publishing House, 1999),
135.
[7]Wikimedia, “MENE, MENE, TEKEL, UFARSIN”,
Wikipedia: 1[Journal on-line]; available from https://id.wikipedia.org/wiki/Tulisan_di_dinding;
Internet; accessed 2 May 2016.
[8]Wikimedia, “Studi Alkitab”,Wanta Sinurat:
1[Journal on-line]; http://www.studialkitab.com/2009/11/tulisan-di-dinding-daniel-51-30.html;
Internet; accessed 2 May 2016.
[9]Ellen G. White, Para Nabi dan Raja (Bandung: Indonesia Publishing House, 1999),
130.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar